ANAK LERENG GUNUNG (15)
Ceritera Bersambung


**Limabelas***
Meskipun Bajawa seperti kota mati tetapi kota
ini seperti bidadari yang menawarkan kemolekan. Kota yang selalu segar sepanjang tahun. Kota yang dipagari
bukit-bukit yang sengaja ditanam pohon
dadap dan pohon albesia. Pada saatnya pohon dadap dan albesia memekarkan bunga
warna merah.
Aku sering tergoda untuk menikmati keindahan
kota Bajawa dari bukit Lebijaga. Aku dan teman-teman sering mencari kayu bakar
di bukit itu. Dari tempat itu aku dapat memandang kota Bajawa yang tak terlalu luas. Dari bukit itu aku bisa
memandang atap gedung SMP Sanjaya dan gedung SMA Ki Hajar Dewantara. Memandang
salib yang menjulang di Gereja MBC. Memandang lapangan Kartini yang hijau
ditumbuhi rumput.Memandang salib di biara susteran FMM Waenai.
Dari bukit Lebijaga aku bisa memandang gedung SDK Bajawa 1 dan 2
di Tanah Lodu. Di depannya terdapat sebuah kampung tradisional Nua Bhajawa. Rumah adat masih berjejer. Ngadhu dan Bhaga masih
berdiri kokoh di tengah kampung itu. Atap
rumah adat yang terbuat dari
alang-alang berwarna kusam menunjukkan sudah dimakan usia. Dari bukit Lebijaga aku bisa melihat kampung tradisional Nua Bo
Bou. Rumah adat masih berjejer
membentuk kampung itu seperti segi empat. Dan di tengah kampung
itu terdapat Ngadhu dan Bhaga. Dari
bukit Lebijaga itu aku bisa menghitung
berapa bangunan yang beratap seng tetapi
aku tak mampu menghitung rumah yang beratap belahan bambu yang disebut lenga dan berdinding cacahan
bamboo yang disebut pelupu atau naja.Rumah beratap lenga jumlahnya ribuan.
Di waktu lain aku mencari kayu bakar di bukit
Pipi Podo. Dari bukit itu aku bisa memandang
keindahan kota Bajawa. Memandang hijaunya daun-daun adpokat dan
mengendus aroma harum daun pohon kayu
putih. Dari bukit itu aku memandang
kekarnya bukit Wolongadha dan bukit Lebijaga. Aku seolah merasakan
derit gesekan sejuta batang bambu. Dari
bukit itu aku bisa melihat kesakralan kampung tradisional Bo Kua yang terletak berdekatan dengan biara karmel Bajawa. Aku dapat memandang liukan indah sungai Waewoki yang mengalirkan air berlimpah ruah. Semua
indah dan terekam dalam kenangan yang sukar kulupakan.
Biasanya setelah pulang dari mencari kayu aku
ke sekolah. Sebab kepala sekolah membuat peraturan anak-anak harus studi sore.Studi adalah
istilah untuk belajar bersama. Entah mengapa
waktu itu kata studi lebih populer
dibandingkan dengan belajar bersama. Biasanya pada jam empat sore para siswa sudah berdatangan ke sekolah untuk
studi. Aku tidak tahu atas pertimbangan apa kepala sekolah menetapkan ada studi itu.Tapi ketika itu perintah guru sulit untuk tidak dilaksanakan. Guru adalah
sosok yang sangat disegani.Studi sore hanya berlangsung satu jam dari jam empat
sampai jam lima sore.
Biasanya
belajar kami lanjutan bersama
teman-teman di rumah. Suatu kali aku
belajar di rumah teman Wens Nau di Tanah Lodu. Ia tidak sekelas denganku. Ia di
kelas B yang ada murid perempuan. Wens adalah putra dari bapak Kristianus
Nau seorang guru senior di Ngada berasal
dari Maghilewa. Wens dan aku masih bersaudara karena neneknya yang perempuan
dan nenekku yang laki-laki bersaudara kandung.
Bapa Kris sudah lama tinggal di kota Bajawa. Ia sosok guru yang disegani karena ketulusannya. Pertama kali ia melihat
aku, ia bertanya.
“ Anak dari kampung mana?” , tanya bapa Kris
padaku dengan menggunakan kata anak,
bukan kata kau. Entah mengapa bapa guru Kris tidak menggunakan kata kau.
Tapi sebagai guru ia ingin memberikan
teladan kepada kami bahwa dalam berturur
kata harus sopan.
“ Bapa, saya dari Maghilewa”
“ Eeehh, anak dari siapa?”
“ Anak dari bapa Arnol Deghe dan mama Fransiska
Wula”
“ Ohh, anakku juga.”
Kata-kata itu membuatku melayang-layang. Aku
bangga karena seorang guru dengan nama
besar di kabupaten Ngada menyebut
aku anaknya. Bapa Kris lalu
menjelaskan bahwa Arnol Deghe adalah anak dari bapa Wea Bhoki saudara kandung dari mama Wona
Bhoki. Mama Domi Bhoki, istri dari bapa Kris
adalah anak perempuan dari nene Wona Bhoki.
“ Tinus, kau cucu dari nene Wea Bhoki. Wens ini cucu dari nene Wona
Bhoki. Jadi kamu bersaudara, kamu harus
hidup baku baik bukan hanya sekarang tetapi juga di masa akan datang.”
“ Iya bapa guru.”
“ Rajin belajar
dan jadilah orang baik. Sekolah
yang rajin supaya bisa berguna untuk nusa dan bangsa.”
“ Iya
bapa guru.”
Nasihat itu selalu kuingat. Nasihat dari
seorang guru yang sudah makan asam garam. Nasihat guru yang sudah kenyang dengan pengalaman
suka dan duka meretas bumi Ngada untuk
memintarkan anak-anak. Nasihat dari guru
yang telah melahirkan orang-orang pintar di Ngada dan tersebar di mana
saja sesuai dengan profesinya
masing-masing. Lebih dari itu nasihat bapa Kris bukan sekedar nasihat seorang guru tetapi suara spirit dari seorang
bapak terhadap anak-anaknya. Aku bersyukur dapat mengalami sepenggal hidup
bersama bapak Kristianus Nau. Ia membuatku mengerti apa arti bersekolah. Dan apa arti setiap orang harus hidup dengan cita-cita.
Karena menurut bapa Kris, orang yang hidup tanpa cita-cita telah mati sebelum
waktunya.***Bersambung
Komentar
Posting Komentar