ANAK LERENG GUNUNG (10)

Ceritera Bersambung

 Gambar terkait
***Sepuluh***

Tahun 1967 waktu itu aku duduk di kelas empat. Orang-orang  di kampung Maghilewa  merasakan suka cita mendalam. Orang yang selama ini hilang akhirnya kembali ke kampung. Meskipun  tubuhnya menjadi  cacat. Ia  seorang pemuda yang penuh semangat dan cerdas. Ia adalah Rofinus Raga.

Beredar kisah lisan di kampung kami bahwa pemuda bernama Rofinus Raga itu sekolah di Sekolah Guru  Atas Ndao Ende. Ia mempunyai  kesenangan main basket. Pada sebuah pertandingan ia jatuh  dan menyebabkan tulang belakangnya patah. Rofinus Raga lalu dibawa ke sebuah rumah sakit  di Surabaya. Bertahun-tahun ia dirawat di kota itu dan ahirnya bisa sembuh. Tahun 1967  ia kembali  ke Maghilewa dengan tubuh yang cacat. Tetapi  tubuhnya yang cacat  tak mengurangi semangatnya untuk membuat perubahan-perubahan  di kampung.

Pada masa generasi kami menjadi anak-anak, kami masih menyaksikan  di setiap kampung  ada rumah agama. Orang kampung menyebutnya baru agama. Rumah agama itu  terletak di tengah kampung. Di kampung Maghilewa, Jere, Watu dan Leke terdapat  rumah agama. Sejak  kehadiran Rofinus Raga  rumah agama di Maghilewa menjadi ramai. Setiap malam  anak-anak  berkumpul di rumah agama itu. Rofinus Raga mengajak kami menyanyi dan mendengarkan  bacaan kitab suci. Ia menceriterakan riwayat hidup santo dan santa. Ia juga menceriterakan kembali  kisah perjanjian lama. Ia mengajak  anak-anak untuk  mendramatisasi bacaan injil.

Suatu malam Rofinus Raga mengajak kami mendramatisasi Injil yang mengisahkan Yesus memilih duabelas rasul. Kami memerankan nama-nama  para rasul. Aku mendapat peran sebagai Petrus, Dami Jawa sebagai Yohanes, Remi Righo sebagai Matius, Tony De’e sebagai Lukas, Frans Tena sebagai Yakobus, Niko Dhey sebagai Yudas Thadeus. Aku lupa  teman-teman lain yang mendapat peran nama rasul-rasul Yesus.

Ada kisah yang mengharukan sekaligus menggelikan. Ketika  Rofinus Raga menawarkan kepada anak-anak  siapa yang mau  berperan sebagai Yudas Iskariot, semua anak tak mau mengacungkan tangan. Karena tak ada yang mengacungkan tangan Rofinus Raga menunjuk Sius Laja sebagai Yudas Iskariot.
“ Siu Laja, kau jadi Yudas Iskariot.” Kata Rofinus Raga.
“ Ale, ja’o da bau nga’o le”, Teriak Sius Laja yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia  artinya  saya tidak mau.
“ Mengapa kau tidak mau?”
“ Saya tidak mau jadi Yudas Iskariot. Dia pengkhianat Yesus.”
“ Ini kan hanya peran” Kata Rofinus Raga.
“ Ele so’o dhano, ja’o  da bau” Kata Sius Laja yang artinya biarpun, saya tidak mau.

Karena dipaksa  Sius Laja pun menangis. Ia tidak mau  menjadi Yudas Iskariot. Tetapi setelah dijelaskan oleh Rofinus Raga bahwa  ini hanya  bermain peran Sius Laja pun menerima meskipun dengan  berat  hati. Keesokan harinya  di sekolah anak-anak memanggilnya Yudas Iskariot. Sius Laja  yang badannya besar mengancam  teman-teman yang berani memanggilnya lagi  sebagai Yudas Iskariot maka ia akan memukul. Anak-anak pun menjadi takut.

Suatu hari Rofinus Raga ke sekolah SDK Inerie. Ia tidak mengenakan  celana panjang tetapi memakai sarung. Rofinus Raga  diminta Kepala Sekolah Nikolaus Tuda untuk membantu mengajar  kelas tiga. Ia  menjadi guru yang sederhana. Suaranya lantang saat mengajar. Ia banyak berceritera sehingga anak-anak kelas tiga sangat menyukainya. Suatu hari ia bertanya kepada anak-anak.
“ Siapa yang tahu jarak dari sekolah ini ke Wae Tena  berapa kilometer?”
“ Kami  da busa  bapa guru”,jawab seorang anak yang artinya  kami tidak tahu  pak guru. Aku tidak tahu siapa anak itu karena kelas kami berbeda tetapi aku bisa mendengarnya dari kelasku  sebab  batas ruang kelas hanya dibuat dari pelupu.
“ Baik, kalau begitu besok kita ukur jalan ke mata air Waetena.”

Esok hari tepat  hari Jumat yang adalah hari krida  anak-anak kelas tiga pun mengukur jarak dari pintu keluar  sekolah  sampai ke sumber mata air Waetena. Kami  anak-anak dari kelas lain disuruh oleh guru kelas untuk ikut  sekaligus mengambil air untuk guru. Kami  sangat senang menyusuri jalan setapak menuju Waetena sambil mengukur jalan. Tiba di Waetena diketahui bahwa  jarak dari sekolah ke tempat itu lima kilometer. Di sumber mata air itu Rofinus Raga memberikan pelajaran.
“ Mengapa hutan di  sekitar  sumber air ini tak boleh ditebang?”
“ Kalau ditebang  nanti airnya kering”, jawabku.
“ Betul. Jadi kalau  hutan dibabat air akan kering. Karena itu beritahu orangtua agar di sekitar mata air ini jangan buka ladang.” Pesan Rofinus Raga.

Tetapi Rofinus Raga berhenti  sebagai guru SDK Inerie  pada tahun 1969. Sebab  waktu itu  masyarakat Desa Inerie  memilihnya menjadi Kepala Desa. Kami anak-anak merasa kehilangan  seorang sosok yang senang bermain dengan anak-anak. Sebab  setelah ia menjadi kepala desa, kegiatan kelompok bermain di  Rumah Agama pun tak lagi dilakukan. Meski demikian  kami bangga  karena  desa kami memiliki kepala desa yang cerdas, tegas dan berwibawa. Ia sosok yang berani melakukan perubahan. Sosok yang pantas menjadi idola dan pantas diteladani.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU