DENGARLAH SUARA KAMI
Kami bukan binatang jalang
Berlari di padang hijau tanpa arah
Bercermin di kubangan lumpur
Tanpa mengenal wajah
Kami bukan daun-daun kering
Yang gugur di musim kemarau
Dan diterbangkan angin
Dipermainkan badai dan
taufan
Kami bukan potongan-potong kayu kering
Yang harus dibakar di perapian
Demi kehangatan sang kekuasaan
Tidak, kami bukan budak belian
Yang saat matahari membara
Kau boleh biarkan kami terpanggang
Layu terkulai tanpa daya
Dan kau menerkam dengan mata awas
Menghadang setiap langkah
Saat kami ingin meradang
Dan menerjang kelaliman
Karena nurani kami semakin dilaknat
Oleh pengkhianatan kepada
semesta rakyat
Kami bukan bongkahan batu gunung
Yang selalu patuh diam
dan membisu
Kami bukan batu karang pantai
Yang selalu bisa tahan
disapu gelombang
Kami bukan orang-orang mati
Yang terbujur kaku di pengusungan
Dan tak berontak ketika dikuburkan
Kami ini satu tubuh dan
jiwa
Hidup dengan mimpi masa depan
Tentang negeri yang kami tinggal
Negeri yang berharga dan bermartabat
Tanpa titik-titik noda
Kamu para pemimpinku
Dengarlah sejuta suara kami
Yang terus bergaung di angkasa
Dan menyusup ke tulang belulangmu
Kamu jangan tutup telinga
Jangan pura-pura pekak
Dengarlah suara kami
Generasi yang lahir setelah perang
Yang akan memanggul
Tiang-tiang penyanggah negeri
Setelah masa pengabdianmu usai
Kami yang akan membawa negeri ini
Ke masa depan tanpa air mata
Tanpa keculasan
Tanpa kerakusan
Tanpa penindasan
Tanpa jeritan orang-orang miskin
Kami generasi masa kini
Masih punya cita-cita murni
Dan kesetiaan yang bisa dipercaya
Dengarlah suara kami
Suara orang muda Indonesia.***
Jember, 28 Oktober 1984
Komentar
Posting Komentar