CERPEN - 8
Minggu Paskah
Cerpen: Agust G Thuru
Sejak
menikah aku dan istri memiliki kesukaan yang sama. Hampir semua yang ada
dalam diri kami selalu sama. Tapi yang paling menyolok adalah soal ke gereja.
Kami selalu memilih misa pertama dan di gereja yang sama. Juga tempat
duduk selalu di bangku yang sama. Alasannya sederhana. Di gereja ini kami
berpagutan pandang saat aktif sebagai orang muda katolik. Di gereja ini
pula kami menyudahi masa lajang dengan saling menerimakan sakramen perkawinan.
Di gereja itu pula dua anak kami dibaptis. Mungkin karena sederet
nostalgia indah itu yang membuat kami sangat terikat dengan gereja itu.
Kebersamaan
itu tercipta dalam kurun waktu limabelas tahun. Waktu yang tidak pendek. Waktu
yang berjalan dengan selingan warna-warni pengalaman kehidupan. Lembaran
indah perkawinan pun ditutup dengan kematian. Ketika belahan jiwaku harus
mendahuluiku karena Tuhan menjemputnya sekaligus untuk menyudahi
penderitaannya. Kematian, rahmat terbesar yang boleh dialami oleh manusia dan
kali ini oleh Rosa istriku.
Kenangan
terakhir di gereja itu adalah ketika Rosa dalam fisiknya yang lemah usai
dikemoterapi di RSUP Sanglah minta ke gereja. Kami duduk di bangku yang
biasanya kami duduk setiap minggu pagi. Rosa berlutut mengatupkan tangan
dan memejamkan mata. Kami larut dalam doa. Kami minta Tuhan memperlihatkan
mujizat penyembuhan karena kami percaya mujizat masih ada. Kulihat wajah
Rosa cerah secerah rembulan. Ia memalingkan wajahnya padaku dan menusukku
dengan seulas senyum yang sulit kutangkap maknanya.
“
Aku pasti pergi kak, pasti…” sekali lagi ia tersenyum.
“
Aku iklas dik, iklas.”
“
Tapi kak jangan sedih. Kelak di bangku ini aku datang dalam wujud orang lain.
Itu belahan jiwa penggantiku.”
Aku
tak terlalu menanggapi kata-kata Rosa. Aku paham mungkin ia sengaja
menghiburku. Atau mungkn karena ia sangat terpengaruh dengan obat-obatan
kimiawi yang menggerogoti tubuhnya sehingga sulit mengendalikan
emosi. Tapi keesokan paginya Rosa benar-benar pergi. Dua hari kemudian
umat mendoakannya dalam misa requiem. Setelah itu tubuhnya dibaringkan di
pemakaman Mumbul.
Usai
sudah penderitaan Rosa. Kanker payudara yang menggerogotinya selama
lima tahun telah mencapai puncak kematian. Dan aku harus pasrah
karena aku yakin kematian tak akan mampu menghapus semua
kenangan apalagi kenangan manis.Kepergian Rosa selamanya tak menghentikan
kebiasaanku ke gereja pada minggu pagi, di gereja yang sama dan duduk
pada bangku yang sama. Dua anakku punya dunia sendiri. Yang sulung
sedang menyelesaikan pendidikan di Seminari Tinggi sebagai Frater Praja. Dan
putriku yang kedua lebih suka aktif di Putri Altar. Nyaris kami tak
pernah duduk bersama saat di gereja. Aku bersyukur anak-anak memlih jalan yang
tepat dan memilih kegiatan yang tak keliru. Kuharap Tuhan memilih mereka untuk
menjadi berarti bagi gerejaNya.
Tak
terasa pula kepergian Rosa sudah lima tahun.Seringkali setiap
malam Rosa datang dalam mimpi, tersenyum lalu seolah seorang psikolog
memberikan wejangan. Kata dia, tidak baik seorang laki-laki hidup
sendirian. Jodohmu sudah ada. Yang diperlukan adalah mampu melihat
dengan mata hati.
“
Kak lupa ya pada pesanku terakhir?”
“
Pesan apa, dik?”
“
Kelak di bangku gereja itu aku akan datang dalam wujud perempuan lain”
“
Ah, sudahlah dik, aku tak berniat lagi membangun mahligai rumah tangga.
Anak-anak sudah mulai dewasa”
“
Engkau membutuhkan istri, sahabat dan teman di tempat tidur. Itu kodrat
kemanusiaan”.Lalu bayangan Rosa hilang. Aku terbangun di tengah malam.
Merasakan tusukan angin malam kota Denpasar.Hingga pagi datang.
Minggu
pagi, Minggu Paskah. Maria putriku sudah bangun. Membuatkan segelas kopi.
Lalu ia mandi dan siap-siap ke gereja. Pagi ini ia mendapat
kepercayaan sebagai penyanyi mazmur. Maria memang memiliki suara
emas warisan suara ibunya yang juga seorang pelantun mazmur.
“
Aku duluan ya ayah. Kopinya sudah kusediakan. Ingat ayah, jangan
terlambat. Nanti bangku depannya duluan terisi orang. Kasihan itu si mata
sendu…”
“
Maksudmu nak?”
“
Ah, nanti ayah lihat sendiri. Ayah sih, terlalu masa bodoh. Ah sudah ayah,
daaaa”. Maria mendayung sepedanya sekencang angin pagi pulau Bali
menyusuri Jalan Hayam Wuruk hingga sampai ke Kepundung tempat gereja penuh
kisah sejarah berada.
Pagi
ini Minggu Paskah. Bangku paling depan nyaris terisi. Untung masih ada satu
tempat dan itu tempatku selama ini. Perempuan di sampingku
menggeser tubuhnya memberiku tempat. Lalu ia memandangku dan tersenyum.
Oh, mata itu, mata bening, mata sendu.Entah mengapa aku merasa
damai berada dekat perempuan itu. Harum tubuhnya persis milik Rosa. Aku
seolah-olah sedang duduk berdua dengan Rosa dan melantunkan doa-doa. Dan ketika
putriku Maria melantunkan mazmur aku merasa seolah-olah Rosa sedang
ada di sampingku memperhatikan putrinya yang mempersembahkan suara
emas untuk seribu umat.
Dan
misa paskah pun usai. Satu persatu umat meninggalkan ruang
gereja.Aku masih terpekur dalam doa. Memohon perlindungan Tuhan untuk
hidup satu tahun ke depan hingga Paskah tahun berikutnya. Memohon
agar Tuhan menurunkan berkah melimpah di Tahun Kerahiman Ilahi ini.Lalu kubuka
mataku. Oh, perempan di sampingku, dia masih ada. Ia terpekur, tenggelam dalam
doa. Dan di sampingku putriku Maria berdiri menatapku.
Ketika
perempuan itu membuka mata Maria mengucapkan salam.
“
Selamat pagi ibu guru, selamat pagi mama”
“
Ah, kamu Maria, ada-ada saja” suara perempuan itu lembut, selembut salju.
“
Ayah, inilah si mata sendu. Ibu guruku, ibu Relly. Lima tahun lalu
kehilangan suami dalam sebuah kecelakaan. Sama seperti ayah kehilangan
mama lima tahun lalu. Tapi haruskah hidup terus berkubang dalam
cinta yang tak mungkin datang lagi? Hidup harus berubah. Ini tahun
kerahiman ilahi. Tahun dimana Tuhan menurunkan mujizatNya.”
“
Maria, maksudmu?” Kataku pada putriku.
Tapi
Maria tak berkata-kata lagi. Ia menggapai telapak tanganku dan
telapak tangan Relly. Mengaturnya agar kami bergenggaman.
“
Aku ingin ayah dan ibu. Kelak bila kakak ditahbiskan sebagai imam,
ada ayah dan ibu yang mendampingi. Kelak, ketika aku menikah atau mungkin
mengikrarkan kaul sebagai biarawati, ada ayah dan ibu yang mendoakan”.
Dan
Maria mengecupku lalu mengecup Relly, kemudian melangkah pergi. Aku dan
Relly masih bergenggaman tangan. Kedua pasang mata kami saling
berpagutan. Kutahu ini mujizat terbesar di Tahun Kerahiman Ilahi ini. Mujizat
di minggu paskah. Terimakasih Tuhan.***
Denpasar,
Minggu Paskah 27 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar