ANAK LERENG GUNUNG (8)




Ceritera Bersambung

 Gambar terkait
 ***Delapan***


Hari itu tanggal 27 Januari 1969. Aku bangun pagi sekali karena  setiap pagi harus ke sekolah lebih pagi. Perjalanan dari kampung Leke ke sekolah di Kampung Maghilewa menempuh jarak delapan kilometer. Kami tidak diperbolehkan terlambat. Kami pun merasa takut jika terlambat ke sekolah. Biasanya  kami memilih bolos kalau merasa diri sudah terlambat.

Pagi hari itu  kami sudah berbaris di depan kelas dan bersiap-siap  masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran. Tiba-tiba  matahari yang bersinar cerah  menjadi redup. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat. Kami merasa  ada hujan abu  turun dari langit. Bumi Maghilewa pun semakin gelap. Kepala Sekolah Nikolaus Tuda  mengumumkan  supaya murid-murid  yang kampungnya dekat  segera pulang. Murid-murid dari kampung Leke  ditampung  di rumah-rumah para guru.

Bumi Maghilewa pun benar-benar  gelap gulita. Hujan debu  tercurah dari langit. Kami tidak tahu mengapa  terjadi hujan debu. Kami  berpikir  jangan-jangan  dunia mau kiamat.
“ Kora bere. Otaola nga kora bere.” Teriak Dami Jawa dalam bahasa daerah yang artinya  kiamat, dunia mau kiamat.
“ Betul, dunia ini mau kiamat.” Aku berteriak.

Kami menjadi sedih. Dalam kegelapan kami berdoa agar  Tuhan melindungi kami dan leluhur menyertai  kami. Kami mohon agar Tuhan menjauhkan kami dari bencana kiamat. Kami pun menangis  dalam kegelapan. Kami ingat  orangtua  di kebun. Kalau benar-benar dunia mau kiamat maka kami  akan mati pada tempat yang terpisah-pisah.

Hujan debu terus tercurah dari langit. Atap rumah adat  yang terbuat dari alang-alang  sudah tertutup  debu. Halaman   kampung  yang disebut loka  juga sudah penuh dengan debu. Kami tidak tahu berapa lama kegelapan  terjadi. Tapi kegelapan itu berlangsung hingga sore hari. Lalu perlahan-lahan  mulai terang. Dan matahari  bersinar lagi. Kami lega. Kami tahu bahwa  dunia belum kiamat. Kami bergegas meninggalkan kampung  dan segera ke kebun untuk bertemu dengan orang tua.
Ketika matahari kembali bersinar  kami menyaksikan  alam yang rusak oleh terjangan debu. Ranting pohon banyak yang patah karena tak mampu menahan beban debu. Daun-daun kelapa pun rusak. Tanaman pisang juga tak luput dari terjangan debu tersebut. Kerusakan  tanaman  dialami oleh para petani. Inilah bencana alam yang cukup parah. Tetapi kami tidak tahu apa penyebabnya. Mengapa bisa terjadi hujan debu.

Keesokan harinya  kami ke sekolah seperti biasa. Kami sedih karena  sekolah kami  rusak. Atap bangunan sekolah yang terbuat dari alang-alang  tak mampu menahan beban debu. Tapi hari itu tidak ada pelajaran di dalam kelas. Kami duduk berkelompok  di bawah pohon mangga  atau di tempat teduh. Kami  saling membagi pengalaman saat terjadi kegelapan.

Menjelang  siang  kepala sekolah Nikolaus Tuda mengumpulkan  murid-murid di depan sekolah yang rusak. Ia pun menyampaikan apa yang  ia dengar dari siaran RRI  Kupang.
“ Anak-anak, kegelapan yang terjadi kemarin itu adalah bencana alam. Penyebabnya adalah gunung yang meletus. Gunung yang meletus itu adalah Gunung Iya. Siapa yang tahu Gunung Iya itu terletak dimana?”  Tanya Kepala Sekolah.
“ Di Ende.”  Teriak Roni Pea sambil mengacungkan tangan.
“ Pea, kau ma’e tolo tau le”, ujar Tinus Rato yang artinya Pea kau jangan  bicara sembarangan.
“ Betul di Ende ko. Saya  kan pernah libur di Ende. Di sana ada om saya Polus Jawa yang tinggal di Pu’u Naka. Gunung Iya itu dekat Gunung Meja.”
“ Pea, kau benar. Jadi anak-anak  Gunung Iya itu terletak di Kota Ende. Gunung Iya adalah gunung berapi. Meletus pertama kali tahun 1671. Lalu meletus lagi tahun 1844. Tahun 1867 kembali meletus dan meletus lagi tahun 1869.Jadi kalian sudah tahu apa sebabnya kemarin terjadi gelap.”
“ Oh, kami kira kora bere.” Teriak Yoseph Waso.
Dan kami pun tertawa riuh. Meski  demikian  kami merasa bersyukur karena  ternyata  hanya bencana alam gunung meletus. Namun  bencana gunung meletus  tak pernah menyurutkan semangat kami untuk tetap bersekolah. Ketika  orang tua secara gotong royong memperbaiki sekolah kami  tetap belajar di rumah  guru-guru. Kami kelas enam  belajar di rumah guru kelas Valens Wangu.
Hari itu Guru Valens Wangu menceriterakan legenda tentang  gunung Iya. Jaman dahulu di Ende hidup seorang gadis bernama Meja. Ia gadis  yang sangat  cantik. Ada dua pemuda tampan bernama Wongge dan Iya. Wongge  dari keluarga sederhana, tampan dan berwatak tenang, ramah dan sopan.  Wongge berkawan dengan seorang pemuda lain bernama Kengo. Kemana-mana keduanya selalu bersama.

Hidup pula seorang pemuda lain bernama Iya. Ia dari keluarga kaya dan bertabiat serta berperilaku sangat buruk. Iya sangat sombong, mudah marah  dan pencemburu. Iya juga memiliki kegemaran merokok. Kepulan asap rokok selalu mengelilinginya. Kedua pria gagah ini selalu berusaha untuk mendekati Meja. Kadang Wongge yang datang mendekat, kadang pula Iya yang datang mendekati Meja. Tetapi Meja lebih memilih Wongge  sebagai kekasihnya.

Pemuda Iya  naik pitam. Iya datang menemui Meja.Iya melamar Meja namun  ditolak oleh Meja. Meja jujur mengatakan bahwa  ia sudah memilih Wongge. Maka murkalah Iya pada Meja. Di saat sama Wongge yang ditemani Kengo datang. Muncul niat jahat dari Iya.Dengan secepat kilat Iya mengeluarkan parang dari sarungnya dan menebas kepala Meja. Kepala Meja terlepas dari badannya hingga terlempar jatuh ke arah timur menjadi pulau  yang disebuat pulau Koa. Iya melempar parangnya dan jatuh ke arah barat  lalu berubah menjadi Pulau Ende.

Guru Valens mengingatkan kepada kami agar menjadi orang yang berwatak baik, rajin belajar dan suka menolong. Kami  memang sekolah tanpa cita-cita. Tetapi menyelesaikan Sekolah Dasar  adalah kewajiban yang diwajibkan oleh semua orangtua. Dengan demikian kami tumbuh menjadi orang-orang yang mendiami sebuah kampung dan taat pada ajaran agama  serta taat pada kearifan warisan leluhur.***Berambung






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU