ANAK LERENG GUNUNG (2)
Ceritera Bersambung

***Dua***
Aku ingat hari pertama sekolah. Sangat terasa bagi
anak-anak seusia kami bahwa sekolah adalah tempat yang sangat menakutkan. Maka
di hari pertama aku dan teman-teman dihantar oleh orangtua masing-masing ke
sekolah dasar Inerie. Aku diantar oleh ayah. Dalam perjalanan ayah mengatakan padaku.
“ Kau harus sekolah. Kau tidak boleh jadi orang bodoh
macam kami ini”. Tentu dengan bahasa daerah.
“ Saya tidak mau sekolah.” Aku protes.
“ Tidak bisa, kau harus sekolah.”
Ini ketegasan ayahku yang masih kuingat sampai sekarang.
Ayah yang hanya menyelesaikan Sekolah Rakyat
tiga tahun di Sekolah Dasar Inerie tetapi bercita-cita agar anak-anaknya
tidak boleh menjadi manusia yang bodoh. Waktu itu tahun 1964. Semua anak usia sekolah
diwajibkan untuk menempuh
pendidikan sekolah dasar. Ayahku alumni
sekolah dasar itu yang namanya mengalami perubahan dari Sekolah Rakyat tiga tahun menjadi Sekolah Dasar Katolik Inerie enam tahun. Sekolah ini didirikan pada tahun
1919. Ketika aku masuk di kelas
satu tahun 1964 sekolah ini sudah berusia 45 tahun.
Kami tidak seperti anak-anak masa kini yang ke sekolah
membawa tas berisi buku dan alat-alat tulis. Kami tidak memakai pakaian
seragam. Kami juga tidak memakai sepatu. Tubuh mungil kami yang jarang mandi
hanya dibalut dengan kain putih hasil tenunan ibu. Tanpa pakaian dalam dan
bertelanjang dada. Sedang anak-anak
perempuan berpakaian kain sarung yang menutup tubuhnya dari leher sampai betis.
Setelah satu bulan sekolah kami mulai kerasan. Kami dapat bermain sepuas
hati pada saat istirahat. Kami
belajar di tempat apa adanya. Bangunan
sekolah serba darurat. Lantai tanah yang
tak pernah disiram dengan air membuat tanah menjadi gembur. Dinding dari pelupu
dan atap dari alang-alang. Bangku-bangku
pun darurat dibuat dari bilah
bambu. Batu tulis dan kalam menjadi alat
tulis utama. Di saat ulangan
teman-teman yang tidak memiliki batu
tulis diwajibkan membawa daun pisang mentah dan lidi. Di daun pisang itulah
soal-soal yang diberikan guru dijawab.
Aroma kelas sangat tidak sedap. Selain bau debu yang menyengat juga bau lainnya yang menyengat berasal
dari kain yang kami pakai. Di musim kemarau bau menyengat berasal dari kain yang kami
pakai karena malam harinya anak-anak seusia kami banyak yang ngompol dan pagi
hari dipanggang di bara api agar tetap
kering.Bau menyengat itu disebut senga kato. Di musim hujan
bau menyengat pun berasal dari kain yang basah saat pulang sekolah lalu diasapi di atas para-para dapur
agar bisa kering sehingga bisa
dipakai esok pagi. Jika tidak kering anak-anak pun tidak ke sekolah karena tak
ada kain pengganti.
Hari-hari berlanjut
menjadi sangat menyenangkan. Pada jam istirahat kami bermain kelereng di
belakang sekolah.Di hari lain kami
mencari kayu bakar di hutan dekat sekolah untuk guru kami. Dan di hari lain
pula kami mengambil air bersih di
Waetena untuk memenuhi kebutuhan air
bersih bagi guru kami. Kami selalu duduk
di halaman sekolah sambil menikmati
bekal pisang bakar atau ubi bakar.
Anak-anak diwajibkan membawa bekal karena meskipun sekolah itu dekat kampung
tetapi umumnya orang tua tinggal di kebun yang jauh dengan sekolah.Dan anak-anak mengikuti orang tuanya.
Aku dan teman-teman lainnya tinggal di kampung Leke sekitar
delapan kilometer jauhnya dari
sekolah. Setiap pagi dan sore kami harus
menempuh jalan yang sama sambil membawa
bambu air dan seikat kayu bakar untuk guru dan tempat bekal yang disebut lega untuk anak
laki-laki atau bere untuk anak perempuan. Semua itu kami lakukan dengan senang hati bahkan bangga karena kami bisa
membantu memenuhi kebutuhan air bersih dan kayu bakar bagi para guru
tercinta.***Bersambung.
Komentar
Posting Komentar