ANAK LERENG GUNUNG (14)

Ceritera Bersambung

 Gambar terkait

***Empatbelas***

SMP Sanjaya Bajawa  adalah satu-satunya sekolah menengah pertama di Kota Bajawa. Tak ada sekolah lain lagi. Sekolah negeri pun tidak ada. SMA Ki Hajar Dewantara juga satu-satunya SMA di Kota Bajawa. Kota Bajawa ketika itu  seperti kota mati. Tak ada gedung bertingkat. Bangunan paling megah  adalah Gereja Mater Boni Concili, Karmel Bajawa dan susteran FMM di Waenai. Termasuk bangunan SMP Sanjaya cukup megah.

Semua jalan di Kota Bajawa belum dibalut  aspal. Bahkan jalan Kartini di depan rumah jabatan Bupati juga tak beraspal. Jalan-jalan sempit dan berlumpur. Tak ada bemo yang lalu lalang. Tak ada kendaraan umum. Kota Bajawa  ketika itu benar-benar sebuah kota mati. Jalan Boulevard  ketika itu adalah tanah ladang. Belum ada jalan lebar seperti sekarang. Kantor Bupati  sekarang  adalah tanah ladang. Sebab kantor bupati waktu itu di Lapangan Kartini. Batas timur kota Bajawa  sekarang berdiri gedung wanita Ine Sina.Lekosoro ke arah timur sampai Waebetu adalah kebun. Salah satu kebun milik bapak guru Meak. Ia guru tua yang sangat pintar. Semua orang kota Bajawa mengenal sosok guru Meak ini. Batas selatan di Karmel Bajawa.Waewoki sampai Watujaji belum ada pemukiman sehingga daerah itu adalah kebun kopi. Batas utara  di Waenai dan batas barat di pinggir sungai Waewoki tepat berdiri bangunan pasar. Rumah jabatan bupati termasuk di pinggir barat kota Bajawa.

Di kota itu aku menjalani ke seharian antara 1970-1972. Pagi sampai siang ke sekolah. Lalu pulang ke rumah di Ngedukelu. Setelah makan  lalu pergi mencari kayu bakar di Wae Betu  atau Wae Reke. Bahkan  mencari kayu bakar sampai di Wolo Ngadha atau Watu Sewua di Lobo Leke.Biasanya kami ikut bersama kakak kelas seperti Niko Neta,Ose Neko, Hilarius Wae dan lain-lain. Juga sering bersama Nuel Turu dan Bene Milo yang tinggal serumah denganku.Bene Milo kakak kelas di SMP Sanjaya. Ia kelas tiga ketika aku masuk di kelas satu.Kami mencari kayu bakar secara gerombolan. Suatu hari kami mencari kayu di Lekosoro. Di tempat itu  ada kebun milik Om Nge’i. Kebun itu penuh dengan tanaman tebu. Lalu Niko Neta mengajak kami mengambil tebu. Sedang asyik makan tebu om Nge’i  datang. Kami semua lari tunggang langgang. Meninggalkan  kayu bakar.

Meskipun bertubuh kecil namun saya lari cukup kencang. Sampai di rumah  tanta bertanya.
“ Tinus mana kayu bakar”
“ Masih di Lekosoro.”
“Kenapa kau tidak bawa?” Belum sempat aku menjawab Om Nge’i  suda muncul di depan rumah.Karena takut  aku ngumpet di belakang  rumah. Kebetulan  di belakang rumah  masih hutan bambu  dan pohon bunga kuning yang disebut wonga bunge.
“ Oeeei, Siku, me banga dia ana gau gho?” Artinya Siku, itu anakmu?  Pamanku mempersilahkan om Nge’i  masuk.
“ Ada apa dengan anak saya.”
“ Siku, kau punya anak curi saya punya tebu ko. Mereka banyak orang. Saya kira  anaknya siapa. Ternyata itu anakmu Siku?”
“ Yah anak saya.”

Pamanku Philipus Siku pegawai negeri di Kantor Depertemen Pekerjaan Umum. Tugas pokoknya adalah mengurus masalah pipa air. Kalau ada air yang tidak keluar paman yang dipanggil.Kalau sore hari saya pasti ikut  paman. Beberapa kali paman memperbaiki keran air di rumah jabatan Bupati. Waktu itu  Bupati Yan Yos Botha. Sering juga paman memperbaiki keran air di rumah Sekretaris Daerah  waktu itu  Lambert Langa Djawa. Saya yakin  semua orang kota Bajawa waktu itu mengenal paman saya Philipus Siku.

Jika persediaan kayu bakar masih ada  aku bersama paman ke kebun di Bo Bou. Kami mengerjakan kebun di tanah milik orang lain. Di tanah itu kami menanam jagung dan boncis. Di kesempatan lain  aku mengerjakan bedeng-bedeng di  halaman rumah untuk ditanami sayur sawi dan kol.Tanah di Bajawa  sangat subur. Menanam apa saja pasti tumbuh dengan subur. Di halaman rumah  tumbuh pohon advokat. Jika musim berbuah panenan berlimpah. Tapi karena  tidak laku dijual dan tidak habis dimakan  tanta memberi makan pada babi. Bukan karena  sombong meberi makan babi pakai buah mahal seperti advokat  tetapi karena ketakberdayaan. Daripada busuk dan mubasir lebih baik untuk makanan babi.
Bajawa  kota yang dikelilingi bukit-bukit  Wolo Ngadha, Pipi Podo dan Lebi Jaga. Kota yang selalu diselimuti kabut. Kota yang akan diguyur hujan berhari-hari  bila musim hujan. Meski  musim hujan  kegiatan sekolah  tetap berjalan seperti biasa. Dan jika musim hujan tiba kami jarang melihat matahari. Sebab kota akan tetap mendung meskipun tak turun hujan.***Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU