ANAK LERENG GUNUNG (9)
Ceritera Bersambung


***Sembilan***
Setiap hari Jumat tidak ada
pelajaran di dalam kelas. Namun kami harus tetap ke sekolah. Hari Jumat
adalah hari krida. Pada hari itu para
murid dan guru membersihkan lingkungan sekolah dan setelah itu bermain sepuas
hati. Kami juga membantu membersihkan
rumah guru kelas. Murid perempuan membantu mama guru membersihkan
alat-alat dapur. Mama guru adalah sapaan
untuk istri para guru.
Sekolah kami di lereng gunung Inerie jauh dari
kota. Maka juga tak ada fasilitas seperti
yang dimiliki sekolah-sekolah di kota. Tak ada lapangan bola. Tak ada
sarana bermain yang memadai. Meskipun kami anak desa tetapi kami mampu menciptakan permainan. Beberapa
jenis permainan yang kami lakukan
seperti main kelereng atau fedhi dhara, main gasing atau wela maka, main
batu atau jedho watu, main tali atau leba aze dan lain-lain.
Setiap permainan itu selalu tampil jagoannya. Di kelas kami jagoan main kelereng adalah Remi Righo. Siapa
saja yang bertarung dengannya tetap dia
yang menang. Setelah semua lawannya
kalah Remi Righo akan menjual kembali kelerengnya. Tetapi pembayarannya bukan
dengan uang karena kami tidak diberikan bekal uang oleh orang tua. Kelereng
dibarter dengan bekal seperti ubi bakar,
pisang bakar dan kelapa muda. Murid
laki-laki rela lapar asal bisa mendapatkan kelereng sehingga bisa bertanding lagi.
Aku termasuk
murid yang berlangganan barter dengan
Remi Righo. Aku rela menyerahkan
bekal ubi bakar kepada Remi Righo asal
bisa mendapatkan sepuluh butir kelereng. Tetapi setiap kali bermain aku selalu berada di posisi yang kalah. Meskipun terus
kalah namun aku tidak kapok. Hampir setiap hari membarter kelereng dengan Remi
Righo.
Suatu hari aku merasa badan lemas. Keringat mengucur sekujur tubuh.
Perut sakit. Aku kehilangan tenaga. Kepalaku pusing dan berkunang-kunang saat
berdiri. Aku pun jatuh pingsan. Ketika sadar sudah berada di rumah guru Valens. Mama guru
Nela memberiku minum air panas.
“ Kau kenapa Tinus?” Tanya mama guru Nela dalam
bahasa daerah.
“ Ai gezi mama guru”, jawabku dalam bahasa
daerah yang artinya tidak tahu mama.
“ Kalau begitu kau makan dulu.”
Mama guru Nela memberiku makan dua potong ubi
rebus. Dan setelah makan tubuhku kuat lagi. Aku bisa berdiri dan kepalaku tidak pusing lagi.
“ Kau sudah baik?” Tanya mama guru Nela.
“ Sudah
mama guru.” Jawabku.
“ Kau tahu kau punya sakit apa?”
“ Tidak tahu
mama guru.”
“ Kau tegetino. Besok bawa bekal
supaya jangan tegetino.” Tegetino dalam bahasa Indonesia adalah
kelaparan. Aku benar-benar malu. Tiap pagi bawa bekal tetapi bisa kelaparan. Sejak kelaparan itu aku
berhenti barter kelereng dengan Remi Righo.
Hari Jumat memang hari yang menyenangkan. Selain tidak ada pelajaran dalam kelas juga kami bisa bermain sepuas hati. Salah
satu permainan yang kuingat adalah
perang-perangan. Lokasinya di halaman gereja dan kuburan. Kebetulan di kuburan
ada sejenis bunga yang selalu berbuah sepanjang musim. Buah bunga itulah yang
kami gunakan untuk alat berperang. Biasanya kelompok Jere Maghilewa akan berhadapan dengan kelompok Watu Leke.
Meskipun kampungku di Maghilewa tetapi aku dan orangtua tinggal di kebun dekat
kampung Leke. Karena itu aku memilih masuk di kelompk kampung Leke.
Perang-perangan itu ditandai dengan saling melempar menggunakan buah bunga.
Yang terkena dianggap telah mati.
Suatu hai Jumat
kami bermain perang-perangan lagi. Remi Righo berhasil mengenai sasarannya Yoseph Waso. Tetapi Yoseph Waso
tak mau jatuh ke tanah menandakan bahwa ia sudah mati. Yoseph Waso bahkan balik menyerang Remi Righo bukan dengan
lemparan buah bunga tetapi dengan
meninju Remi Righo. Maka terjadilah perkelahian. Remi Righo dan Yoseph
Waso saling bergumul. Kami yang
lain menjadi supporter memberikan semangat.
Perkelahian
baru berhenti setelah tuan Pater Classens SVD datang dari pastoran.
Melihat sosok Pater kami semua diam dan menundukkan wajah. Kami tak berani
melihat mata tuan Pater. Kami menyapa Pastor dengan sapaan Tuan Pater.
“ Siapa yang berkelahi ini?” Tanya tuan Pater.
“ Remi Righo dan Ose Waso.”
“ Mengapa kamu dua berkelahi?”
“ Kalah perang tuan Pater.” Jawabku.
“ Perang apa itu?” Kami semua tak ada yang
berani menjawab.
Tuan Pater
menyuruh kami masuk dalam gereja.
Ia lalu memberi pelajaran agama. Tuan Pater Classens mengatakan berkelahi itu dosa. Kalau orang
sudah terbiasa berkelahi dari kecil maka akan terbiasa berkelahi kalau sudah
dewasa. Bahkan bisa menjadi seorang
pembunuh. Sejak itu tak ada murid yang berani
berkelahi karena tak mau menjadi
pembunuh kalau sudah dewasa. Meskipun kami masih tetap bermain kelereng atau
perang-perangan.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar