DASI DI TEMPAT SAMPAH


Cerpen: Agust G Thuru 

Hasil gambar untuk DASI

Sesungguhnya aku mengenalnya secara kebetulan saja. Ketika musim kampanye di kota tempat aku tinggal sosoknya menjadi sangat kukagumi. Penampilannya  sangat berwibawa. Cara bicaranya santun. Dan ia selalu tampil dengan  pakaian yang rapi. Ia tak mengumbar banyak janji. Ia hanya memberi keyakinan bahwa  ia bukan tipe perampok. Dan yang membuatku selalu ingat pada Bung Ipus adalah dasi yang ia pakai. Warnanya  hitam putih  dan tercantum logo NC.

Aku tidak tahu apa kepanjangan dari logo NC itu. Mungkin  dua kata yang penuh makna baginya tetapi  tetap menjadi misteri bagi publik. Bahkan ketika kami menjadi akrab setelah ia terpilih  duduk di gedung dewan Senayan  ia tetap merahasiakan maksud  dari logo  NC  itu.
“ Ah Bung, tidak penting  you tahu apa maksud dari logo NC itu. Yang penting sekarang aku pejabat publik. Akan kubuktikan kepada konstituen bahwa  aku bisa dipercaya. Janji-janji semasa kampanye akan  kuwujudkan”, ujar Bung Ipus.Ini kata-kata yang ia ungkapkan setiap aku menanyakan maksud dari  logo NC itu. 


Biasa, setiap memulai wawancara dengannya mesti kutanya  maksud dari logo itu. Tetapi  sekian kali  aku bertanya, sekian kali itu pula ia menyembunyikan. Mungkin ia berpikir  bahwa cukup dia yang tahu. Tetapi aku melihat dari rona wajahnya.Ia  sungguh menyimpan rahasia di balik logo itu. Meski kesanku Bung Ipus bisa dipercaya. Ia sosok yang jujur  dan berkomitmen. Aku yakin  apa yang ia janjikan kepada konstituen saat kampanye  akan ia wujudkan. Apa lagi ia pun tak segan-segan meyakinkan kepada para juru tulis tentang komitmennya.
“ Bung sudah tahu siapa  aku ini. Kalau aku merebut posisi kursi wakil rakyat  bukan untuk cari kekayaan. Kalau  hanya karena mau cari kekayaan, enak aku kelola perusahaanku”, ujarnya padaku.
“ Benar Bung Ipus, kurang apa lagi di hidupmu. Istri cantik, rumah mewah lebih dari satu, tanah di mana-mana bahkan di seluruh Bali, punya mobil mewah lebih dari satu, sempurna sudah”, aku berceloteh.

Bung Ipus tertawa. Aku tidak tahu  apa makna tertawanya itu. Apakah ia menertawakan diriku yang memujinya mungkin terlalu berlebihan. Atau mungkin ia tertawa bangga karena yang kukatakan adalah kenyataan dan ia memang memiliki segalanya. Atau mungkin ia tertawa  atas kemenangannya  mengubah  nasib  dari keluarga miskin  menjadi kaya raya. Yah Bung Ipus memang berasal dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah desa terpencil. Tetapi berkat keuletan dan kerja keras Bung Ipus  bisa menempati posisi  sebagai salah satu konglomerat  kaya raya di kotanya. 
 Jadi wajar kalau ia bilang, kalau hanya untuk cari kekayaan di gedung wakil rakyat, mendingan  mengurus perusahaan.
“ Jadi Bung Ipus  menjadi wakil rakyat bukan karena tawaran gaji yang ratusan juta itu?”
“ Betul Bung, bukan tawaran gaji. Bahkan you tahu, tanpa dibayar gaji pun  aku tetap menjadi wakil rakyat.”
“ Yang mau Bung Ipus perjuangkan itu apa?”, tanyaku.
“ Kepentingan rakyat. Aku kasihan  pada rakyat, mereka miskin, hidup di bawah garis kemiskinan. Nah, rakyat perlu wakil yang  terus berteriak tentang  kepentingan mereka. Itu yang mau aku lakukan”.Bung  Ipus menatapku  dengan sorot mata tajam lalu tersenyum. Seperti ia merasa puas dengan ucapannya.

Tapi hampir dua tahun duduk di gedung senayan  sosok Bung Ipus  seolah tenggelam. Ia jarang tampil dan meneriakkan kepentingan  rakyat yang diwakilinya. Ia juga tak seberani yang kuduga  sehingga  antara ucapan-ucapan dan tindakannya  menjadi kenyataan. Tetapi Bung Ipus punya alasan kuat mengapa ia tampak diam  bahkan nyaris tak populer di kalangan para wakil rakyat.
“ Aku berada di posisi yang jauh dengan rakyat. Aku berada di komisi yang hanya membuat peraturan dan undang-undang.Itu tak bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat kecil”.
“ Tapi rakyat perlu aturan, perlu undang-undang”
“ Iyah itu aku tahu. Tapi kiprah kami hanya sampai di ketuk palu menyahkan  atau menolak aturan yang dibuat. Selebihnya  kami ada di gedung dewan sambil menunggu  rapat  dan kemudian reses”.
“ Saat reses pasti ditunggu-tungguh Bung”
“ Oh ya, karena nanti dapat uang reses dan kita bisa bertemu  konstituen dan membagikan angpao”. Kulihat Bung Ipus  tertawa.

Pernah aku mengorek isi hatinya. Sebetulnya Bung Ipus lebih suka  berada di komisi mana. Dan ia jujur mengatakan, kalau boleh memilih lagi, ia pingin duduk di Komisi  yang bisa membuatnya  turun ke lapangan meninjau pembangunan infrastruktur  dan ikut mengurus masala-masalah perhubungan. Ini karena  sebelum ia terpilih sebagai wakil rakyat perusahaannya bergerak di proyek-proyek infrastruktur dan perhubungan. Ia ingin duduk di komisi  yang bisa menjalin kemitraan dengan  Kementerian Pekerjaan Umum, kementerian perhubungan dan badan meteorology dan geofisika. Ia juga ingin bisa bermitra dengan  badan-badan pemerintah dan non pemerintah, badan penanggulangan lumpur Lapindo dan lain-lain. Di tempat-tempat itu  bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat.
“ Jadi di tempat-tempat itulah Bung Ipus bisa berjuang total untuk kepentingan rakyat?”
“ Yah, itu yang kuinginkan. Memperjuangkan kepentingan rakyat, itu kerja luhur  seorang wakil.”
“ Aku kagum pada komitmenmu Bung Ipus. Rakyat memang tidak salah memilihmu sebagai wakilnya.”
“ Oh ya, rakyat memang tidak salah. Bilang mereka, Ipus, wakil mereka yang punya komitmen, berjuang untuk rakyat  dan tetap di pihak rakyat”. Bung Ipus tertawa terbahak-bahak. Ia tampak penuh semangat kalau bicara soal kepentingan rakyat.

Tetapi  satu bulan terakhir ini nama Bung Ipus sontak menjadi bahan omongan. Media cetak dan elektronik maupun media sosial menjadikan  nama Bung Ipus  sebagai  berita  paling hangat  namun tak bermartabat  dan memalukan. Berita yang membuat rakyat tercengang. Berita yang membuat konstituen menepuk dada sambil berbisik, setan  kau. Segala kata sanjung  hilang lenyap. Yang menonjol adalah kata cemooh, kata caci, bahkan kata-kata penghinaan. Bung Ipus  diberi cap garong, pencuri, perampok. Ia dicap manusia muka tebal, berhati setan, tidak tahu malu. Kata pujian berubah menjadi kata cacian. Justru di saat Bung Ipus  dikurung di balik terali penjara. 

Tiba-tiba aku ingat Bung Ipus pada pertemuan terakhi dengannya.Ia memberiku sebuah dasi bertuliskan logo NC. Aku segera mengeluarkan dasi berlogo NC itu dari lemari pakaianku.Kuamati dasi tersebut.Dasi berwarna hitam putih persis seperti hidup pemiliknya, hidup dalam dunia hitam putih.Dan korupsi telah menjadi godaan terberat yang mengalahkan moral Bung Ipus. Janji-janji saat kampanye  bahwa ia akan menjadi wakil yang jujur tinggal  sebatas janji, semanis hati  namun kini berbalik menodai perasaan dan melukai hati rakyat. Bung Ipus tertangkap basah dalam operasi tangkap tangan. Ia tak berkutik, ia tak berdaya.

Dua hari setelah Bung Ipus tertangkap dan diinapkan di  rumah tahanan ia mengirimku pesan singkat.
“ Bung, maaf, aku kalah”
“ Kau pecundang,Bung”
“ Maafkan aku Bung”
“ Sayang sekali, kau telah melukai hati rakyat”
“ Aku bertekad untuk tidak korupsi. Itulah sebabnya pada semua dasiku tertulis logo NC, no corruption.Sekarang  rakyat telah menghukumku sebagai corruptor.”

Aku memutuskan untuk tak membalas  pesan singkatnya. Aku segera menyalakan motor menyusuri jalan kota yang lengang karena ditinggal pemudik. Dan di ujung  jalan  ada tempat pembuangan sampah. Kucampakkan  dasi milik Bung Ipus berlogo NC itu ke dalam bak sampah. Tak lama  dasi itu pasti akan terangkut mobil sampai dan menambah  tumpukan sampah  yang terus membentuk anakan gunung dan menebarkan bauk busuk ke seluruh penjuru kota. Tiba-tiba handphoneku berdering tanda ada pesan singkat masuk.Kubaca pesan itu dari Bung Ipus.Iaminta doa. Dan aku berbisik, maaf Bung, untuk saat ini aku enggan mendoakanmu. Entah sampai kapan.***

Denpasar, 8 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU