CERPEN - 5
Di Detik-Detik Terakhir
Cerpen:
Agust GT

Kami
mengawali pertemuan di sebuah universitas di Kota Jogyakarta. Pertemuan
yang bukan kebetulan. Kami juga satu fakultas dan satu program
studi. Kami mempunyai minat yang sama terhadap Arkeologi.Sejak hari
pertama saat mengikuti perpeloncoan kami sudah akrab. Teman-teman
mahasiswa menyapa dia dengan nama Putri. Ia gadis cantik kelahiran
Bantul. Ia putri seorang keturunan bangsawan. Maka nama lengkapnya Raden Ajeng
Maria Putri Prabaningrum. Entah mengapa orang-orang hanya menyapa namanya
dengan sebutan Putri.
Kami
sungguh aktif di organisasi kampus. Ketika aku terpilih sebagai Ketua Senat
Mahasiswa Putri adalah sekretarisnya. Dan ketika aku didaulat sebagai
ketua sebuah organisasi kemahasiswaan katolik di Kota Jogyakarta Putri juga
adalah sekretarisnya. Maka kebersamaan kami hampir sepanjang hari.
Kebersamaan tanpa ucapan cinta. Tetapi yang kami rasakan adalah saling
merindu. Merasa kesepian jika tak bersua sehari saja. Aku tak tahu persis
apakah itu benih-benih cinta. Atau mungkin kecantikan Putri yang menjadi
pelatuknya.
“
Putri, aku kangen, kangen sekali.” Suatu ketika aku menelpon Putri
ketika aku liburan Reba di Maghilewa.Aku menelponnya dari sebuah batu
besar di pinggir pantai Waesugi.
“
Aku juga kangen, kangen sekali.Telpon berkali-kali Mas tak
mengangkatnya?” Aku dapat merasakan degupan-degupan jantung
kerinduannya. Pada hal baru dua minggu aku di Flores.
“
Ohhh, maaf Putri. Di kampung tradisional Maghilewa tak ada sinyal. Saat ini aku
di Malapedho, di sebuah batu besar di pinggir pantai. Itu yang
dilakukan orang-orang di kampung ini untuk menelpon sanak keluarganya di
rantauan.”
“
Mengapa bisa begitu Mas?”
“
Di kampungku mencari sinyal cukup sulit. Orang-orang bahkan harus memanjat
pohon kelapa atau pohon lontar untuk mencari sinyal. Pasti sangat beda
dengan Jogyakarta. Jadi harap maklum. Oh ya minggu depan aku balik ke
Jogyakarta.”
“
Aku tunggu Mas, jangan lupa oleh-oleh dari Flores.”
Kembali
ke Jogyakarta. Kembali ke kebersamaan dengan Putri.Kembali ke rutinitas kuliah
sambil bekerja di sebuah harian. Tak terasa kami sudah menempuh seluruh
mata kuliah. Dan sebagai syarat memperoleh gelar sarjana kami harus
membuat karya tulis tentang antropologi. Kami ditawarkan dosen pembimbing
untuk boleh melakukan penelitian dimana saja di seluruh Indonesia. Aku
dan Putri sepakat untuk melakukan penelitian di situs-situs kampung
tradisional di lereng gunung Inerie.
“
Ini kesempatan aku mengenal Flores dari dekat. Seperti apa Flores itu?”
Kata-kata Putri menyentuh nuraniku.
“
Seperti ketika engkau melihatku.” Aku bercanda. Dan Putri mencubit lenganku.
Lalu menjatuhkan kepalanya di bahuku. Jantungku berdegub keras. Mungkin
sekeras deburan ombak di Pantai Parangtritis. Ketika itu senja di
Parangtritis. Kami menikmati panorama laut dan sepasang burung
camar yang mengepak sayap di langit yang terbang menuju bukit karang.
Kami merasakan derai butir kehangatan.
Saatnya
untuk beberapa bulan kami meninggalkan Jogyakarta. Kami melakukan
perjalanan ke Maghilewa. Untuk menambah pengalaman dan menanamkan cinta
tanah air kami memutuskan perjalanan darat. Itu berarti kami harus menyusuri
sebagian Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa dan setengah bagian barat Flores. Di
Bali kami menyempatkan satu hari menikmati keindahan Bali. Di Lombok pun
demikian. Di Sumbawa kami menikmati alam gersang namun indah. Kami sempat
ke Komodo untuk menyaksikan Varanus Komodoensis yang terkenal itu. Lalu
menyusuri jalan berkelok Labuanbajo hingga Aimere. Dan melanjutkan
ke Malapedho dengan ojek.
“
Pengalaman perjalanan yang menegangkan sekaligus menyenangkan.” Putri
tersenyum saat kami tiba di rumah Malapedho.
“
Jadi Putri, engkau sudah melihat Indonesia selain Jogyakarta.”
“
Yah, Indonesia. Aku bangga jadi orang Indonesia.
Hari-hari
berikutnya kami tenggelam dalam kegiatan penelitian. Kami mengunjungi kampung
tradisional Jere dan Maghilewa. Juga Watu dan Leke. Kami mendengar
kisah-kisah sejarah leluhur dari para tua adat di kampung-kampung tersebut.
Dan yang menarik adalah kisah tentang Taka Turu Wara. Sebuah kisah yang
terjadi di Nua Mulu.Kami pun mendaki bukit untuk bisa sampai di Nua Mulu. Bekas
kampung itu terletak di atas puncak bukit bernama Wolo Mulu, persis
di lereng gunung Inerie. Bekas kampung kuno masih terlihat. Batu-batu
megalitik masih berdiri kokoh. Inilah Nua Mulu.
“
Mas, pasti ada kisahnya” Tanya Putri.
“
Aku tahu sekilas kisah itu.”
“
Ceriterakan dong Mas.”
Kisah
itu terjadi entah kapan.Tak ada catatan tertulis. Kisahnya turun temurun secara
lisan. Ada keluarga yatim piatu terdiri dari tiga pemuda. Yang sulung
bernama Lobe, yang kedua Liko dan yang bungsu Leba. Lobe sakit-sakitan karena
tubuhnya penuh luka. Karena itu ia lebih banyak tinggal di kampung sedangkan
dua saudaranya ke kebun. Suatu hari mereka menjemur sorghum yang
disebut ghedho. Lobe ditugaskan untuk menjaga agar tidak dimakan burung
perkutut. Kedua saudaranya ke kebun. Tengah hari terjadi angin puting beliung
dalam bahasa daerah disebut Pote Polo. Angin itu membawa terbang ghedho
yang dijemur pada selembar tikar.
Kehilangan
ghedho itu membuat Lobe sedih. Ia juga takut akan diomeli
saudara-saudaranya. Maka ia menyusuri kemana angin membawa jemuran ghedho
tersebut. Sebab sepanjang jalan ada saja butir-butir ghedho yang tercecer.
Lobe sampai di gerbang sebuah kampung. Orang-orang di kampung
itu sedang berpesta karena mendapatkan ghedho. Orang-orang kampung itu
lalu menangkap Lobe kemudian dibakar hidup-hidup dan diperam dalam
tumpukan daun pisang. Setelah empatpuluh hari empatpuluh malam Lobe hidup
kembali sebagai pemuda yang tampan.
Di
Nua Mulu orang-orang sangat sedih. Mereka berkabung atas hilangnya Lobe.
Maka tak ada pesta, tak ada bunyi-bunyian bahkan tak ada suara-suara keras.
Mereka larut dalam duka. Hingga malam keempatpuluh terdengar ada
yang membunyikan gendang. Orang-orang kampungpun marah. Tetapi gendang
terus dibunyikan. Karena penasaran mereka melihat siapa yang berani membunyikan
gendang saat orang kampung berkabung. Mereka terkejut melihat sosok pria
tampan. Ia mengaku Lobe. Sebagai bukti Lobe menunjukkan sebuah
kapak mas sebagai ganti ghedho yang dibawa kabur angin
empatpuluh hari lalu. Seisi kampung pun larut dalam sukacita. Kapak mas
itu lalu dinamakan Taka Turu Wara. Benda itu sampai sekarang masih tersimpan di
Sa’o Diazia kampung Leke. Disimpan dalam sebuah periuk. Jika dikeluarkan dari
periuk akan terjadi angin.
“
Kisah yang fantastis.” Putri mengguman.
“
Kita bisa membuktikannya.” Kami tertawa di bukit sunyi.
Lalu
kami duduk di atas mesbah bernama ture. Mata kami menatap sosok gunung Inerie
yan dibalut hutan meskipun puncaknya gersang. Gunung yang menawarkan
sosok yang mempesona. Lalu kami memandang bentangan Laut Sawu yang
membiru. Dari bukit Wolo Mulu kami menikmati firdaus. Menikmati keberduaan
kami. Menikmati dua hati yang sangat dekat meski belum pernah terucap
cinta.
“
Indah, sungguh indah. Aku jatuh cinta pada tanah ini. Jatuh cinta pada alam di
sini. Seumur hidup aku di sini, aku pasti bertahan Mas.” Putri menatapku.
“
Jangan Cuma mencintai tanah ini. Cintai juga yang lain.”
“
Maksud Mas?”
“
Cintai manusia-manusianya. Cintai laki-laki.”
“
Siapa laki-laki itu?”
“
Aku.”
“
Haruskah cinta diungkapkan dengan kata-kata? Sudah Mas, benih sudah ditabur.
Kecambah sudah tumbuh. Mari kita sirami agar menjadi pohon yang memberi buah
berlimpah.”
“
Jadi engkau…”
“
Yah.” Putri rebah di dadaku. Di hening Nua Mulu. Aku tak tahu apakah Inerie
tersenyum melihat kami memadu cinta.Kuyakin Inerie menyaksikan ketulusan
cinta kami.
Waktu
terus berjalan. Di Jogyakarta kami menyelesaikan studi. Menikmati
kebahagiaan karena berhasil menggapai gelar sarjana. Kamipun bertunangan.
Lalu menyiapkan diri menikah secara katolik. Memulai dengan kursus persiapan
perkawinan. Lalu penelitian kanonik dan pengumuman pernikahan di gereja.
Dan menentukan tanggal pernikahan 16 Mei. Semuanya berjalan mulus. Kami
berharap semua persiapan pernikahan dapat berjalan sesuai rencana.
Suatu
senja di Malioboro. Putri mengeluh perutnya sakit sangat hebat. Ia pun
jatuh pingsan. Aku membawanya ke RS Panti Rapih. Keluarga di Bantul pun
berkumpul di rumah sakit itu. Putri harus dirawat di UGD. Para dokter tampak
sibuk. Di ruang tunggu aku berdoa agar Tuhan memelihara Putri. Aku
membutuhkannya. Empat jam kemudian seorang dokter keluar dari ruangan. Ia
menyampaikan berita mengejutkan.
“
Maaf, dari diagnose Putri mengidap kanker rahim stadium empat. Tindakan operasi
mengagkat rahim harus segera dilakukan. Jika tidak sel-sel kanker akan
menyebar ke seluruh tubuh.”
“
Kanker rahim?” Tanyaku pada dokter.
“
Betul. Tapi nyawa Mbak Putri bisa diselematkan dengan tindakan operasi
pengangkatan rahim. Perlu persetujuan Putri dan keluarga.”
Aku
menatap ayah Putri. Ia mengerti maksudku. Lalu ia mendekatku.
“
Nak Gusti, kalau Putri tak dioperasi ia akan pergi selamanya. Kalau
rahimnya diangkat ia hidup tetapi tak akan memberimu keturunan. Keputusan ada
padamu tetap mencintai Putri atau putus. Sebagai ayah aku
memutuskan Putri harus operasi pengangkatan rahim.”
“
Operasi pak. Setelah itu kami menikah.”
“
Engkau tak menyesal nanti nak?”
“
Tidak pak, karena cinta itu tulus. Cintaku pada Putri sejak pertemuan
pertama sampai maut memisahkan kami.”
“
Terimakasih nak.”
Tugas
kami adalah memberikan keyakinan pada Putri bahwa setelah operasi ia akan tetap
melahirkan seribu bayi untukku. Sebab dari dokter kami tahu Putri
memilih mati daripada hidup tanpa rahim dan tanpa memberikan keturunan.
“
Putri, kau harus kuat. Kau harus hadapi pengalaman hidup ini dengan iman
sebesar biji sesawi. Aku yakin Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk kita.”
“
Mas, ini tidak mungkin terjadi padaku. Setiap perempuan mendambakan suatu
saat melahirkan anak. Ia akan disapa ibu oleh anak-anaknya. Sedang aku,
satu minggu lagi mau menikah lalu Tuhan harus mengangkat rahimku? Ini tidak
adil Mas.”
“
Tuhan selalu adil. Percayalah sayang. Cintaku tak berkurang sedikitpun
meskipun kini kutahu bahwa engkau tak akan pernah memberiku keturunan.”
“
Tuhan tidak adil, tidak adil Mas…” Putri meluruhkan air mata. Memelukku erat.
Membenamkan wajahnya di dadaku. Dan aku pun merangkulnya. Mengecup rambutnya.
“
Tuhan adil sayang. Ia sangat adil. Percayalah, kita akan memiliki banyak anak
tanpa harus melahirkan anak. Aku yakin Tuhan punya rencana indah.”
Dokter
sudah menentukan waktu bagi Putri untuk masuk ke ruang operasi.
Tetapi Putri tetap menolak untuk operasi pengangkatan rahim. Ayah dan
ibu sudah menyerah. Tetapi aku tak boleh menyerah. Aku harus
bisa meyakinkan Putri agar ia mau menjalani operasi.
“Sayang,
kalau kau menolak dioperasi, kau akan pergi jauh. Kau akan pergi sendirian.
Pada hal kita sudah berjanji untuk mewujudkan rencana hidup dan masa
depan bersama-sama. Jika engkau merelahkan rahimmu diangkat, engkau hidup. Dan
kita akan memiliki waktu untuk mewujudkan impian.”
“
Tanpa anak?”
“
Engkau salah sayang. Percayalah Tuhan akan memberi kita anak-anak. Bahkan
sejuta anak kalau Tuhan mau.”
“Mas,
bukankah menikah itu untuk melahirkan anak-anak?”
“
Tapi bukan satu-satunya tujuan perkawinan. Gereja kita punya hukum. Kitab hukum
kanonik kan.1055 menegaskan dengan perjanjian perkawinan pria dan wanita
membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya
perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami isteri serta kelahiran dan
pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang
yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen.”
“Apakah
Mas akan tetap setia ketika aku tak dapat melahirkan anak?”
“
Aku yakin sayang, tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan akan memberikan
kita seribu bahkan sejuta anak. Percayalah cintaku tak akan
berkurang karena engkau tak dapat melahirkan anak-anak.”
Kulihat
Putri tersenyum. Dokter masuk ke ruang rawat Putri. Beberapa perawat
mendorong masuk kerete dorong.Kereta itu yang akan membawa Putri ke ruang
operasi.
“
Mbak Putri, sudah siap?”Tanya dokter.
Putri
tak segera menjawab. Ia menatapku. Kulihat butir-butr air mata luruh dari
bola matanya. Aku mengecup keningnya. Lalu kubisik kata-kata di telinganya.
“
Sayang, katakan engkau siap. Aku mencintaimu.”
Pada
dua detik sebelum jam 24.00 tengah malam Putri menganggukkan kepala.
“
Siap dokter.” Para perawat pun mendorong kereta ke dalam ruang operasi.
Semuanya berjalan dalam lindungan Tuhan. Operasi tanpa hambatan.
Tuhan itu baik dan selalu menepati janjiNya.
Ini
pengalaman sepuluh tahun lalu. Kenangan yang tiba-tiba saja muncul
ketika hari ini merayakan misa kudus Minggu Kerahiman Ilahi. Ketika aku
dan Putri menyadari betapa mulianya rahim seorang ibu. Ketika aku dan
Putri menyadari bahwa dari rahim perempuan yang utuh lahir anak-anak yang
disia-siakan, ditolak, dibuang bahkan dibunuh. Dan anak-anak itulah yang
kini menjadi anak-anak kami di Panti Asuhan.
“
Mas, benar yang mas katakan. Tuhan akan mengirim anak-anak dan kita tak
pernah akan kesepian.”
“
Jadi tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Seandainya dua detik sebelum saat
operasi engkau tak menganggukan kepala dan siap dioperasi kita tidak akan
pernah merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan saat ini.”
“
Terimakasih Mas. Terimakasih Tuhan.” Kami bergenggaman tangan. Ah,
sungguh-sungguh pengalaman yang semakin menyuburkan cinta kami. Meski kami
selalu sadar, jalan masih panjang. Kami mesti selalu menyiram taman perkawinan
kami agar bunga cinta jangan sampai layu.***
Minggu
Kerahiman Ilahi 3 April 2016
*)
Cerpen ini fiksi, kesamaan tempat dan nama hanya kebetulan saja.
Komentar
Posting Komentar