CERPEN - 3
Di Telapak Kaki Ibuku
Cerpen:
Agust GT

Aku
tak bedanya dengan anak yang hilang. Anak bungsu yang dikisahkan oleh kitab
suci yang meminta warisannya lalu dijualnya dan uang digunakan
untuk berfoya-foya dengan pelacur di kota. Seperti itulah aku.Bedanya
jika anak yang hilang itu meminta kepada bapanya, aku kepada ibu yang telah
lama hidup menjanda.Jika anak yang hilang itu pergi ke kota lain sedang
aku tetap di kota tempat tinggal ibuku.
Aku
anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulungku ditahbiskan
menjadi imam. Dua kakak perempuanku memilih jalan hidup membiara.
Maka yang tinggal di rumah adalah aku. Sesungguhnya aku
ingin pergi ke kota lain. Tetapi kakakku yang sulung melarang. Katanya
aku harus menjaga ibu karena ia sudah semakin sepuh.
“
Eh ade, kau tinggal di rumah. Lihat ibu sudah tua. Kau jangan pergi
merantau.” Kakak sulung yang pastor memberi nasihat.
“
Tapi saya juga mau cari pengalaman di kota lain.”
“
Tidak usah. Di sini juga kota besar. Jogyakarta ini kota terkenal.
Kau tinggal saja di sini bersama ibu.” Kata kakak.
“
Yah, baik kakak.”
Aku
menurut saja. Setelah menyelesaikan kuliah di sebuah sekolah seni
aku sesungguhnya ingin ke Jakarta. Teman kelasku yang berani ke
Jakarta berhasil menjadi artis terkenal. Pada hal aku tahu masa
kuliah dia bukan mahasiswi yang cerdas. Lagi pula di
Jogyakarta lulusan perguruan tinggi seni kalau mengambil jurusan
salah bisa menjadi penganggur. Seperti aku yang mengambil jurusan
sinematologi akhirnya menganggur. Suatu hari aku bertemu dengan artis
teman kelasku itu.
“
Mas Bertus ayo ke Jakarta. Kamu bisa jadi bintang film sukses.”
“
Aku disuruh kakak-kakaku menemani ibu.”
“
Ouhhh, anak mama banget. Kasihan deh loe.” Kata-kata yang sangat menampar.
Kata-kata yang menyakitkan. Ingin rasanya pergi ke Jakarta meninggalkan
rumah dan meninggalkan ibu.
Tahun
terus berganti. Aku menjadi sosok yang tanpa orientasi hidup. Aku seperti
burung yang terbang dari satu dahan ke dahan lain tanpa keinginan membangun
sarang. Aku pun tak memiliki pekerjaan tetap. Aku bergaul dengan
anak-anak yang sama denganku bahkan lebih parah. Mereka yang putus
sekolah dan dari keluarga yang hancur. Mereka yang residivis keluar dari
penjara karena mencuri, merampok dan menjual narkoba.
Pergaulanku
dengan anak-anak yang tak punya orientasi hidup. Yang
saban hari hanya minum minuman keras dan mengonsumsi narkoba. Dan
kalau tak ada lagi uang mereka akan merampok bahkan tak segan membunuh.
Bulu kudukku merinding kalau mendengar kisah mereka.
“
Kita harus selalu punya uang untuk beli arak dan narkoba serta main
perempuan.” Kata-kata seorang teman yang tubuhnya kurus kerempeng.
“
Makanya kau ikut kami. Dari pada hidup galau kita besenang-senang. Narkoba
bisa buat kita happy.” Kata yang lain.
Aku
sangat sadar bahwa mencuri, merampok dan main perempuan apa lagi
membunuh melanggar perintah Tuhan. Jangan membunuh, jangan bersinah
adalah perintah Tuhan yang terhimpun dalam sepuluh perintah Tuhan. Di awal aku
berkenalan dengan teman-teman brengsek itu adalah ingin mengubah mereka
menjadi orang baik. Aku mau menunjukkan identitasku sebagai orang katolik yang
sangat taat pada ajaran kitab suci. Menunjukkan kepada mereka yang seiman
maupun yang bukan seiman bahwa agama kami terbaik.
Tapi
lama kelamaan aku semakin masuk dalam gaya hidup mereka. Masuk dalam
kesenangan mereka. Masuk dalam dunia mereka. Perangaiku makin berubah. Aku
jarang pulang ke rumah. Kalau pun pulang aku hanya mau
meminta uang pada ibu. Kalau ibu tak memberi aku pasti berkata
kasar pada ibu. Atau mencuri perhiasan ibu di lemari. Ibu benar-benar
sedih melihat perubahanku. Tetapi aku tak perduli.
“Bertus,
mengapa kau jadi begini nak? Mengapa kau berubah. Ingatlah nak, apa yang kau
lakukan itu dosa.”
“
Ah ibu diam. Aku ini tidak hidup pada jaman ibu muda dulu. Ini jaman modern.
Hidup harus bebas.”
“
Sadarlah nak, sadar. Kakakmu itu pastor, saudari-saudarimu suster.”
“
Itu urusan mereka. Hidup itu urusan masing-masing. Masuk surga juga urusan
masing-masing.” Aku benar-benar melawan ibu. Aku tahu ibu menangis. Tapi hatiku
sudah beku. Mataku sudah buta. Aku tak perduli hati ibu yang hancur
luluh.
Aku
benar-benar berubah. Entah berapa perempuan yang sudah aku kencani. Aku
sudah benar-benar madat rokok. Aku menjadi sangat tergantung
pada minuman beralkohol. Dan aku menjadi madat narkoba. Sehari saja aku
tak pakai pasti akan merasakan deraan yang luar biasa. Karna itu
setiap hari aku harus selalu mempunyai uang agar bisa membeli narkoba. Setiap
aku membutuhkan uang aku pulang ke rumah memaksa ibu untuk
memberiku uang. Perhiasan ibu sudah habis kujual. Alat-alat rumah tangga
pun kujual.
“
Bertus, lihat nak, lihat ibumu.”
“
Sudah ibu, jangan banyak bicara.”
“
Kau di jalan yang salah nak.”
“
Memangnya aku pikiran?” Jawabku. Aku tahu jawaban itu melukai hati
ibu. Tetapi aku sudah benar-benar kehilangan rasa bersalah.
Suatu
malam aku bersama teman-teman berada di sebuah rumah. Kami
melakukan pesta narkoba. Bahkan ada seorang teman yang over dosis
dan meninggal. Yang lain teller termasuk aku. Dan malam itu adalah malam yang
sangat menyakitkan. Puluhan polisi menggrebek rumah tempat kami menggelar
pesta narkoba. Kami ditangkap. Esok hari televisi menyiarkan berita pengrebekan
itu. Menyiarkan wajah-wajah pemakai narkoba termasuk wajahku. Aku sadar
ibu pasti sangat terpukul. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan datang
terlambat. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatan. Ditahan,
dipenjarakan dan direhabilitasi.
Enam
bulan sudah aku berada di tempat rehabilitasi. Aku merasa
ketergantunganku pada narkoba mulai berkurang. Aku bertekad untuk
tidak lagi menginginkan barang haram itu. Aku mau berubah. Dan setelah
menjalani hukuman aku akan pulang ke rumah dan sujud ke kaki ibu mencium
telapak kakinya.
“
Bertus, ada yang mengunjungimu.” Suara sipir penjara tegas. Aku bergegas keluar
dari ruang tahanan.
Aku
terkejut melihat wajah yang datang. Kakakku yang pastor dan kedua kakak
perempuan yang suster mengunjungiku. Aku rebah di pangkuan mas
Simpli. Meluruhkan air mata. Ia memelukku dan membelai rambutku.
“
Ini pelajaran yang berharga. Bahwa hidup merdeka tidak selamanya merdeka. Ia
bisa saja membuat orang kehilangan kemerdekaannya.”
“
Sekarang aku rasakan mas. Maafkan aku mas.”
“
Kami semua memaafkanmu. Tapi ibu belum menerima kenyataan ini.
Nanti setelah semuanya selesai engkau sendiri yang meminta maaf pada ibu
dengan caramu sendiri.” Ujar Mas Simpli.
Kedua
kakakku yang suster pun bergantian merangkulku. Mereka seperti ibu tak
banyak berkata-kata. Mereka hanya meluruhkan air mata sedih. Mereka
memelukku dan membelai rambutku. Mereka mencium keningku. Oh Tuhan, betapa
mereka yang pernah serahim denganku sangat mencintaiku. Mengapa hatiku
beku dan mataku buta selama ini? Mengapa aku tak pandai melihat keunggulan
keluargaku?
“
Maafkan aku Mbak Maria. Maafkan aku Mbak Theresia.” Ujarku berderai air mata.
“
Kami memaafkanmu Bertus. Kami semua sayang padamu.” Air mataku luruh. Entah
berapa juta butir yang tertumpah dari jiwa yang kuyup.
Aku
bersyukur mas Simpli datang dengan membawa perlengkapan misa. Atas ijin penjaga
penjara aku dan teman-teman yang katolik dapat merayakan ekaristi.
Mungkin sepuluh tahun kami tak pernah ke gereja dan tak pernah mengikuti
ekaristi. Kami penuh dosa. Romo Simpli menyediakan waktu untuk mendengarkan
dosa kami melalui sakramen pengakuan.
“Pengakuan
kalian ini sah karena aku sudah mendapat ijin dari pastor parokimu
di kota ini.”
“
Terima kasih Tuhan sebab Engkau telah bebaskan kami dari belenggu dosa
melalui imam yang Engkau berikan kuasa untuk mengampuni dosa kami.” Aku berdoa.
Aku tahu seorang imam diberi kuasa oleh Tuhan untuk mengampuni atau tidak
mengampuni dosa seseorang.
Sejak
kunjunan tiga kakak dan merayakan ekaristi hidupku benar-benar terasa
damai. Kerinduanku untuk ke gereja bersama ibu semakin meluap. Aku tiada
henti berdoa agar Tuhan mau membantu menyembuhkan luka batinku dan
menjadikan aku berani melawan godaan. Bulan berganti bulan dan tahun berganti
tahun akhirnya sampai juga masa pembebasan. Tiga tahun di penjara aku
boleh pulang ke rumah. Mbak Maria, suster kakakku yang kedua kebetulan libur.
Ia yang menjemputu di penjara.
“
Kak, apakah ibu masih mau menerimaku sebagai anak?”
“
Pasti. Injil sudah menulis, tak ada orang tua yang anaknya minta roti diberi
kalajengking.”
Tetapi
dalam perjalanan dari penjara ke rumah aku galau. Aku takut pada ibu yang akan
menolakku dan tak mau mengakuiku sebagai anaknya. Tetapi apa yang kualami tidak
seperti yang kutakutkan. Ibu menyambutku di gerbang rumah. Aku bersujud,
mencium telapak kakinya.
“
Ibu, ini anakmu yang durhaka. Ampunilah aku.”
“
Bangkitlah anakku. Seperti apapun hari ini engkau adalah buah rahimku.
Cintaku tak pernah berkurang.” Aku memeluk ibu. Membenamkan kepala di dadanya.
Aku mengalami rasa damai yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Air
mataku berderai. Dan ibu menghapus dengan telapak tangannya.
“
Jangan menangis. Jadilah anak laki yang kuat dan tegar. Termasuk kuat melawan
godaan sehingga tidak jatuh lagi di jalan sesat yang sama.”
“
Ibu, bersamamu aku mau berubah”.
Aku
tersadar ketika hujan rintik-rintik. Entah berapa lama aku bersimpuh di
pusara ibu. Mengenang kisah kelabuku sepuluh tahun silam. Mengenang ibu
yang penuh cinta. Mengenang semua peristiwa hitam pekat yang pernah kulalui.
Dan pada akhirnya aku membebaskan diri dari dunia hitam. Menjadi tetap
kuat dalam doa ibu dan dalam cintanya yang tulus. Kini aku bisa merasakan
apa arti kebahagiaan bersama seorang istri dan seorang anak. Dan aku
sadar, kalau seorang tak tinggal dalam Aku, maka ia akan dibuang sebagai
ranting kering, yang orang kumpulkan lalu membakarnya (Yoh.15:6). Terimakasih
ibu, di telapak kakimu aku rindu bersujud.***
Denpasar,
15 April 2016
*)
Nama-nama fiktif, kesamaan hanya kebetulan.
Komentar
Posting Komentar