DEMOKRASI PARA PENDAGEL



Kami ini rakyat yang mulai lelah
Menonton opera yang dipentaskan di trotoar ibukota
Dimainkan oleh aktor-aktor pesohor
Yang kesohorannya menyelubungi langit Nusantara
Karena wajah mereka sering tampil di televisi
Menghibur rakyat yang belajar menahan lapar 
Meninabobo rakyat yang selalu dibayang-bayang
Kapan pondok reot di tepi kali
Akan digusur penguasa

Kami mau muak tapi percuma
Karena pemain opera punya koper uang
Yang bisa membayar semua stasiun televisi
Untuk menayangkan dagelan-dagelan segar
Membuat rakyat tertawa terbahak-bahak
Sambil meremas ulu hatinya yang kesakitan
Sebab hanya diisi sepotong singkong
Dan air putih kemasan dari gunung
Lalu esok harinya ia terbujur kaku
Mati karena kurang gizi

Kursi-kursi di negeri kami semakin mahal
Tak semua orang bisa membelinya
Yang jujur dan bermoral tergusur tak berdaya
Karena tak bisa membagi angpao
Kepada mereka yang menggadai nuraninya
Dan para pendagel yang kaya raya
Menjadi pilihan sejuta rakyat
Meski mereka bodoh dan tak punya moral
Karena sejuta rakyat yang tak punya nurani
Silau oleh lembar rupiah dan syair lagu yang dimainkan
Mereka melacuri demokrasi jiwa raganya

Negeri ini mungkin akan dinahkodai
Oleh pesohor-pesohor ibukota
Dan rakyat akan dihibur dengan sinetron cinta
Atau disusui dengan alunan lagu kemesraan
Dikenyangkan dengan hentak musik malam
Dan rakyat pulas tanpa sadar
Lima tahun berlalu tanpa dapat apa-apa
Omong kosong pesohor mengubah ibukota
Menghentikan banjir cuma setahun

Oh....kau yang tak sadar
Bahwa rakyat menertawakan dagelanmu
Sudahlah, hentikan membodohi rakyat
Karena kami sudah terbiasa 
Dengan janji-janji palsu
Yang tak pernah tuntas ditepati.***

Denpasar, 16 Pebruari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU