ANAK LERENG GUNUNG (20)



***Duapuluh***

Ujian akhir tanpa ujian pemantapan kecuali studi tiap sore selama tiga bulan. Itu yang kami alami. Waktu itu bulan Oktober 1972. Saatnya ujian akhir setelah tiga tahun mengenyam pendidikan di SMP Sanjaya Bajawa. Ujian akhir tanpa menggegerkan Indonesia seperti yang terjadi sekarang ini. Ujian akhir tanpa kecurangan. Tanpa jual beli kunci jawaban.

Aku tidak tahu siapa yang menyelenggarakan ujian akhir. Mungkin pihak Kantor Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, mungkin Kanwil Depertemen P dan K Provinsi NTT. Atau mungkin langsung ditangani oleh guru-guru di sekolah. Aku tak terlalu paham hal teknis itu. Yang aku pikirkan adalah setelah ujian akhir maka selesainya masa-masa tiga tahun mengenyam pendidikan di SMP.

Aku lupa tanggal ujian akhir itu diselenggarakan. Tetapi harinya aku ingat yakni Senin sampai Sabtu, selama satu minggu. Ujian berlangsung di di SMP Sanjaya. Siswa kelas satu dan kelas dua diliburkan. Yang aku ingat ujian akhir waktu itu tidak membuat kami tegang. Tidak seperti sekarang ujian nasional hanya beberapa mata pelajaran. Dulu, semua mata pelajaran diujikan. Soal-soal ujian juga lebih banyak tanya jawab kecuali aljabar dan ilmu ukur yang harus menjawabnya dengan angka pasti. Dengan soal-soal seperti itu kami dipaksa untuk menjelaskan dan mencakar dengan penuh ketelitian.

Ujian hari pertama sungguh mendebarkan. Di kepalaku menggelayut tanya apakah aku bisa mengerjakan semua soal? Apakah aku bisa lulus? Aku tahu diri, selama tiga tahun belajar di SMP Sanjaya kemampuanku biasa-biasa saja. Aku bukan siswa yang cerdas tetapi juga bukan siswa yang bodoh. Aku masuk dalam kumpulan siswa yang tidak pintar tetapi tidak bodoh. Selama tiga tahun sekolah di SMP ini daftar nilai di raporku didominasi angka tujuh disusul angka enam. Hanya pelajaran bahasa Indonesia yang selalu angka delapan. 

Saat istirahat aku dan teman-teman mengobrol tentang ke sekolah mana setelah lulus dari SMP. Aku katakan pada mereka, setelah ujian akhir ini aku harus pulang ke kampung Maghilewa. Aku sudah pasti tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sebab pada Januari 1973 nanti ibuku harus ke Maumere untuk dirawat di RS Lela. Sakit ibu semakin parah.
“ Kalau lulus aku akan melanjutkan ke SMA Ki Hajar Dewantara”, ujar Roni Pea.
“ Kalau aku ke SPG Boawae”, ungkap Ose Madha.
“ Doa, terus engkau melanjutkan ke mana? Ikut kakakmu di Maumere?”, tanya Roni Pea.
“ Aku pulang kampung. Kata kakaku aku harus tinggal dulu di luar selama satu tahun. Nanti tahun 1974 baru aku bisa melanjutkan sekolah”, jawabku.


Aku sedih mendengar ungkapan teman-temanku. Mereka semua sudah menentukan pilihan nanti kalau lulus akan melanjutkan ke sekolah mana. Sedangkan aku sama sekali tak ada pilihan kecuali pulang ke Maghilewa dan menunggu setahun untuk kemudian bertarung lagi menggapai cita-cita.
“ Doa, jangan putus asa. Yang penting selalu ada semangat untuk meraih cita-cita”, ujar Roni Pea memberi semangat padaku.
“ Molo doa, miu na’a olo”, jawaku yang artinya baik teman, kamu duluan. Maksudnya mereka duluan ke SMA dan aku baru menyusulnya tahun berikutnya.

Ujian akhir satu minggu pun kami jalani dengan sukses. Kami harus menunggu selama satu bulan untuk kemudian mendengar kabar siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus sekaligus menerima ijasah. Awal Desember 1972 kami ke sekolah. Aku ingat hari itu Senin. Kami masuk ke dalam kelas. Setelah itu nama kami dibaca satu persatu dan menerima kertas bertuliskan LULUS atau TIDAK LULUS. Kulihat teman-temanku setelah menerima kertas berjingkrak-jingkrak kegiarangan. Itu tandanya mereka lulus. Tiba giliranku, aku membaca tulisan dengan mata berbinar, LULUS. Tapi aku tak melompak-lompat kegirangan. Sebab bagiku lulus membawa kesedihan. Sedih ketika mendengar kisah teman-teman yang akan melanjutkan ke SMA sedangkan aku harus pulang ke Maghilewa.
Tidak ada konvoi keliling kota atau aksi corat coret baju seragam. Sampai tahun ketiga kami sekolah di SMP Sanjaya tak ada pakaian seragam. Kami tetap berpakaian biasa saja yang penting selalu sopan dan rapih. Tak ada pesta perpisahan. Setelah tahu lulus kami harus menunggu satu minggu untuk bisa menerima ijasah SMP. Meskipun aku dipastikan tak melanjutkan sekolah namun ijasah itu penting. Aku harus menunjukkan ijasah itu kepada bapa dan mama di Bajawa. Aku juga harus menunjukkan ijasah itu kepada bapak dan ibu di Maghilewa. Menunjukkan ijasah kepada keluarga besar Sa’o Ledo agar mereka turut bangga bahwa akulah satu-satunya anak rumah adat Sa’o Ledo yang bisa menyelesaikan sekolah di SMP. Di masa kami, melanjutkan sekolah masih langka. Karena itu setiap anak yang bisa melanjutkan sekolah setelah sekolah dasar mempunyai kebanggaan tersendiri.

Satu minggu kemudian kami ke sekolah. Kami menerima ijasah. Aku bangga menerima ijasah tersebut. Aku membaca nilai-nilai yang tertera dalam ijasah tersebut. Nilai yang didominasi oleh angka tujuh disusul angka enam. Tapi nilai bahasa Indonesia sembilan. Tentu bukan karena guru bahasa Indonesia adalah Yoseph Rawi dari kampung Watu tetapi karena aku memang suka pelajaran bahasa Indonesia. Kesukaanku pada mengarang sudah tumbuh sejak aku duduk di sekolah dasar. Sebelum menerima ijasah atau tanda lulus kami dikumpulkan di halaman sekolah. Lalu Kepala sekolah Nikolaus Ruma berbicara.
“Anak-anak, selamat, kalian sudah lulus semuanya. Tak ada yang tidak lulus. Para guru kalian berharap teruslah bersemangat, paksa orangtua kalian supaya kalian bisa melanjutkan sekolah. Jadilah anak-anak yang baik, rajin, taat supaya kelak kamu berguna bagi gereja, nusa dan bangsa”.

Lalu kepala sekolah memberikan kesempatan kepada wakil siswa untuk menyampaikan ucapan terimakasih kepada para guru. Sebelumnya kami sudah mempercayakan kepada Blasius Lizu untuk mewakili kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada para guru. Ius Lizu pun maju ke depan. Ia berdiri di samping kepala sekolah.
“ Bapa ibu guru, terimakasih atas pengabdian telah mendidik kami tiga tahun. Terimakasih untuk ilmu yang telah kami terima. Terimakasih untuk waktu yang sangat tersita untuk kami.” 

Dan kami menyambutnya dengan tepuk tangan. Kami bersalaman dengan para guru tercinta. Kami bersalaman dengan sesama teman. Kami meluruhkan air mata perpisahan. Sebab kami semua yakin, setelah ini, pertemuan kembali adalah rahmat, kebetulan yang direkayasa oleh Tuhan. Sebab kami akan pergi kemana kami mau, pada tempat yang berbeda dan pada waktu yang tidak mungkin lagi merajut kebersamaan.

Sampai di rumah bapa Philipus Siku dan mama Beth Ega bertanya padaku.
“ Tinus engkau lulus atau tidak?”
“ Lulus bapa, lulus mama”
“ Kalau begitu kau sekolah di SMA”, ujar bapa.
“ Aku harus pulang ke kampung. Tahun ini tidak bisa sekolah lagi. Ibu sakit.” Lalu hening. Kulihat butir air mata mengalir dari sudut mata mama Beth. Aku tahu tantaku itu sedih ketika aku tak bisa melanjutkan sekolah.
“ Tinus, meskipun kau hanya tamat SMP, tinggallah di kampung dan jadilah orang yang berguna.”
“ Iyah mama”.

Ada kesedihan yang merasuk jiwaku. Setelah tiga tahun bersama paman dan tanta yang sudah kuanggap seperti bapa mama, kini saatnya berpisah. Aku harus pulang ke kampung menemani ibu yang sakit. Menemani bapa yang kembali mengerjakan ladang di Waeguru. Terimakasih bapa dan mama untuk cinta kalian selama tiga tahun. Sore itu sebuah perpisahan. Aku pulang ke kampung Maghilewa. Aku berbisik saat kakiku melangkah keluar dari kota Bajawa persis di gerbang Biara Karmel bajawa, selamat tinggal Bajawa, selamat tinggal kotaku. Semua kenangan yang tercipta di rahimmu akan kurekam dalam hidupku. Kelak suatu saat aku akan mengisahkannya kembali, sekedar untuk memberitahu kepada mereka di masa kehidupannya bahwa kami pernah hidup dan berjuang di tengah serba keterbatasan dan kami keluar sebagai sang juara, sebagai pemenangnya.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU