ANAK LERENG GUNUNG (22)


***Duapuluh dua***
Pebruari 1973 bapa memutuskan untuk tidak menyadap. Kata bapa, secara fisik sudah tak kuat naik turun pohon lontar untuk menyadap. Bapa punya alasan, kebun di Kopo Rongo tak ada yang mengolah. Bapak harus membantu kakak perempuan Maria Mola untuk membersihkan rumput di ladang itu. Ladang dengan tanaman padi yang mulai bunting dan jagung yang mulai menua. Akupun mengikuti bapa ke Kopo Rongo. Tapi tugasku adalah menjaga monyet yang seringkali datang dari hutan untuk mencuri jagung.

Saat menjaga kebun itu aku menciptakan alat music dari bambu suling yang dibela kemudian ditiup sehingga menghasilkan suara seperti klarinet. Kadang-kadang aku ditemani adik sepupupuku Yoseph Liko. Kami duduk di sebuah pondok yang aku bangun di atas pohon bernama pu’u kebu. Lalu dari sana, kami makan jagung bakar dengan lalapan daun kacang serta sambal yang disebut koro pake. Kami lalu mendendangkan lagu kami no piri. Syair lagunya seperti ini. Kami no piri, piri mena dhiri, kami jodho setoko, kami nore sewole, uta sobho olo dongo, ne’e go koro dhobi zo. Aku tidak tahu siapa yang mengarang lagu ini. Tapi kami senang menyanyikannya.

Setiap Sabtu dan Minggu kami harus bergantian menjaga kebun. Kalau bapa yang ke kampung untuk ibadat hari Minggu maka akulah yang menjaga kebun. Tetapi akulah yang lebih banyak ke kampung Maghilewa pada Sabtu dan Minggu karena bapa mengatakan iman anak-anak tak boleh dikorbankan hanya karena kesenangan orangtua, termasuk memaksa menjaga kebun.

Tahun 1973 kampung Maghilewa mulai sunyi.Satu persatu warganya exodus ke tepi pantai. Setelah sekolah dasar pindah ke Malapedho orangtua yang mempunyai anak sekolah harus pindah ke Malapedho. Kepala Desa Inerie Rofinus Raga menjadi perintis sebuah pemukiman modern di pinggir pantai. 
Pemukiman yang menjadi sebuah kota kecil bernama Malapedho. Pemukiman yang ditata secara terencana tanpa memerlukan studi banding atau studi kelayakan. Mungkin Rofinus Raga terinspirasi pengalamannya saat beberapa saat menimba pengalaman di kota Surabaya.

Maret 1973, ibu kembali dari Lela. Ibu tampak sehat. Tangan kanan yang kaku dan gemetaran sudah tak tampak lagi. Ibu benar-benar bisa kembali mengerjakan kebun. Di kebun Kopo Rongo ditanam berbagai jenis tanaman. Mulai dari padi, jagung, jewawut, jagung solor, ubi rambat, ubi talas, ubi kembili dan lain-lain. Ibu dan bapak lebih banyak tinggal di Kopo Rongo. 

Di tahun 1973 itu Kepala Desa Inerie Rofinus Raga membuat terobosan dengan membuka pasar Wae Sugi. Pasar dibuka setiap hari Sabtu. Para pedagang memenuhi pasar tersebut. Aku membantu ibu menjual sayur ke pasar itu. Namun karena aku tidak punya bakat berdagang, jualanku tak lagu. Terpaksa aku menukarnya dengan garam. Hari Sabtu berikutnya aku ke pasar Waesugi tetapi tidak untuk menjual sayur. Aku membantu kakak Emanuel Ruma untuk menjual biscuit miliknya. Kalau laku maka aku akan mendapat persennya. Cara menjualnya berkeliling pasar sambil berteriak biskuit, biscuit, sayang anak, sayang anak. Ternyata teriakan itu membuat biscuit laris manis.

Setiap kali pasar di Waesugi aku selalu tertarik dengan seorang pedagang tembakau. Namanya om Domi Keli. Cara menjual tembaku yang ia lakukan sangat unik. Kalau ada yang membeli tembakunya, ia akan menghitung dengan caranya, satu es lilin, dua bibir solo, tiga nona delima, empat kaki meja dan seterusnya. Suatu hari aku bertemu dengan teman Leo Sebo Neno. Ia membantu ayahnya Frans Neno yang terkenal sebagai salah satu pedagang. Kami sangat senang karena setelah sekian bulan meninggalkan SMP Sanjaya kami bertemu lagi di pasar Wae sugi.Ia kelas B, sekelas dengan Eta Wou, Jo Dama, Yuli Bhubhu, Domi Begu dan lainnya. Ini pertemuan pertama setelah kami sama-sama tak melanjutkan sekolah.
"Ghili, engkau tidak melanjutkan sekolahmu?, tanyaku. Ghili adalah sapaan dalam bahasa Bajawa yang artinya teman.
"Bapaku minta aku satu tahun di luar dulu membantunya berdagang. Tahun depan aku akan ke Ende. Aku sudah diterima di Kandidat Bruder", ujar Leo Sebo.
"Kandidat Bruder, apa itu ghili?"
"Kandidat bruder itu sekolah mau menjadi bruder SVD"
"Menjadi bruder, apa itu?"
"Eihhh ghili, pokoknya jadi bruder. Seperti apa itu aku belum tahu. Yang pasti lamaranku sudah diterima. Nanti Januari 1974 aku akan masuk biara", ujarnya lagi. Kandidat bruder, entah apa maksudnya, tetapi itu sudah mengganggu ketenanganku tinggal di Maghilewa. Kemana aku pergi kata-kata kandidat bruder terngiang terus. 


April 1973, aku dan ibu serta bapa berada di kebun Kopo Rongo. Seharunya hari itu kami ke kampung Maghilewa karena hari minggu. Namun sejak malamnya mendung. Dan sejak pagi hari hujan terus turun diiringi hembusan angin dari pantai selatan. Angin terus berhembus kencang dan berubah menjadi taufan. Aku melihat pohon di hutan lereng gunung Inerie patah dan berjatuhan. Pondok tempat kami tinggal roboh. Suasana benar-benar sangat mencekam. Hari itu bencana angin taufan meluluhlantakkan semua tanaman dan pohon kelapa bertumbangan. Beberapa rumah di kampung tradisional Maghilewa, Watu, Jere dan Leke roboh. Tetapi rumah adat tetap berdiri tegak. Aku heran dengan kekuatan rumah adat yang tetap bertahan meskipun diterpa angina taufan.

Tanaman padi yang siap panen rusak. Pada hal baru sebagian kecil dipanen. Bapa dan ibu memutuskan untuk meninggalkan Kopo Rongo dan kembali ke kampung Maghilewa. Di kampung ada nenek Monika Moi yang sudah tua berusia sembilanpuluh tahun. Perjalanan dari Kopo Rongo ke kampung melalui jalan setapak yang telah ditutupi oleh pohon yang bertumbangan. Bapa harus memotong ranting-rantingnya agar kami bisa melewatinya.


Kami melihat pemandangan yang mengerikan. Lereng gunung Inerie bagian selatan yang ditumbuhi hutan seolah gundul. Ranting pohon yang patah bertumbangan menyisakan tonggak-tonggak menjulang. Pohon nyiur bertumbangan. Tanaman pisang pun tak luput dari amukan. Dan Gereja Tua yang dibangun pada tahun 1919 pun roboh. Robohnya gereja itu nyaris memakan korban. Beberapa anak yang berlindung di bawah candi gereja itu hampir saja tertimpa . Tuhan masih melindungi mereka. Seorang remaja bernama Antonius Deghe terluka parah di lutunya. 

Yang aku heran adalah semua rumah adat di Maghilewa dan Jere tidak roboh. Ia tetap berdiri tegak di tempatnya. Bapa mengatakan rahasia kekuatan rumah adat itu sehingga bisa bertahan terhadap badai. Kata bapa, kekuatan rumah adat terletak pada lasu wisu dan lia loki. Ketika lasu wisu dan lia loki bersatu, maka tak akan bisa menggoyahkan. Kata bapa, rumah adat adalah lambang kekuatan perkawinan perempuan dan laki-laki. Kekuatan kelamin perempuan dan kelamin laki-laki yang dipersatukan atau diikat dalam perkawinan. Kalau perkawinan kuat maka maut apapun tak akan menggoyahkan. Itulah bencana angin taufan yang kami alami di masa kami remaja tahun 1973. Kenangan yang menggetarkan dan membuat aku masih mengenangnya sampai kini.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU