ANAK LERENG GUNUNG (12)

Ceritera Bersambung

 Gambar terkait

***Duabelas***

Sebetulnya bapaku Arnoldus Deghe adalah seorang penyadap tuak yang saban pagi dan sore naik turun pohon lontar untuk menyadap nira.Ia pernah menyadap di Kobafange dan Woloroja. Ia juga pernah menyadap di Gedhatere  dan Waebeke. Terakhir  bapa menyadap  di Malapedho.

Sebagai penyadap  bapa harus menjadi laki-laki tangguh  yang bisa naik turun  sepuluh bahkan duapuluh pohon lontar setinggi lima sampai sepuluh meter. Setiap pagi persis pada saat ayam berkokok  bapa sudah bangun. Ia  akan secara bergilir menyadap mayang-mayang lontar dan menurunkan  nira yang  disebut tua bhara. Sore hari  bapa kembali melakukan hal yang sama. Dan malam hari  bapa memasak  nira lontar untuk disuling  menjadi arak. Arak adalah minuman beralkohol yang sangat berkaitan erat dengan  hampir  semua upacara adat maupun  kegiatan sosial kemasyarakatan di kampung kami. Bahkan arak  adalah minuman  sakral. Dengan minuman arak itu  orang kampung membangun kekerabatan  atau persahabatan, menyelesaikan sengketa-sengketa  pribadi yang tak berdampak  merugikan secara material. Leluhur pun mewariskan kata-kata bijak  wae tua ana manu yakni mengikat sebuah janji atau kesepakatan bersama ditandai dengan minum moke dan darah ayam.

Bapa sudah lama berhenti menyadap. Ia sudah  sangat  tua untuk naik turun pohon lontar. Jika  tidak menyadap  bapa pasti kembali lagi ke profesi yang diwariskan leluhur yakni berkebun. Terakhir  sebelum aku meninggalkan  Maghilewa  bapa dan ibu berkebun di Waeguru persis di pinggir respal gunung Inerie. Sejak aku menyelesaikan sekolah dasar aku tinggal bersama bapa dan ibu  di kebun. Tetapi aku lebih suka ke hutan berburu ayam hutan untuk menghindar tidak ikut mengerjakan kebun. Sebetulnya  aku ingin melawan bapa sebagai protes karena aku tak diijinkan sekolah.

Sebulan berlalu kakak sulung Dami Angi  yang merantau di Maumere berlibur ke kampung. Kakak kecewa karena aku tak melanjutkan sekolah. Aku masih ingat ketika ia bertukar pikiran dengan bapa tentang pentingnya pendidikan.
"Bapa, sekolah itu tidak harus jadi presiden, pegawai negeri atau guru. Sekolah itu biar orang  tidak menjadi orang bodoh", itu kata-kata kakak.
"Ah, buat apa sekolah? Tinggal di kampung, belajar mencangkul karena itu masa depan. Hidup itu asal bisa bugu kungu uri logo, wesi peni, tuza mula", kata-kata ayah.

Bugu kungu, uri logo, wesi peni, tuza mula adalah filosofi leluhur yang mengajarkan bahwa kalau mau hidup jari-jari tangan harus tumpul karena membersihkan ladang, uri logo artinya berjemur di sengatan matahari, wesi peni artinya harus memelihara hewan besar dan unggas dan tuza mula artinya harus menanam. Leluhurku memang punya kearifan lokal tentang apa artinya hidup dan masa depan.
"Tidak bisa bapa, Tinus harus sekolah"
“ Siapa yang mau ongkos dia?”
“ Yang penting  Tinus sekolah dulu.”

Seminggu berlalu, kakak kembali ke Maumere.Bapa lalu mengumpulan keluarga besar di rumah adat Sa’o Ledo. Malam itu ada acara makan  bersama  yang disebut nalo. Lalu  ada acara dhiko dhabu  yakni menaruh uang seberapa saja pada wadah yang telah disiapkan. Bapa juga sudah menyiapkan pisang kepok, kelapa, ubi dan pisang. Lalu bapa memanggilku. Aku duduk di tengah keluarga besar Sa’o Ledo.
"Besok bapa antar kau  ke Bajawa. Kau harus sekolah", kata-kata bapa.
"Tapi sudah terlambat bapa", jawabku.
" Nanti bapa yang urus dengan tantamu di Bajawa".

Keesokan pagi bapa mengantarku ke Bajawa.Bawaan kelapa dan pisang dimuatkan pada seekor kuda. Jalan kaki menyusuri jalan setapak yang melinggar di lereng gunung Inerie, menuruni jurang, mendaki bukit hingga sampai di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Sebuah kota kecil ketika itu, tanpa jalan aspal, dan selalu diselimuti kabut. Sore hari setelah di Bajawa, tantaku Elisabeth Ega mengantarku ke rumah Kepala SMP Sanjaya Bajawa Nikolaus Ruma. Ia berasal dari Ruto.  Sejenak aku melihat mereka mencakapkan sesuatu.
"Beth, anak kita ini sudah terlambat. Anak-anak lain sudah sekolah sebulan lalu", kata-kata Niko Ruma.
"Guru, terus anak sekecil ini mau buat apa di luar kalau dia tidak sekolah. Dia ini pintar, walau  terlambat, pasti dia bisa mengejar pelajaran yang tertinggal", kata-kata tantaku.
"Yah, mau tidak terima, dia masih kecil, kasihan juga. Baiklah Beth, besok dia mulai sekolah".

Inilah catatan awal untuk memulai kisah tiga tahun belajar di SMP Sanjaya Bajawa. Belajar di kelas A bersama sahabat-sahabat lainnya dari seluruh penjuru Ngada bahkan dari Manggarai, Ende dan Alor. Hari-hari di Bajawa sungguh menyenangkan. Di kelas IA aku sekelas dengan sahabatku Roni Pea, Blasius Lizu, Hengky Sawu, Moses Awe, Yoakim Judha, Maria Simon Awa, Yopi Huik, Fritz Rabha Nay, Emanuel Lodo, Eman Dopo Ruba, Simon Ruba Dopo, Niko Gelang, Niko Anggal, Hengy Jawa Luna, Samsudin Nur, Elias Lou, Yohanes Bena, Benediktus Wede, Fanus Meo, Alertus Beu dan lain-lain.Maaf jika aku sudah tak ingat lagi karena waktu yang berlalu sudah terlalu panjang membentang.
Inilah awal aku berkelana. Meninggalkan kampung halaman dan belajar hidup jauh dari  bapa dan ibu. Tapi di Bajawa  aku menemukan  bapa dan mama yang tulus mencinta dan mendidik. Sosok mama Elisabeth Ega yang selalu mendidik dengan caranya seperti layaknya  seorang ibu terhadap anak-anak. Sosok  bapa Philipus Siku, lelaki Maumere yang tegas tetapi penuh cinta. Di tangan keduanya  aku menenun semangat  untuk memetik bintang di langit. Di tangan mereka aku merasa dicintai.***Bersambung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU