BANGKIT GENERASI MUDA NEGERIKU




Kepada berjuta anak bangsa
Bangkit generasi muda negeriku
Kita kibarkan bendera merah putih
Berlari  seperti kawanan kuda kekar
Sambil berteriak: Bangunlah dada kelana
Hirup udara kemerdekaan
Karena kita  adalah pemilik negeri ini

Berlarilah sambil merentang bendera bangsa
Menyusuri ujung timur sampai barat  Nusa Bunga
Terbang ke Pulau Sabana Sumba
Jadikan jiwamu petualang
Bersajak di punggung kuda sandalwood
Menggelorakan  bait-bait  indah
Bangun pemuda pemudi Indonesia
Singsingkan lengan  bajumu untuk Negara

Kita adalah generasi pewaris tanah Timor
Dan gugusan pulau-pulau rajutan tangan Tuhan
Irian Barat  dan Maluku
Sulawesi dan Kalimantan
Sumatera dan  Jawa
Bali, Lombok dan Sumbawa
Milik kita, harta kita
Jangan biarkan para garong menjarahnya

Kita adalah barisan pemuda bangsa
Berdiri  di masa kini
Tapi  tubuh dan jiwa kita untuk hari esok
Kita akan mengisi tempat yang kosong
Karena pasti waktunya akan  tiba
Dan kita harus mengambil alih
Tongkat kepemimpinan

Bangunlah dada kelana
Hirup aroma sumpah warisan
Berbangsa  Satu
Bertanah air satu
Berbahasa satu, Indonesia
Senandungkan  cinta pada negeri
Meski hidup masih harus diperjuangkan
Karena masih dililit temali kemiskinan

Kita yang harus merias wajah pertiwi
Agar  tampil  molek bestari
Kita bukan bangsa pengemis
Yang menadah tangan ke negeri lain
Kita yang akan menjadi pendobrak
Aga Indonesia  tampil jaya
“Dirgahayu Pemuda-Pemudi Indonesia”
Di tangan kita ada Indonesia masa depan.***

Maumere, 28 Oktober 1977



November

Ini bulan terakhir kita di sini
Di rerimbun daun-daun johar
Dan pada suara gesekkan dahan-dahan ketapang
Menikmati angin tengah hari
Berhembus mengecup daun nyiur
Lalu aku mendengar desahmu
Kita akan berpisah

Sepasang  perkutut di dahan  waru
Melantunkan doa cinta
Adakah itu kita?

Kutahu  esok  kita akan terbang
Aku ke barat dan kau ke  timur
Sebab masih ada  pelangi titian
Milik kita masing-masing
Yang belum pasti menyatu
Kita masih mencari dimana tempat mengasoh
Untuk memulai menanam benih
Yang kita petik dari  kebun semai

Jika Sang Maha Petunjuk  punya kehendak
Kita akan bersua di suatu tempat
Meski aku belum tahu dimana
Tetapi jika  waktunya tak tergapai
Kupastikan kita harus tetap bangga
Pernah ada di sini  pada sejemput waktu
Penuh kenangan

SPGK St. Don Bosco Maumere November 1977


Senyum Yang Terbang

Bapa, aku pulang ke rahim
Ke kampung tempat ari-ariku
Kau gantung di pohon lontar
Karena kau punya harapan
Kelak aku menjadi penyadap tangguh
Sekarang aku pulang
Menjengukmu di pembaringan abadi
Dengan rasa rindu
Rindu senyummu

Ibu, aku pulang ke rahim
Ke kampung tempat engkau mengedan
Melahirkan aku di pondok  belakang kampung
Kau beri aku nama Ghedo
Karena kau harus mewarisi adat leluhur
Dan berharap kelak aku jadi laki-laki tangguh
Penakluk segala waktu
Sekarang aku pulang
Menjengukmu di istana abadi
Dengan rasa rindu
Rindu senyummu

Kamu adalah  bintang-bintang
Yang melekat di dadaku
Dengan sinar yang tak pernah redup
Kutahu hari esok dan seterusnya
Kamu akan menuntun langkahku
Ke belahan bumi  mana kupijak
Cinta kamu tak pernah lusuh
Pada anakmu

Aku pulang ke rahim
Ke tempat kamu tidur abadi
Ingin kutunjukkan ijasah guru
Yang kamu  inginkan
Meski kamu tak sempat menimang
Karena perpisahan  sudah ada yang mengaturnya

Esok adalah hari yang mulai kulewati
Dan seterusnya  mengejar mimpi
Aku tak tahu akan menjadi apa
Karena rahasia hidupku  dalam genggamanNya
Dan kamu berdua adalah kekuatan
Meski aku tahu senyum kalian telah terbang
Dan aku selalu gagal menangkapnya kembali.***

Maghilewa, awal Desember 1977

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU