ANAK LERENG GUNUNG (4)

Ceritera Bersambung



 Gambar terkait


***Empat***

Dari lereng  Inerie generasiku sering memandang buih-buih putih putih di laut Sawu. Kami menyebut buih gelombang laut itu dengan sebutan Lelu Wela. Kami sungguh tak bersahabat dengan laut. Leluhur kami  seolah mewariskan  petuah bahwa laut itu ganas dan berbahaya  karena dapat menelan hidup-hidup siapa saja yang berani berenang  di kedalaman. Meskipun jarak kampung  dengan pantai  hanya lima kilometer  tetapi kami jarang ke pantai. Kami hanya mengagumi laut dari lereng gunung. Mengagumi  matahari senja yang memantulkan sinar kemilau keemasan pada hamparan laut Sawu.

Warga kampung ke pantai hanya pada saat  bulan  terbit di barat  yang disebut Wula Be  dan ketika  bulan purnama  disebut Wula Sepe. Pada dua musim  ini air laut surut  dan orang-orang di kampungku ke pantai untuk mencari siput dan hewan laut lainnya yang bisa dijadikan lauk pauk. Kegiatan  ke pantai mencari siput  disebut dua kima. Jika  laut surut pada  Sabtu sore  aku mengikuti  bapa  atau ibu ke pantai. Tetapi mereka  akan memberi peringatan agar aku berhati-hati pada laut  karena  laut  bisa membunuh.

Ketika  kami duduk di kelas empat sampai kelas enam sekolah dasar Inerie kami  sering ke pantai. Bukan untuk  melatih berenang  tetapi untuk mengerjakan kebun kacang hijau milik guru kelas. Usai bekerja  kami berkesempatan mandi laut di pantai Wae Sugi. Tetapi kami bukan perenang yang tangguh. Karena itu  kami hanya berenang  di tepian  persis pada pecahan ombak.Kami selalu mawas diri dan berhati-hati sambil terus mengingat pesan orang tua bahwa laut bisa membunuh. Tak heran jika sampai  menyelesaikan  kelas enam  kami  tidak pandai berenang.

Tetapi masa-masa di sekolah dasar sangat menyenangkan. Pelajaran yang  paling kusukai adalah mengarang atau berceritera dan menyanyi. Guru Valens Wangu  akan menunjuk satu persatu berdiri di depan kelas  untuk berceritera. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Pada hal  sampai  duduk di kelas empat kami belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Bahasa pergaulan kami  adalah bahasa  daerah. 

Suatu hari giliran Tony De’e  disuruh guru Valens Wangu  untuk berceritera. Ia  tampak bingung mau menceriterakan apa. Tony De’e tinggal bersama orangtuanya  di kebun di Wae Sewa persis di pinggir hutan gunung Inerie. Tiap pagi ia harus menyusuri jalan setapak ke sekolah. Demikian juga sore hari ia akan menyusuri jalan yang sama. Kebetulan pagi hari itu mendung karena   bertepatan dengan musim hujan. Tony De’e mulai berceritera.
“ Teman-teman tadi pagi itu waktu saya mau pigi (pergi)  sekolah, saya rasa takut. Sebab  di jalan ada  malam sa menggigit tanah.” Semua murid hening sambil memandang Tony De’e. Guru Valens pun memandang Tony De’e.
“ Coba kau ulang kata-kata yang terakhir itu De’e.”
“ Malam sa menggigit tanah” Tony De’e  mengulang kata-kata itu. Tampak guru Valens tak mengerti  maksud Tony De’e.
“ Aduh De’e, saya ini guru juga tidak mengerti maksudmu. Coba kau terjemahkan dalam bahasa daerah.”
“Kobe sa kiki tana”
Mendengar terjemahan dalam bahasa daerah itu  aku dan teman-teman tertawa terpingkal-pingkal. Tony De’e yang duduk dekatku berbisik.
“ Ale  jou, ja’o da busa  go bahasa Indonesia  kobe sa kiki tana (Teman, saya tidak tahu bahasa Indonesia  kobe sa kiki tana)”
“ Mendung menyelimuti tanah.” Jawabku.
“ E’e kena na jou (Yah, itu teman)” Tanggap Tony De’e setengah berteriak. Kelas pun gemuruh dengan tawa  delapanpuluh  murid. Guru Valens pun tertawa. Ini sepenggal kenangan  bagaimana  kami anak desa  jatuh bangun belajar bahasa Indonesia. Sebab para guru kami pasti akan mewajibkan kami bicara bahasa Indonesia selama di dalam kelas.

Guru Valens pandai menggubah lagu dalam bahasa daerah setempat yang mengisahkan situasi dan kebiasaan  masyarakat setempat. Meskipun  kami tinggal di lereng gunung tetapi guru Valens mengajar kami  melalui lagu  agar kami mencintai laut dan merasa bangga sebagai anak-anak pantai selatan. Salah satu lagu yang kuhafal adalah lagu ini. Ooo kami isi lau, dhoma da ka go nage mau, lau mata mau go lai belo ngalu, lau riki reka  go ebo lulu ledha. Zoka si go kowa  sai zale ngalu roga  mule mora dhoa zeta tolo kowa. Ulu mena ulu zale  ika kima dele papa lae. O doa, ma’e rebho go tudhi fongo raba soki go ngio ngao. Ne’ e uwi, ne’e ejo, forigoji,forigoji.

Lagu ini diterjemahkan seperti ini.O kami anak pantai biasa  makan asam pantai. Di pantai layar terkembang di tanjung, saat  air surut laut berombak kecil . Dayunglah sampan sampai di Ngalu (tanjung) Roga. Ke timur ke barat  melihat ikan dan siput  berenang. O teman jangan lupa membawa  pisau tumpul  untuk mencungkil  siput laut. Setelah  itu lawar lalu makan dengan ubi, enak sekali. Lagu ini membuatku selalu mengenang sosok Valens Wangu, guru yang telah berjasa mendidikku dengan caranya sendiri.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU