ANAK LERENG GUNUNG (16)
Ceritera Bersambung


**Enambelas***
November 1970
Bajawa mulai diguyur hujan. Ujian triwulan ketiga sudah selesai. Dan hari itu kami tidak masuk
ke kelas. Kami menunggu guru wali kelas membagikan rapor sehingga dapat mengetahui siapa yang
naik kelas dan siapa yang tahan kelas.
Sambil menunggu kami membersihan halaman
sekolah dan mengepel ruang kelas.
Setelah semua pekerjaan selesai kami
duduk-duduk di teras sekolah atau
bermain kejar-kejaran di seputar halaman sekolah. Atau kami hanya duduk-duduk
bergerombol sambil menceriterakan
kampung masing-masing.Aku bersama Roni Pea dan Leo Sebo serta Darius Riwu duduk satu kelompok dengan Elias Lou dari
Menge, Yohanes Bena dari Naru dan Stefanus Meo dari Soa. Lalu Yohanes Bena bertanya.
“ Kamu ini semua anak pantai ko?”
“ Yah, kami anak pantai.” Jawab Darius Riwu.
“ Berarti tiap
hari kamu lihat air laut.”
“ Bukan hanya melihat saja. Kami berenang sampai ke tengah laut. Kami juga
menyelam sampai ke dasar laut.” Jawab
Darius Riwu.
Darius
Riwu memang menjawab jujur sebab
rumahnya di Kalitiga Aimere persis di tepi laut. Setiap hari ia bergaul dengan laut. Ia menyelam untuk
mencari ikan dengan menggunakan panah. Darius memang jago berenang. Aku
meskipun tahu berenang tetapi tidak berani
sampai ke tengah laut.
“ Saya
ingin lihat air laut.” Ujar Stefanus Meo.
“ Memang engkau belum pernah lihat?” Aku
bertanya.
“ Belum. Macam apa itu laut?” Ujarnya lagi.
“ Air laut itu asin. Ada ombak menderu-deru.
Ada musim dimana air laut surut yang disebut
meti dan air pasang disebut lana.
Saat meti itu orang-orang di kampung kami mencari
siput.” Aku berceritera.
“ Enak sekali itu siput?” Tanya Yohanes Bena.
“ Enak sekali. Kalau makan dengan ubi terus minum dengan moke
putih enak sekali.” Ujar Roni Pea.
Teman Elias Lou memandangku.Ia meneliti tubuhku
dari kepala sampai ujung kaki. Lalu ia bertanya.
“ Tinus Ghedo kau bisa berenang. Badan kecil
begitu bisa berenang ko?”
“ Bisa. Bahkan
bisa berenang sampai jauh ke tengah. Kalau kami berenang di Wae
Sugi harus bisa melihat puncak bukit Wolo Bobo, baru kami pulang ke pantai.” Jawabku.
“ Hebat sekali.” Teriak Yohanes Bena. Aku yang
tersentak. Aku sudah membohongi diri
sendiri dan teman-temanku. Sebab meskipun kami
orang pinggir pantai dan jarak kampung
Maghilewa hanya
limakilometer dari bibir pantai
tetapi kami tidak akrab dengan laut.
Aku lalu ingat
nasihat orangtua. Kata
mereka laut itu kejam. Laut itu jahat. Laut itu berbahaya.
Begitu berbahayanya laut sehingga harus hati-hati berhadapan dengan laut. Kalau lengah maka laut akan menelan hidup-hidup siapa saja.Syukur kalau mayatnya
bisa ditemukan. Biasanya kalau sudah tenggelam
sulit ditemukan. Mungkin sudah ditelan mahluk halus
yang menguasai laut selatan. Ketika
aku mengenang kembali nasihat
orangtua tiba-tiba Roni Pea berteriak.
“ Lebih baik kita ke mama Putu.”
“ Eeeh, betul eee, ayo, kita ke mama Putu.”
Sambung Darius Riwu.
Kamipun
bersama-sama ke mama Putu. Nama mama Putu itu sangat populer di kota Bajawa. Sebab dialah
satu-satunya penjual pisang goreng
di kota Bajawa. Setiap saat warung
pisang goreng mama Putu yang terletak di
dekat Mesjid selalu ramai dengan anak-anak yang datang membeli. Mama Putu orang Bali. Suaminya seorang polisi. Ia ramah
terhadap anak-anak. Kalau membeli satu
pisang goreng mama Putu akan memberi dua
buah, demikian seterusnya.
Puas
makan pisang goreng kami kembali
ke SMP Sanjaya Bajawa. Kami masuk ke kelas masing-masing. Saatnya membagikan
rapor. Jantungku berdegup kencang saat
menjelang menerima raport. Apakah aku naik kelas? Apakah nilaiku ada yang berwarna merah? Sebab tidak naik kelas dan nilai merah sama-sama kecelakaan. Mama Beth Ega dan Bapa Lipus Siku akan memberi hukuman dengan cara mereka. Guru
walikelas IA Petrus Nuka membaca nama siswa satu persatu sambil maju
ke depan kelas menerima rapor dan langsung keluar. Aku mulai tidak tenang.
“ Ale, kau kena apa ko?” Tanya Roni Pea yang
duduk dekatku.
“ Saya takut ko, kalau tidak naik kelas aku pasti disiksa.”
“ Kau pasti naik kelas.” Ujar Roni Pea.
Giliranku disebut nama oleh guru Petrus Nuka.
Aku maju ke depan kelas lalu menerima rapor. Di luar kelas kulihat teman-teman berlompatan
gembira karena naik kelas. Dengan hati-hati aku membuka lembar buku rapor. Aku
membaca daftar nilai. Meski kebanyakan hanya
angka enam dan tujuh tetapi tidak ada angka merah. Nilai bahasa
Indonesia satu-satunya tertinggi yakni delapan. Aku naik kelas. Lalu
segera aku pulang ke rumah di Ngedukelu.
Di rumah pamanku Philipus Siku bertanya.
“ Tinus, kau naik kelas atau tidak?”
“ Naik kelas bapak.” Lalu kusodorkan buku rapor
padanya. Ia membaca daftar nilai. Lalu memandangku.
“ Goreng jagung dulu terus tumbuk bekin
tepung.”
“ Baik bapak.”
Pamanku memang setiap hari harus makan tepung jagung goreng minum dengan satu mok kopi arabika.Kopi khas beraroma khas Bajawa.Mok
adalah sejenis gelas tetapi ukurannya lebih besar. Dan dengan penerimaan rapor berarti
kami libur panjang selama satu
bulan. Saatnya pulang ke Maghilewa untuk melepas rindu bersama bapa dan ibu di lereng bukit, di kebun Wae Guru.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar