JALANMU MASIH TERJAL
Jalanmu masih terjal
Bahkan mulai dari
kilometer nol lagi
Meski jalan yang sama
telah engkau retas
Di rentang waktu lima
tahun
Engkau masih mendaki
bukit
Dan menuruni jurang
Masih mengitari lereng
bukit
Menyusuri pasir pantai
Menghitung masih adakah kemiskinan
Di tanah yang engkau
telah menggemburnya
Dan telah engkau tebarkan bibit
Lima tahun sebelum kau nahkodai lagi
Kapal Ngada yang harus
tetap berlayar
Jalanmu belum mulus
Masih penuh lubang
menganga
Yang siap menelanmu
Jika engkau lupa
mendengar
Kokok ayam hutan di pagi buta
Dan lolong anjing di
ujung senja
Ingatlah bahwa engkau
masih melangkah
Tidak pada tanah datar
Dan masih penuh bertebar
kerikil tajam
Meski suhu
panas dari langit Ngada
Telah berakhir setelah
turunnya hujan perdamaian
Di tempat persembunyian
Seribu pasang mata siap
menerkam
Setiap ayunan langkahmu
Di kiri kanan ruas jalan yang kau lewati
Mahluk-mahluk tak
berujud selalu menggodamu
Agar kau tak menempuh jalan lurus
Dan agar kau mencari
jalan pintas
Lalu mereka akan keluar
dari persembunyian
Dan berteriak:
Penjarakan dia!
Jalanmu lima tahun ke depan
Bukan bentangan batangan emas
Engkau akan didatangi
para tamu malam
Yang menagih imbalan
Atas butir-butir
keringat saat pesta
Yang telah mereka
curahkan
Atau pengkhianat-pengkhianatmu
Akan mengaku sebagai
pejuang sejati
Dan minta engkau menaruh
kasih
Di atas pinggan yang
menjadi bagiannya
Itulah jalanmu lima
tahun ke depan
Yang pasti kau lalui
Aku akan mengikutimu
jalan ziarahmu
Pada setiap detak jantung dan lintasannya
Aku akan menombakmu dengan segenggam kata
Bila matahati mampu menangkap
Langkahmu tidak mulus lagi
Karena aku ingin engkau mengakhiri pengabdian
Cukup dengan mewariskan
kisah abadi
Nama baik dan nama besar
Dan orang sulit
menghapus jejakmu
Dari kehidupannya dan
keturunannya
Selamat mengabdi
MULUS.***
Denpasar, 17 Pebruari
2016
Komentar
Posting Komentar