ANAK LERENG GUNUNG (19)
***Sembilanbelas***
Selama bersekolah di SMP Sanjaya Bajawa tahun 1970 sampai 1972 kami mengalami begitu banyak peristiwa langka. Kami mengalami peristiwa Pemilu 1971 setelah bangsa Indonesia menyelenggarakan Pemilu pertama tahun 1955. Kami juga mengalami peristiwa pertama kali pesawat turun di Bandar Udara Padhameleda.
Aku tidak tahu persis hari, tanggal dan tahunnya tetapi yang masih kuingat ribuan orang telah menunggu di Padhameleda untuk menyaksikan pesawat turun di Bandar udara yang menjadi kebanggaan masyarakat Ngada itu.Hari landingnya pesawat pertama kali di Bandara Padhameleda itu membuat geger masyarakat Ngada. Kepala sekolah meliburkan para siswanya agar bisa menyaksikan secara langsung dan melihat untuk pertama kalinya yang disebut pesawat udara itu. Pegawai negeri pun diliburkan dan dikerakan ke Padhameleda. Para siswa SMA Ki Hajar Dewantara pun diliburkan.
Rencana landing pertama pesawat terbang di Padhameleda itu benar-benar menyita perhatian.Apalagi kami yang masih remaja. Malam harinya mama bertanya kepadaku soal ke Padhameleda untuk menonton turunnya pesawat.
“ Tinus besok kamu semua ke Padhameleda?”
“ Iya mama. Kami diwajibkan untuk pergi. Nanti setelah itu kami harus membuat karangan”
“ Baik, hati-hati nanti kau ditabrak kapal terbang itu”
Aku dan teman-teman secara bergerombolan berjalan kaki ke Padhameleda. Kami tidak melewati jalan raya sebab pasti akan sangat jauh dan melelahkan.Kamipun melewati jalan pintas. Jalan pintas itu dimulai dari kampong Bokua lalu menyeberangi sungai Waewoki dan melewati kampong Bejo. Sungai Waewoki waktu itu memiliki debit air yang besar dan jernih. Di musim hujan terjadi banjir cukup deras sehingga sulit untuk dilewati. Dua temanku yang masih kuingat bergabung dalam rombongan kami adalah Abel Nono dan Alo Soi. Kamipun sampai di Bosiko lalu menyusuri jalan raya yang waktu itu belum terbalut aspal.
Aku menyaksikan puluhan kendaraan yang kami kenal dengan nama Oto Colombo menurunkan para pegawai negeri. Alam Padhameleda waktu itu musim kemarau sehingga rumput-rumput di ladang gersang. Tetapi pohon advokat masih menawarkan daunnya yang hijau. Pohon dadap masih menampilkan bunganya yang berwarna merah. Di bawah pohon dadap itu tumbuh pohon kopi. Orang menyebut ruas jalan Negara itu sebagai Jalan Lurus karena posisinya yang lurus.
Tiba di Padhameleda sekita jam sembilan pagi. Kamipun menunggu detik-detik turunnya pesawat. Kami duduk-duduk di bawah rindang pohon advokat. Matahari terus beranjak naik ke tenga langit. Sinar matahari benar-benar membakar. Kerongkongan mulai terasa kering. Perut pun mulai kerongkongan. Padahal kami tidak mempunyai uang. Orang-orang Nua Ngusu memanfaatkan kesempatan menjual tebu, pisang masak, advokat, ubi rebus dan tuak putih. Kalau saja kami mempunyai uang, pasti kami akan membeli tebu untuk mengatasi kerongkongan yang mulai mengering.Aku berdoa dalam hati, semoga bapa Siku lewat di tempat kami dan aku akan memintanya uang untuk membeli tebu.
Ternyata Tuhan mendengar doaku. Tetapi bukan bertemu dengan bapa Siku melainkan dengan bapaku Arnol Deghe. Ia lewat di depan kami dan aku berteriak memanggilnya.
“Ema…”, ia menoleh ke araku.
“ Ale, Tinus, kau datang juga ko melihat pesawat?”, Tanya bapa.
“ Iya ema, kami diliburkan”. Ema adalah sapaan untuk bapa atau laki-laki dewasa bagi masyarakat Bajawa.
“ Engkau dengan siapa ke sini?”
“ Dengan teman-teman. Bapa, saya tidak ada uang. Saya lapar”
Bapa merogoh lega, sebuah tas tradisional yang dianyam dari daun lontar. Lalu ia mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah. Ia menyerahkan padaku sambil berkata.
“ Jangan boros, biar ada sisanya”
“ Iya Ema”, jawabku. Uang sepuluh ribu sangat besar nilainya. Sebab harga satu biji pisang masak hanya satu rupiah saja. Harga sebatang tebu juga satu rupiah. Uang satu rupiah waktu itu sangat tinggi nilainya.
Matahari kini sudah di tengah langit. Tetapi belum ada tanda-tanda kapal terbang akan segera turun. Setelah menikmati tebu dan makan pisang rebus kami kembali berbaring di bawah rimbun pohon advokat. Agar supaya tak jenuh kami pun bernyanyi sambil bertepuk tangan. Sebuh lagu yang kami nyanyikan berulang-ulang adalah Zale Uma Sei La’a. Kalau diterjemakan dalam bahasa Indonesia artinya, siapa pergi ke kebun. Syair lagu yang masih kuingat, zale uma sei la’a, logo wa’i ringo, bula sezu faga feri, sezu gazi kere-kere, solaso, doredo, doremidoresido. Artinya ke kebun siapa pergi, belakang kaki saya merinding, hanya suara belalang dan jengkrik, suaranya keras-keras, solaso doredo doremidoresido.
“ Ini lagu siapa yang karang ko?” Tanya Alo So’i.
“ Tidak tahu siapa yang karang”, jawab Abel Nono.
“ Saya tahu siapa yang mengarang ini lagi. Namanya Lado Meo”, ujarku.
“ Ma’e tolo tau le”, ujar Alo So’i yang artinya jangan sembarang omong. Sebetulnya kami semua tak mengetahui dengan pasti siapa yang mengarang lagu itu.
Matahari sudah condong ke barat. Tetapi pesawat yang ditunggu-tunggu belum juga nongol. Kami mulai jenuh. Tetapi ribuan orang tetap tak menyurutkan niat untuk menunggu pesawat. Sebab jika bisa melihat pesawat, itu sejarah dalam hidup bahwa seumur hidupnya sudah melihat pesawat yang dalam bahasa daerah disebut kapawoa. Masyarakat hanya melihat dari darat saat kapawoa itu terbang di udara melintasi bumi Ngada.
Pukul tiga sore, tiba-tiba ribuan orang berlari mendekat ke pinggir lapangan terbang. Sepuluh menit kemudian pesawat yang ditunggu pun landing. Kami berdecak kagum menyaksikan tubuh pesawat. Kami tidak boleh masuk ke tengah bandara karena penjagaan sangat ketat. Seorang bapak berteriak keras.
“ Ale,ale,ale, gazi dia da woa ge leza zeta lizu, leka dhomi go besi”, artinya ale,ale,ale, yang biasa terbang di udara ini ternyata hanya besi. Kami tertawa dan bapa tua itu terus bicara.Itulah peristiwa bersejarah bagi kami. Untuk pertama kalinya kami menyaksikan kapal terbang. Untuk pertama kalinya kami turut menyaksikan kapal terbang itu turun dan menyatu dengan bumi Ngada. Sebagai anak Ngada kami bangga dengan Bapa Bupati waktu itu Yan Yos Botha yang mau mendirikan Bandar udara di Padhameleda.
Setelah peristiwa uji coba pendaratan itu, waktu terus berjalan. Saat aku sekolah di SPGK St. Don Bosco Maumere, aku membaca di SKM Dian, Dirjen Perubungan Udara Kardono meresmikan Bandar Udara Padhameleda pada 28 Oktober 1976, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar