ANAK LERENG GUNUNG (1)
Ceritera Bersambung


***Satu***
Matahari bersinar tepat di tengah langit. Debur ombak di pantai Waesugi menjilat
batu-batu perkasa hitam legam. Angin laut Sawu berhembus sepoi-sepoi. Dan aku terbang
melayang-layang seperti seekor burung
perkutut. Terbang ke masa kecil puluhan tahun silam. Menyusuri jalan-jalan setapak di kampung lereng gunung dan ke kebun-kebun
di kaki bukit. Dan hari ini aku ada di kampung
ini untuk menoreh kisah anak-anak Lereng Gunung.
Masa kecilku dan generasiku sangat tak bersahabat dengan
laut. Cinta pada laut dan batu-batu pantai baru mekar setelah remaja. Aku dan
generasiku baru merasa bangga sebagai anak-anak pantai selatan setelah pulang
dari kota. Generasiku pun tidak dilahirkan
di tepi pantai. Kampung kelahiranku tidak terletak persis di pantai selatan. Kampung Maghilewa bertengger di lereng gunung Inerie.
Orang desa menyebutnya Nua Maghilewa.
Dari lereng itu mata dapat menjelajah laut Sawu yang biru. Jarak dari
kampung itu ke pantai lima kilometer. Di masa hidup kami tak ada jalan raya
berbalut aspal. Hanya ada jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh
penunggang kuda dan pejalan kaki.
Maghilewa sebuah kampung tradisional. Rumah adat berdiri
berjejer membentuk segi empat.
Rumah adat itu beratap alang-alang dan
berdinding papan kayu. Tidak semua pohon
dapat dijadikan papan untuk bahan bangunan rumah adat. Hanya pohon khusus yang
dipilih leluhur dan diwariskan kepada
keturunanya. Warga desaku menyebutnya Pu’u Fai
dan Pu’u Oja. Bahan bangunan lainnya untuk membangun rumah adat dibuat dari batang pohon kelapa dan batang pohon
lontar.
Kampung Maghilewa
berundak-undak mirip anak tangga. Warga
desa menyebut setiap undak sebagai loka nua. Pada setiap loka nua berdiri rumah adat berjejer berhadap-hadapan.
Di loka nua didirikan Ngadhu dan Bhaga lambang leluhur laki-laki dan perempuan
sebuah klan atau woe. Di Maghilewa
terdapat empat Ngadhu dan empat Bhaga menunjukkan ada empat woe yang mendiami kampung tersebut. Tetapi ada woe yang sama memiliki
dua ngadhu dan dua bhaga.
Di lereng sebelah selatan gunung Inerie juga ada kampung-kampung tradisional lainnya.
Kampung Jere yang berdekatan dengan
Maghilewa, kampung Watu di utara kampung Maghilewa, kampung Bo Ngedo berdekatan
dengan kampung Watu dan kampung Leke di
sebelah barat sekitar tujuh kilometer
dari kampung Watu. Semua kampung tradisional itu berciri sama. Bentuk
kampung segi empat dan di tengah kampung
terdapat sejumlah Ngadhu dan Bhaga sesuai dengan jumlah woe yang mendiami
kampung-kampung tersebut.
Dari kampung-kampung tradisional ini lahir
anak-anak yang diberi julukan ana nua.Dan generasiku adalah ana nua yang menghabiskan masa kanak-kanak di
lereng gunung itu. Anak kampung yang tumbuh tanpa cita-cita kecuali setelah
menyelesaikan sekolah dasar lalu belajar
mencangkul ladang atau menyadap tuak. Atau memanjat pohon kelapa. Hanya
sebagian kecil memilih meninggalkan kampung dan merantau ke daerah lain. Yang
setia menunggui kampung tumbuh menjadi
dewasa lalu kawin dan melahirkan anak-anak. Inilah siklus kehidupan selama
berabad-abad seolah abadi tanpa
rekayasa sosial.***bersambung
Komentar
Posting Komentar