ANAK LERENG GUNUNG (17)
*** tujuhbelas***
Desember 1971. Kebun di Waeguru sunyi. Pondok tertutup rapat.Tak ada ayam peliharaan berkeliaran. Kebun pun terlantar. Ibu sudah tak bisa mengerjakan kebun. Sejak awal Tahun 1971 ibu sakit. Bapak harus beralih profesi kembali menekuni pekerjaan sebagai penyadap. Ia tinggal di Malapedho.
Setelah semalam aku bersama ibu di Sa’o Ledo kampung tradisional aku ke Malapedho untuk membantu bapa. Selama liburan pagi-pagi aku mendatangi pohon lontar untuk mengambil nira hasil sadapan. Bapa akan menurunkan nira dan menaruhnya di bawah pohon lalu aku yang datang memikulnya.
“ Tinus, nanti kau pergi pikul bambu moke, bapa taro di bawah pohon”, kata bapa pada malamnya. Moke disebut tua bhara.
“ Beres bapa”, jawabku.
Malam-malam bapa jarang tidur sebab ia harus memasak nira untuk disuling menjadi arak. Bulan Desember biasanya bulan dimana pohon lontar memberikan hasil nira yang berlimpah. Orang kampung menyebutnya maghi wae. Nira itu kemudan disuling menjadi arak atau moke yang dalam bahasa setempat disebut tua ara. Alat-alat untuk menyuling nira juga sangat sederhana. Sebuah periuk tanah yang disebut bhogi tua disumbat dengan bambu yang disebut seke, lalu disambung dengan sebatang bambu sepanjang tiga sampai lima meter yang disebut longa. Ujung longa itu dimasukkan ke seruas bambu yang disebut pe’i sebagai wadah untuk menampung tetes demi tetes moke hasil sulingan.Pada periuk yang disebut bhogi tua dinyalakan api yang disebut api tua. Dari pemanasan itulah terjadi penyulingan. Sebuah teknologi sederhana. Entah siapa yang menemukan.
Biasanya sambil menunggui proses penyulingan, bapa membakar ubi untuk makan malam. Jarang kami memasak nasi untuk makan sehari-hari. Bukan karena tidak bisa membeli beras tetapi orang-orang generasi bapa lebih suka mengonsumsi makanan lokal seperti pisang dan ubi-ubian. Lauknya ikan segar atau ikan kering yang disebut ika rogho atau ikan pari kering yang disebut sui soa. Lalu kami duduk pada sebuah bale-bale yang disebut bheja. Kami makan bersama yang disebut nalo. Makan menjadi semakin nikmat karena ada sambal yang disebut koro pake. Kami makan sambil meneguk moke.
Suatu malam kami duduk di bale-bale yang ada di halaman pondok moke yang disebut keka tua. Kami bermain okalele sambil menyanyi lagu-lagu daerah. Selama libur di Malapedho aku selalu ditemani oleh Roni Pea. Orangtuanya sudah lebih dulu tinggal di Wae Sugi setelah pindah dari Bomopo. Tugas kami sama yakni memikul bambu moke dari pohon lontar. Bapa Ngali, ayah dari Roni Pea juga seorang penyadap. Di saat seperti itu aku merasa bahagia. Sebagai anak bungsu aku memang dekat dengan bapa dan ibu.
“ Roni, setelah SMP kau mau sekolah di mana?” Tanya bapa pada Roni Pea.
“ Di SMA Ki hajar Dewantara, ka’e Arnol”, jawab Roni Pea.Secara adat Roni Pea dan bapa adalah kakak adik.
“ Oh begitu?”, bapa diam. Roni yang balik bertanya.
“ Kalau Tinus nanti lanjut dimana?”
“ Itu sudah, bapa tidak tahu. Sebab kakaknya di Maumere mau bawa ibunya ke Lela untuk berobat. Mungkin nanti lama dan makan biaya. Jadi Tinus selesaikan dulu SMP. Nanti mau lanjut kemana, itu nanti saja”, ujar bapa.
Aku sedih tetapi aku sangat memahami kesulitan ekonomi yang dihadapi bapa maupun kakakku di Maumere. Karena itu aku tak mau memaksa kehendak. Memaksa bapa harus menyekolahkan aku ke SMA. Tetapi ada seberkas harapan kalau mendengar ucapan bapa, nanti lihat saja. Kuharap setelah aku menyelesaikan SMP, ibu kembali sehat dan aku bisa melanjutkan pendidikan ke SMA.
“ Kalau Tinus tidak sekolah dia tinggal di di kampung. Dia harus belajar menyadap moke”, ujar bapa.
“ Aku sudah bisa naik pohon lontar bapa”, ujarku.
“ Kalau hanya bisa naik, semua anak bisa lakukan. Tetapi menyadap tuak itu ada prosesnya.
Bapa lalu menjelaskan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang penyadap tangguh. Ia harus jeli melihat apakah mayang-mayang lontar itu bisa menghasilkan banyak nira. Setelah itu ia harus bisa mengikat tangga yang disebut radhi pada batang lontar sampai ke pucuk yang disebut ke’e. Lalu ia harus memilih mana mayang yang bisa menghasilkan dan tidak menghasilkan. Yang menghasilkan dibiarkan yang tidak menghasilkan dipotong buang. Proses selanjutnya adalah mengolah mayang-mayang dengan sebuah alat yang disebut gape. Setiap pagi dan sore mayang-mayang itu dilumat dengan alat yang disebut gape tersebut. Ketika lebah madu datang hinggap di mayang-mayang itu maka tandanya mayang-mayang itu bisa diiris. Nira lontar manis akan keluar dari mayang-mayang itu. Menyadap harus tangguh karena ia harus menurunkan nira dari pucuk lontar yang tingginya antara lima sampai sepuluh meter.
Bapa selalu mewariskan petuah bahwa menyadap tuak itu bisa hidup. Sebab arak atau moke bukan sekedar minuman keras atau minuman biasa tetapi minuman adat. Semua upacara adat harus selalu berhubungan dengan arak. Dan setiap Desember permintaan arak pasti meningkat sebab pada setiap akhir Desember digelar pesta reba yang sangat membutuhkan wae tua atau arak. Permintaan arak masih berlanjut sampai Januari dan Pebruari karena di sejumlah kampung masih digelar pesta reba.
Bapa menjelaskan moke itu minuman adat. Setiap upacara makan pada pesta adat atau pesta apa saja selain doa menurut ajaran agama juga doa menurut ajaran leluhur yang disebut fedhi tua. Tua adat atau orang yang dituakan diberikan kepercayaan untuk fedhi tua dan meneguknya pertama. Mantra-mantra fedhi tua disesuaikan dengan untuk apa dan kepada siapa upacara adat itu digelar. Fedhi tua adalah ritus adat yang memanggil semua leluhur untuk datang duduk bersama-sama dan bersama-sama pula menikmati makanan yang disajikan.
Aku liburan di Malapedho sampai tanggal 23 Desember. Selama liburan itu aku dan Roni Pea serta teman-teman lain mengisi waktu siang untuk berenang di Wae Sugi atau menyelam mencari ikan. Aku bukan perenang yang lincah tetapi setelah sering berenang aku menjadi pintar berenang. Taggal 23 Desember sore kami ke kampung tradisional untuk menyongsong hari raya natal. Lalu dilanjutkan dengan pesta reba dan tahun baru.Dan tanggal 5 Januari 1972 aku kembali ke Bajawa dihantar bapa. Aku sedih karena harus meninggalkan ibu dalam keadaan sakit. Tapi ibu selalu menghiburku dengan kata-kata indah. To’o la’a segola, kena go muzi kau robha ze’e wengi zua, pergi dan sekolahlah, itu hidupmu esok dan lusa. Bagi ibu pendidikan itu masa depanku.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar