CERPEN - 4
Buah Rahimku
Cerpen:
Agust GT

Aku
menikah dengan laki-laki Flores. Pernikahan yang memerlukan perjuangan berat.
Kedua orangtuaku dan keluarga besar tak menghendaki pernikahanku dengan
Lalungadha. Bukan karena Lalungadha tidak tampan atau pengangguran tetapi ada
alasan lain yang lebih fundamental. Kami berbeda dari aspek kehidupan yang
sangat prinsipil. Kami beda agama.
Aku
lahir dari keluarga bukan katolik sedangkan Lalungadha seorang
katolik yang taat. Meskipun selama aku mengenalnya di sebuah kampus di Kota
Denpasar ia jarang ke gereja. Ia salah satu dosen Fakultas Hukum. Aku
mengaguminya karena ia cerdas. Ia sedikit pendiam namun sangat
humoris. Ia pandai membuatku tertawa. Dan lebih dari itu ia mau
menerimaku apa adanya. Menerima masa laluku dan mencintaiku tanpa
menjadikan masa laluku yang kelam sebagai pembanding. Pada hal aku
sudah berterus terang siapa aku sesungguhnya. Sejak saat pertama ia
mengungkapkan kata cinta aku sudah mengatakan padanya siapa aku sesungguhnya.
Waktu
itu malam minggu kami menikmati angin malam di Pantai Sanur. Menikmati
panorama Sanur yang mempesona itu. Menikmati kelap kelip
lampu dari Hotel Sanur Beach. Dan menikmati debur ombak yang menjilati batu
tanggul penahan air laut agar Sanur tak mengalami abrasi. Kami duduk
tanpa jarak. Lalu kurasakan tangannya menggenggam jemariku.
“
Aku mau mengatakan sesuatu padamu Ayu.”
“
Mau bilang apa kak?”
“
Cinta.”
“
Maksud kakak?”
“
Aku mencintaimu.”
Untuk
beberapa saat aku terhenyak. Aku larut dalam rasa sukma yang haru biru.
Antara sukacita dan ketakutan. Takut kalau Lalungadha tahu siapa
aku sesungguhnya. Tiba-tiba kenangan kelabu terlintas kembali. Ketika itu di
pantai Kuta pada suatu senja di bawah matahari bening. Lelaki
bernama Gutres mengumbar kata cinta. Aku tak menghitungnya.
Mungkin seratus kali ia mengumbar kata cinta. Membuat aku terlena. Dan
hari-hari berlanjut. Semuanya terjadi di luar kesadaran. Aku hamil. Aku
terpaksa cuti dari kuliah yang baru masuk awal semester tiga.
“
Ayu, ini cinta yang tulus.Lahir dari hati mengalir dari nurani.” Suara
Lalungadha terdengar sangat serius.
“
Tapi kak, aku bukan seperti yang engkau kira.”
“
Maksudmu karena kau punya seorang anak laki-laki usia dua
tahun yang ditinggal pergi ayah biologisnya?”
Aku
terkesiap. Kurasakan kepalaku seperti diterpa puluhan kilogram martil. Tak
kusangka Lalungadha tahu siapa aku sesungguhnya.
“
Kakak sudah tahu siapa aku. Jadi layakkah aku menjadi pendampingmu?
Pantaskah aku menjadi belahan jiwamu ketika aku bukan perempuan murni.”
“
Siapa bilang kau tidak murni?”
“
Aku kak, aku yang merasa diri sendiri. Aku pernah terhina. Pernah jatuh dalam
kubang dosa…”
“
Ketika engkau mengandung karena perbuatan laki-laki yang
masih manusia, itu engkau katakan dirimu terhina?”
“
Aku merasa begitu”
Lalungadha
memelukku. Membelai rambutku. Aku merasa berada pada tangan seorang pria yang
melindungiku. Ada rasa damai. Ada rasa percaya. Ada seribu harapan
menggelayut dalam dadaku.
“
Aku sudah tahu siapa dirimu.Engkau cuti kuliah karena melahirkan seorang anak
laki-laki. Engkau sendiri yang menghendaki bayi itu lahir. Engkau melawan
godaan untuk melakukan aborsi. Engkau rela pergi dari rumah untuk
menyembunyikan rasa malu orang tua. Melahirkan di kota Jember jauh dari
keluarga. Demi anakmu, itu yang mengagumkan.”
“
Kak, kenapa kakak tahu semua jalan hidupku?”
“
Laki-laki itu terpaksa kembali ke Timor Leste karena politik mengharuskan.
Ketika nasionalisme terhadap Indonesia sangat kuat dan engkau tak
mau pergi ke negeri orang.”
“
Itu alasannya mengapa Gutres meninggalkanku.”
“
Jadi kau perempuan kuat. Aku mengagumi perempuan kuat. Seperti dirimu.”
“
Tapi aku punya anak dan ia bukan anakmu.”
“
Delon menjadi anak kita.”
Hubunganku
dengan Lalungadha menghadapi tantangan. Orangtuaku tidak merestuinya.
Selain alasan beda agama juga karena pengalaman yang
menyakitkan ketika aku ditinggal Gutres. Mereka tidak ingin aku
hanya menjadi barang mainan. Setelah hamil kemudian ditinggal pergi.
“
Pokoknya kawin dengan orang dari daerah Timur kami tidak setuju.”
Ini ungkapan ayahku.
“
Lalungadha itu beda dengan Gutres. Dia terpelajar. Dia dosen. Dia tidak
mungkin melakukan hal-hal seperti yang preman lakukan.”
“
Tetap pada keputusan, kau tidak boleh menikah dengan Lalungadha itu.”
Ini
hanya salah satu alasan yang dikemukakan keluargaku. Masih ada alasn-alasan
lainnya yang menurutku masuk akal. Tetapi di lubuk hatiku ada
kepercayaan kepada Lalungadha. Dan ketika aku menyampaikan
keberatan keluargaku Lalungadha dengan gagah perkasa mendatangi keluarga.
Ia benar-benar datang sebagai seorang lelaki yang tulus. Ia mampu
meluluhkan hati kedua orangtua dan keluargaku. Kamipun menikah. Kini usia
pernikahan kami duabelas tahun. Delon telah beranjak remaja limebelas
tahun. Dan adiknya Floresta usia sepuluh tahun. Kami bahagia dalam
balutan kesederhanaan.
Sampai
suatu hari di bulan April. Ketika suamiku tugas ke luar daerah.
Sudah satu minggu ini suamiku bertugas ke Flores karena ia
juga dosen di salah satu perguruan tiggi di Flores. Sedang aku memilih
tidak bekerja agar bisa merawat anak-anak. Aku membuka sebuah
warung makan di tengah kota Denpasar. Suatu malam sekitar pukul 19.30
Delon datang mengendarai sepeda motor. Wajahnya pucat dan ia ketakutan.
Kulihat baju yang dipakainya berlumuran darah. Ia memelukku.
“
Mama, maafkan aku…” Delon sujud di kakiku dan mencium jari kakiku.
“
Apa yang kau lakukan nak?”
“
Aku…aku….” Delon tak melanjutkan kata-kata. Ia memelukku. Ia meraung histeris.
“
Apa yang telah terjadi?” Tanyaku. Delon hanya gemetaran.
Di
saat yang sama raung sirene polisi mendekat ke halaman rumah. Kulihat puluhan
polisi turun dari mobil patroli. Mereka masuk ke teras rumah. Aku menghadapi
para polisi itu.
“
Ada apa ini pak?”
“
Benar ibu ini orang tua Delon?”
“
Betul pak.”
“
Maaf ibu, anak ibu terlibat perkelahian hingga membawa korban kematian.”
“
Ya Tuhan.” Aku berteriak. Aku menangis histeris. Aku tidak yakin Delon
yang santun dapat melakukan perbuatan menghilangkan nyawa sesama.
Melakukan pembunuhan.
Polisi
meminta untuk membawa Delon ke kantor polisi. Aku minta waktu pada polisi
untuk menelpon ayahnya.
“
Beri aku waktu pak untuk menelpon ayahnya di Flores.”
“
Oh silahkan ibu.” Aku menelpon Lalungadha.
“
Hallo pak, ini mama.” Suaraku serak sambil menahan tangis.
“
Yah ma, ada apa?”
“
Delon pak.”
“
Delon kenapa?”
“
Delon berkelahi dan membunuh temannya.”
“
Yah, esok aku pulang. Biarkan Delon dibawa polisi.”
Delon
pun dibawa polisi ke Kantor Polisi. Aku merasa duniaku sudah kiamat.
Hancur hati seorang ibu lebih-lebih ketika aku menghadapi masalah ini di
saat suamiku tak berada di tempat. Semalam suntuk aku tak bisa memejamkan
mata. Aku menangis. Aku meratap. Aku bertanya pada Tuhan, salah apa
kami sehingga harus mendapat cobaan seberat ini? Esok
pagi Lalungadha sampai di rumah. Aku memeluknya, menumpahkan kesedihan.
“
Maafkan aku kak. Aku telah melahirkan anak yang membuatmu turut menanggung
beban berat. Menanggung rasa malu dan mungkin akan dijuluki
orangtua dari seorang pembunuh.”
“
Ini beban kita berdua. Kita harus memikulnya bersama. Ini salib yang
harus kita panggul bersama.”
“
Dia buah rahimku. Aku yang lebih berat menanggung beban.”
“
Delon itu anak kita. Ayo, bangkit dan mari kita pikul bersama. Inilah duka
kita, inilah kemalangan kita.” Lalungadha memelukku erat.
Dan
ia membisikkan pesan bapa suci Fransikus di telingaku. Kita tidak sempurna dan
tidak menikah dengan orang yang sempurna. Maka kita juga punya anak yang tidak
sempurna. Kita mengeluh satu kepada yang lain. Kita kecewa satu terhadap yang
lain. Karena itu tidak ada pernikahan yang sehat dan tidak ada keluarga yang
sehat tanpa adanya pengampunan. Pengampunan sangat penting untuk kesehatan
emosional dan keselamatan spiritual kita.
“
Terimakasih kak, engkau meneguhkanku.”
“
Kita saling meneguhkan.” Aku rebah di dada Lalungadha. Bersamanya aku
damai di tengah sebilah tombak yang menikam rahimku. Terimakasih
Tuhan untuk kehangatan perkawinan ini. Perkawinan yang mengahntar kami
untuk menerima seluruh perkara hidup seberat apapun dengan iman sebesar
biji sesawi yang kami miliki.***
Denpasar,
4 April 2016
*)
Cerpen ini karya fiksi. Nama-nama dalam cerpen ini adalah fiksi.
Komentar
Posting Komentar