JEJAK (5)
Di Maghilewa
Kita pernah menangis
Saat tiang-tiang cinta
Terpental dari kehidupan
Pergi ke pelukan leluhur
Tanpa kita saksikan
Bersatu dengan ibu bumi
Tanpa sentuhan jemarimu
Dan jemariku
Di Maghilewa
Mereka semua tidur abadi
Menunggu anak cucunya datang
Membawa haruman lilin putih
Dan mendaraskan kata doa
Untuk keselamatan
Untuk istirahat kekal
Kekal dan abadi
Di Maghilewa
Kisah kehidupan tak akan lapuk
Terwariskan di jenang pintu rumah
adat
Agar setiap kali keluar atau masuk
Anak cucu mendaraskan lagi
Sambil mengepalkan tangan
Berteriak: Aku anak kampung ini!
Selamanya jiwaku bertahta di sini
Meski ragaku melanglang dimana-mana
Bahkan tidur abadi di
pengasingan.***
Denpasar, 7 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar