CERPEN - 13


Catatan Lusuh di Lereng Gunung
 Cerpen: Agust G Thuru

Akhirnya aku pulang juga ke kampung di lereng gunung. Meski hanya sekedar berlibur. Seharusnya tak perlu aku kembali ke kampung. Sebab setiap kali ada niat untuk pulang libur selalu ada bisikan merasuk hati, untuk apa dan demi siapa?

Bisikan itu merasuk hatiku bertahun-tahun. Kampung di lereng gunung memang punya daya magis yang sangat kuat. Ia seolah menghipnotisku hampir sepanjang waktu. Membuatku merindukannya. Bahkan rindu bercampur air mata. Bertahun-tahun aku menyimpan rindu di perantauan. Setiap kali ada kesempatan berlibur ke lereng gunung pertanyaan untuk apa dan demi siapa meluruhkan seluruh niatku. Anehnya, pertanyaan itu justru muncul dari sebuah mimpi. Untuk apa dan demi siapa engkau berlibur di kampung lereng gunung itu?

Mimpi di suatu malam pada hangatnya kota Denpasar yang menusuk tulang belulang. Ketika beberapa tas sudah kukemas dengan rapi. Dan gemuruh pesawat membuatku sulit memejamkan mata. Gemuruh pesawat yang esok pagi akan membawaku mengarungi langit luas menuju Labuanbajo. Lalu meneruskan perjalanan menumpang bus menuju Bajawa. Lalu dari Bajawa menyusuri lereng gunung Inerie. Dan akhirnya aku akan sampai di kampung Maghilewa, sebuah kampung di lereng gunung Inerie.

Rencana perjalanan ini sudah aku bicarakan dengan Cicil istriku sejak satu bulan lalu. Ia memang sempat protes.
“ Seharusnya turun saja di Aimere. Lalu menumpang ojek sampai Malapedho. Setelah itu ke kampung Maghilewa.”
“ Tidak begitu. Aku harus turun di Bajawa. Lalu menumpang bemo sampai Wae Rongo. Selanjutnya menyusuri jalan setapak yang melingkari sisi barat gunung Inerie. Nanti aku akan sampai di Wae Guru, Wae Robe, Kampung Bo Ngedo dan kampung Watu. Dan akhirnya sampai di Maghilewa.”
“ Untuk apa mencari-cari masalah. Jaman now orang sudah bosan jalan kaki.”
“ Aku mau napak tilas. Mau bernostalgia.”
“Yah sudah. Terserah abang saja.”

Cicil memandangku sambil tangannya memasukkan beberapa potong baju ke sebuah tas kecil. Memandang wajahnya aku ingat duapuluh enam tahun silam di Gereja Katedral Padang. Ketika kami merakit janji untuk bersama-sama mengarungi jaman. Cicil sangat paham dunia Bajawa dan kampungku di Lereng Gunung. 

Tiba-tiba deru pesawat dan suara Cicil terasa semakin jauh sampai aku tak mendengarnya lagi. Dingin malam kota Denpasar sudah tak kurasakan. Yang aku hadapi adalah suara-suara tanpa wujud yang datang bertubi-tubi. Entah suara siapa.
“ Untuk apa kau pulang ke kampung di lereng gunung itu?”
Aku terkesiap. Aku coba mengenali wajahnya. Tetapi kedua bola mataku seolah tertutup kabut tebal.
“ Itu kampung tempat aku dilahirkan. Ari-ariku tergantung di pohon nyiur dan tak akan musnah selamanya. Ia memanggilku untuk pulang sekedar menengok”
“ Ari-arimu sudah lebur dengan tanah”
“ Betul. Ketika ari-ariku lebur dengan tanah, aku memiliki keterikatan batin. Sejauh dimana pun aku pergi, aku harus pulang ke kampung itu. Ia adalah rahim ibu yang melahirkanku”
“ Betul. Kampungmu adalah rahim ibumu. Tapi demi siapa kau pulang ke kampung lereng gunung itu?”
“ Untuk ayah dan ibuku. Bertemu dengan saudara-saudaraku. Bertemu dengan semua orang yang kurindukan”
“ Ayah ibumu telah meninggal”
“ Kubur mereka masih ada”
“ Kubur ayah ibumu dan semua yang meninggal terlantar. Bahkan ada yang hilang. Kampungmu sudah sunyi ditinggal penghuni. Kampungmu hanya deretan rumah adat tak bertuan. Kampungmu seperti gundukan kuburan leluhurmu yang dijenguk hanya sekali setahun. Itulah kampungmu saat ini.”

Aku terbangun dari mimpi. Sejenak memandang tas yang sudah kukemas. Tiba-tiba saja muncul hasrat untuk mengurungkan niat pulang ke kampung di lereng gunung. Sebab untuk apa pulang kalau kampung itu sudah ditinggal penghuninya? Kupandang Cicil yang masih asyik menyiapkan bahan ajar untuk murid-muridnya di Regent School.
“ Sebaiknya aku batal saja ya Cil. Batal pulang?”
“ Ada apa? Tiba-tiba saja batal?”
“ Entahlah. Tapi rasanya kampung di lereng gunung itu tidak seperti dulu berpenghuni. Kampung sekarang sepi.”
“ Bang, kamu ke kampung untuk berdamai dengan leluhur. Biarpun kampungmu sepi tetapi leluhurmu tetap hidup. Roh dan nafas mereka ada di rumah adat. Mereka penghuninya yang abadi. Anak cucunya boleh pergi, meninggalkan mereka. Tetapi mereka akan tetap ada untuk anak cucunya, bahkan yang masih hidup.”

Ah, tidak sia-sia Cicil pernah hidup dan beradaptasi dengan budaya kampungku selama hampir lima tahun sebelum kami memutuskan untuk menetap di Bali. Ia paham bahwa leluhur tak pernah mati. Hanya wujudnya saja yang berubah.
Rencana pulang ke kampung di Lereng Gunung akhirnya benar-benar aku laksanakan. Seperti yang kurencanakan. Turun di Bajawa lalu menumpang bemo ke Wae Rongo.
Untuk beberapa saat aku mengagumi panorama Gunung Inerie dan bukit Wae Rongo. Dan menyusuri jalan berbatu melintasi Watu Dake, Watu Laba, Leko Nosi, Roba Ne Naru, Boza Benu dan Kuru Sebhege. Di Kuru Sebhege aku memandang laut lepas dan Tanjung Ngalu Roga yang disepuh sinar matahari sore. Suguhan panorama yang keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Puas menikmati panorama Kuru Sebhege aku menyusuri hutan sampai di Respal dan Wae Guru. Respal dan Wae Guru menyimpan kenangan indah di masa kecilku. Di sini tempat terakhir ayah dan ibu berkebun. Di sini pula tempat terakhir aku mengambil keputusan untuk merantau. Lalu kembali menyusuri jalan setapak sampai di Wae Robe, Wolo Watu dan tiba di kampung Bo Ngedo.

Benar apa yang aku alami dalam mimpi. Kampung-kampung di Lereng Gunung sudah sepi ditinggal penghuni. Dulu ketika SMP di Bajawa dan pulang libur, orang-orang di Bo Ngedo dan Watu akan menyapa dengan ramah, menyebut kami “Ana Segola Meze” (anak sekolah besar) pulang libur. Sekarang, jangankan orang, ayam pun tak ada lagi. Kampung-kampung yang sunyi tanpa penghuni. Kampung-kampung yang ditinggalkan tuannya.

Lebih mengiris dada lagi rumah adat telah berubah. Dulu rumah adat dibangun dengan bentuknya yang asli. Mulai dari tiang sampai atap berhubungan erat dengan alam. Tiang kayu atau batu, dinding kayu, lantai belahan bambu dan atap alang-alang. Tampak kuno tetapi terasa detak-detak sakralnya. Sekarang tiang dibuat dari beton, lantai dari beton dan atap dari seng. Tampak modern dan tanpa mampu melahirkan detak-detak sakralnya. Tak ada yang dibanggakan.

Aku pun sampai di gerbang kampung Maghilewa. Beringin tua di gerbang kampung sudah lama tumbang. Ada sebuah papan besar bertuliskan kata-kata “Situs Budaya Kampung Tradisional Maghilewa”. Konon tulisan itu dibuat oleh Dinas Kebudayaan. Seperti di Watu dan Bo Ngedo, kampung Maghilewa dan Jere pun sunyi ditinggal pergi penghuni. Atap alang-alang yang mampu membangkitkan detakan sacral berganti dengan atap seng. Masih ada beberapa orang yang setia menunggui rumah adatnya. Sebagian besar telah eksodus ke tepi pantai. Benar-benar seperti gundukan kubur leluhur yang tak pernah lagi disinggahi anak cucunya. 

Kuburan leluhur pun dibiarkan ditumbuhi belukar. Juga kuburan di samping gereja, terasa tak pernah dirawat. Kuburan orang-orang yang pernah melahirkan anak-anaknya yang saat ini masih hidup tetapi mereka enggan untuk datang bertandang. Kubur ayah dan ibunya bahkan telah hilang, tanpa tanda.

Dan catatan lusuh yang paling menyakitkan, rumah adatku ada yang telah hilang dari kampung tua, pindah ke tepi pantai. Dibangun dengan sangat megah. Tapi tanpa detak-detak sacral. Entahlah, mungkin mereka merasakan nilai estetika dari sebuah rumah adat yang dimodernisasi. Bagiku, yang asli itu indah. Selebihnya aku adalah orang mati rasa.***
Denpasar, 13 Juni 2018

Komentar

  1. Terus semangat, puisi dan cerpennya sungguh aktual.
    Tingkatkan gaya bahasa yang baik dan benar menurut EYD..!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU