ANAK LERENG GUNUNG (12)
Ceritera Bersambung

Bugu kungu, uri logo, wesi peni, tuza mula adalah filosofi leluhur yang mengajarkan bahwa kalau mau hidup jari-jari tangan harus tumpul karena membersihkan ladang, uri logo artinya berjemur di sengatan matahari, wesi peni artinya harus memelihara hewan besar dan unggas dan tuza mula artinya harus menanam. Leluhurku memang punya kearifan lokal tentang apa artinya hidup dan masa depan.
"Tidak bisa bapa, Tinus harus sekolah"
Keesokan pagi bapa mengantarku ke Bajawa.Bawaan kelapa dan pisang dimuatkan pada seekor kuda. Jalan kaki menyusuri jalan setapak yang melinggar di lereng gunung Inerie, menuruni jurang, mendaki bukit hingga sampai di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Sebuah kota kecil ketika itu, tanpa jalan aspal, dan selalu diselimuti kabut. Sore hari setelah di Bajawa, tantaku Elisabeth Ega mengantarku ke rumah Kepala SMP Sanjaya Bajawa Nikolaus Ruma. Ia berasal dari Ruto. Sejenak aku melihat mereka mencakapkan sesuatu.
"Beth, anak kita ini sudah terlambat. Anak-anak lain sudah sekolah sebulan lalu", kata-kata Niko Ruma.
"Guru, terus anak sekecil ini mau buat apa di luar kalau dia tidak sekolah. Dia ini pintar, walau terlambat, pasti dia bisa mengejar pelajaran yang tertinggal", kata-kata tantaku.
"Yah, mau tidak terima, dia masih kecil, kasihan juga. Baiklah Beth, besok dia mulai sekolah".

***Duabelas***
Sebetulnya bapaku Arnoldus Deghe
adalah seorang penyadap tuak yang saban pagi dan sore naik turun pohon lontar
untuk menyadap nira.Ia pernah menyadap di Kobafange dan Woloroja. Ia juga
pernah menyadap di Gedhatere dan
Waebeke. Terakhir bapa menyadap di Malapedho.
Sebagai penyadap bapa harus menjadi laki-laki tangguh yang bisa naik turun sepuluh bahkan duapuluh pohon lontar setinggi
lima sampai sepuluh meter. Setiap pagi persis pada saat ayam berkokok bapa sudah bangun. Ia akan secara bergilir menyadap mayang-mayang
lontar dan menurunkan nira yang disebut tua bhara. Sore hari bapa kembali melakukan hal yang sama. Dan
malam hari bapa memasak nira lontar untuk disuling menjadi arak. Arak adalah minuman beralkohol
yang sangat berkaitan erat dengan hampir semua upacara adat maupun kegiatan sosial kemasyarakatan di kampung
kami. Bahkan arak adalah minuman sakral. Dengan minuman arak itu orang kampung membangun kekerabatan atau persahabatan, menyelesaikan
sengketa-sengketa pribadi yang tak
berdampak merugikan secara material.
Leluhur pun mewariskan kata-kata bijak
wae tua ana manu yakni mengikat sebuah janji atau kesepakatan bersama
ditandai dengan minum moke dan darah ayam.
Bapa sudah lama berhenti
menyadap. Ia sudah sangat tua untuk naik turun pohon lontar. Jika tidak menyadap bapa pasti kembali lagi ke profesi yang
diwariskan leluhur yakni berkebun. Terakhir
sebelum aku meninggalkan
Maghilewa bapa dan ibu berkebun
di Waeguru persis di pinggir respal gunung Inerie. Sejak aku menyelesaikan
sekolah dasar aku tinggal bersama bapa dan ibu
di kebun. Tetapi aku lebih suka ke hutan berburu ayam hutan untuk
menghindar tidak ikut mengerjakan kebun. Sebetulnya aku ingin melawan bapa sebagai protes karena
aku tak diijinkan sekolah.
Sebulan berlalu kakak sulung Dami
Angi yang merantau di Maumere berlibur
ke kampung. Kakak kecewa karena aku tak melanjutkan sekolah. Aku masih ingat ketika
ia bertukar pikiran dengan bapa tentang pentingnya pendidikan.
"Bapa, sekolah itu tidak harus jadi presiden, pegawai negeri atau guru. Sekolah itu biar orang tidak menjadi orang bodoh", itu kata-kata kakak.
"Ah, buat apa sekolah? Tinggal di kampung, belajar mencangkul karena itu masa depan. Hidup itu asal bisa bugu kungu uri logo, wesi peni, tuza mula", kata-kata ayah.
"Bapa, sekolah itu tidak harus jadi presiden, pegawai negeri atau guru. Sekolah itu biar orang tidak menjadi orang bodoh", itu kata-kata kakak.
"Ah, buat apa sekolah? Tinggal di kampung, belajar mencangkul karena itu masa depan. Hidup itu asal bisa bugu kungu uri logo, wesi peni, tuza mula", kata-kata ayah.
Bugu kungu, uri logo, wesi peni, tuza mula adalah filosofi leluhur yang mengajarkan bahwa kalau mau hidup jari-jari tangan harus tumpul karena membersihkan ladang, uri logo artinya berjemur di sengatan matahari, wesi peni artinya harus memelihara hewan besar dan unggas dan tuza mula artinya harus menanam. Leluhurku memang punya kearifan lokal tentang apa artinya hidup dan masa depan.
"Tidak bisa bapa, Tinus harus sekolah"
“ Siapa yang mau ongkos dia?”
“ Yang penting Tinus sekolah dulu.”
Seminggu berlalu, kakak kembali
ke Maumere.Bapa lalu mengumpulan keluarga besar di rumah adat Sa’o Ledo. Malam
itu ada acara makan bersama yang disebut nalo. Lalu ada acara dhiko dhabu yakni menaruh uang seberapa saja pada wadah
yang telah disiapkan. Bapa juga sudah menyiapkan pisang kepok, kelapa, ubi dan
pisang. Lalu bapa memanggilku. Aku duduk di tengah keluarga besar Sa’o Ledo.
"Besok bapa antar kau ke Bajawa. Kau harus sekolah", kata-kata bapa.
"Tapi sudah terlambat bapa", jawabku.
" Nanti bapa yang urus dengan tantamu di Bajawa".
"Tapi sudah terlambat bapa", jawabku.
" Nanti bapa yang urus dengan tantamu di Bajawa".
Keesokan pagi bapa mengantarku ke Bajawa.Bawaan kelapa dan pisang dimuatkan pada seekor kuda. Jalan kaki menyusuri jalan setapak yang melinggar di lereng gunung Inerie, menuruni jurang, mendaki bukit hingga sampai di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Sebuah kota kecil ketika itu, tanpa jalan aspal, dan selalu diselimuti kabut. Sore hari setelah di Bajawa, tantaku Elisabeth Ega mengantarku ke rumah Kepala SMP Sanjaya Bajawa Nikolaus Ruma. Ia berasal dari Ruto. Sejenak aku melihat mereka mencakapkan sesuatu.
"Beth, anak kita ini sudah terlambat. Anak-anak lain sudah sekolah sebulan lalu", kata-kata Niko Ruma.
"Guru, terus anak sekecil ini mau buat apa di luar kalau dia tidak sekolah. Dia ini pintar, walau terlambat, pasti dia bisa mengejar pelajaran yang tertinggal", kata-kata tantaku.
"Yah, mau tidak terima, dia masih kecil, kasihan juga. Baiklah Beth, besok dia mulai sekolah".
Inilah catatan awal untuk memulai
kisah tiga tahun belajar di SMP Sanjaya Bajawa. Belajar di kelas A bersama
sahabat-sahabat lainnya dari seluruh penjuru Ngada bahkan dari Manggarai, Ende
dan Alor. Hari-hari di Bajawa sungguh menyenangkan. Di kelas IA aku sekelas
dengan sahabatku Roni Pea, Blasius Lizu, Hengky Sawu, Moses Awe, Yoakim Judha,
Maria Simon Awa, Yopi Huik, Fritz Rabha Nay, Emanuel Lodo, Eman Dopo Ruba,
Simon Ruba Dopo, Niko Gelang, Niko Anggal, Hengy Jawa Luna, Samsudin Nur, Elias
Lou, Yohanes Bena, Benediktus Wede, Fanus Meo, Alertus Beu dan lain-lain.Maaf
jika aku sudah tak ingat lagi karena waktu yang berlalu sudah terlalu panjang
membentang.
Inilah awal aku berkelana.
Meninggalkan kampung halaman dan belajar hidup jauh dari bapa dan ibu. Tapi di Bajawa aku menemukan
bapa dan mama yang tulus mencinta dan mendidik. Sosok mama Elisabeth Ega
yang selalu mendidik dengan caranya seperti layaknya seorang ibu terhadap anak-anak. Sosok bapa Philipus Siku, lelaki Maumere yang tegas
tetapi penuh cinta. Di tangan keduanya
aku menenun semangat untuk
memetik bintang di langit. Di tangan mereka aku merasa dicintai.***Bersambung.
Komentar
Posting Komentar