ANAK LERENG GUNUNG (5)

Ceritera Bersambung



 Gambar terkait




***Lima***

Sekolah tanpa cita-cita itulah generasi kami. Kalau kami ditanya  mau jadi apa  kami  menjawab enteng saja sabho tua (iris moke) dan rau uma (kerja kebun). Tak banyak yang  bercita-cita menjadi polisi, guru atau tentara. Tak ada yang bercita-cita  jadi pastor  atau bruder, suster  atau biarawan. Guru-guru pun tak pernah memberikan motivasi bahwa setelah selesai di Sekolah Dasar  para murid bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Cita-cita untuk melanjutkan ke sekolah lebih tinggi  masih sangat langka.

Ketika  aku duduk di kelas empat guru Valens Wangu mengajarkan sebuah lagu. Dan lagu itu sering kami nyanyikan  sepanjang  jalan pulang  dari sekolah menuju kampung Leke. Jalan pulang  itu sepanjang delapan kilometer harus melewati  jurang yang dalam di Watu Tagaraga dan Wae Meza. Kalau ingin melepas dahaga  kami akan lewat di sumber mata air Wae Tena.Air gunung yang segar dan bisa langsung diminum. Wae Tena menghidupkan  masyarakat kampung Watu, Maghilewa, Jere dan Leke. Di musim kemarau Wae Tena tetap mengalirkan air yang segar dan bening.  Tempat yang dinamakan Watu Tagaraga  adalah batu berbentuk kursi. Kami sering duduk di kursi batu itu sambil  menyanyi.

Kami juga sering istirahat di sebuah batu besar bernama Watu Meze sambil menyanyikan lagu Sabho Tua (iris moke) yang diajarkan oleh guru Valens Wangu. Lagu ini  bukan karangannya karena sudah populer di Kabupaten Ngada jauh sebelum kami masuk sekolah dasar Inerie. Syair  lagu Sabho yang masih kuingat adalah Sabho tua ne’e kema uma e, sama  ata tima gaji wula e. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya iris moke dan kerja kebun sama dengan pegawai yang menerima gaji bulanan. Mungkin karena syair lagu ini maka banyak murid di kelas kami pun bercita-cita menjadi penyadap tuak dan  menjadi petani.

Menjadi petani adalah warisan leluhur. Karena itu sejak leluhur kami  sudah ada nasihat-nasihat untuk giat mengolah  tanah agar bisa  hidup wajar. Nasihat leluhur itu diwariskan lagi secara lisan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Salah satu nasihat leluhur yang kudengar  dari tutur ayahku  adalah bugu ne’e kungu, uri ne’e logo, ne’e go tuza mula, ne’e go wesi peni, raba loka moe muku fuka, bo moe tewu taba. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya jari-jari tangan harus tumpul, belakang harus hitam legam terbakar matahari, harus  menanam dan harus memelihara ternak agar hidup sejahtera seperti  pisang yang terus mengeluarkan  mayangnya  dan tebu yang terus bertunas tiada henti. Nasihat itu bermaksud agar semua orang harus giat bekerja sebagai petani dan menjauhkan sikap malas.

Berjalan kaki delapan kilometer dari Leke ke sekolah sungguh sangat melelahkan. Apa lagi harus membawa beban satu bambu kecil  air dan tiga batang kayu  untuk guru serta tempat  bekal yang disebut lega atau bere. Biasanya  kami dari kampung Leke  akan menyembunyikan  bekal  di Pu’u Pau Lasekaba, sejenis pohon mangga yang buahnya mirip kelamin  kerbau jantan. Tidak diketahui mengapa diberi nama itu dan  siapa yang memberi nama tersebut. Baik ke sekolah maupun pulang  sekolah kami selalu  berkelompok. Nama-nama  yang masih kuingat adalah Bartolomeus Delo, Yoseph Waso, Nikolaus Dhey, Paulus Raro, Benedikta Bu’e, Yosefina Deu dan Maku Rajo. Kelompok kami ini dapat menyelesaikan sekolah sampai kelas enam.

Tentang cita-cita, suatu hari ketika kami duduk di kelas enam, kelas kami riuh dengan  suara tertawa. Ketika itu guru Valens Wangu menanyakan  kepada kami apa cita-cita  kami. Guru Valens Wangu bertanya, siapa yang bercita-cita menjadi tukang iris moke dan kerja kebun. Semuanya  mengacungkan tangan. Umumnya laki-laki di kampung kami adalah iris moke  atau kerja kebun. Sedangkan perempuan  umumnya kerja kebun namun membantu suaminya mencari kayu bakar untuk memasak  nira lontar menjadi arak yang disebut rubha tua. Tapi ada tiga orang yang tidak mengacungkan tangan. Semua mata tertuju kepada tiga orang itu yakni  aku, Roni Pea dan Yoseph Madha. Guru Valens bertanya kepadaku.
“ Eee Ghedo  cita-citamu mau jadi apa?”
“ Mau jadi guru”. Dan kelas menjadi riuh dengan tawa  para murid. Guru Valens bertanya kepada Roni Pea.
“ Pea, kau mau jadi apa?”
“ Sama, mau jadi guru.”  Kelas pun ramai lagi dengan  tawa para murid. Guru Valens bertanya kepada Yoseph Madha.
“ Madha, cita-citamu mau jadi apa?”
“ Sama juga, mau jadi guru.” Kelas pun riuh lagi.

Di masa kami guru-guru jarang menyapa kami dengan  nama baptis. Para guru  akan menyapa kami dengan nama leluhur. Tetapi  entah mengapa  kami merasa lebih dihargai jika guru menyapa dengan nama leluhur. Apa lagi  kalau guru menghafal nama, itu tanda bahwa  murid tersebut  dikenal guru karena  kepintarannya. Di kelas  kami  ada  nama murid yang sangat dihafal oleh guru Valens. Nama-nama itu antara lain Tinus Ghedo, Roni Pea, Yoseph Madha, Dami Jawa, Toni De’e, Tinus Rato, Bart Delo, Laus Pambut, Nina Fono , dan Sius Laja. Guru Valens mengatakan  nama murid-murid ini termasuk kelompok yang pintar. Tapi harus diakui  Roni Pea dan Yoseph Madha  adalah murid terpintar di kelas kami.***Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU