JEJAK (8)




Di Maghilewa
Kita pernah menghitung
Sejuta bintang di langit
Berangan-angan memetiknya
Menjadi  hadiah terindah
Bagi orang-orang tangguh
Yang telah menghadirkan kita
Tanpa satupun cacatan
Bahwa suatu ketika
Pengorbanan mereka harus dibayar lunas

Di Maghilewa
Kita telah tumbuh menjadi anak baja
Yang siap berkelana
Sambil menitip cinta
Di ubun-ubun perempuan
Dengan bisikan lembut
Tunggu aku di kaki gunung
Karena  aku pasti pulang
Menenun sarang  di tanah sendiri
Kitapun pulang
Tapi tidak untuk  membangun istana
Karena  sukma kita  sudah dijerat
Oleh ketulusan tanah seberang

Di Maghilewa
Aku selalu menitip rindu
Pada orang-orang yang pergi
Menitip air mata
Di atas pusara tanah leluhur
Rindu mengalung tasbih
Di  jemari  mereka yang terus menanti
Kapan kita pulang
Meski sekedar  singgah sejenak
Di Maghilewa  cinta tak pernah mati
Di Maghilewa aku terus berharap
Memeluk mereka dalam mimpi malam ini.***

Denpasar, 13 Juli 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU