ANAK LERENG GUNUNG (11)

Ceritera Bersambung

 Gambar terkait

***Sebelas***

Meskipun  sekolah kami di SDK Inerie  tetapi ujian akhir  dilaksanakan di SDK Ruto. Ujian  akhir untuk kelas enam  diadakan pada bulan November. Kami harus bangun pagi-pagi karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ketika itu orangtuaku pindah berkebun dari Leke ke Waeguru, suatu tempat persis di kaki gunung Inerie berbatasan dengan respal. Namun  aku lebih suka menempuh perjalanan ke Ruto melalui kampung Leke agar bisa bersama dengan teman-teman lain.

Aku dan teman-teman dari kampung Leke harus menempuh perjalanan melalui jalan setapak  di Gedhatere melewati Watu Ngadha lalu menyusuri jalan turun ke Nagepulu. Kami menyusuri pesisir pantai Wae Sugi  dan Wae Koe dan tiba di Ruto tepat waktu mulai ujian.Ujian  akhir dilaksanakan  dua hari. Tak ada persiapan. Tak ada belajar kelompok. Tak ada latihan-latihan mengerjakan soal ujian. Tugas kami adalah  mengikuti ujian akhir. Soal lulus atau tidak lulus  bukan hal yang sangat dipikirkan. Yang penting  setelah enam tahun belajar  di sekolah  maka tamat  sudah dan saatnya untuk mulai hidup di tengah masyarakat. Dalam perjalanan menuju Ruto  kami pun mengobrol tentang cita-cita setelah lulus ujian.
“ Ose Waso, kau kalau lulus  mau sekolah lagi ko?” Aku bertanya kepada teman Ose Waso.
“ Sekolah di pohon moke”, jawabnya.
“ Oh, sabho tua?”. Sabho tua adalah pekerjaan mendaras nira lontar yang disuling lagi  untuk mengasilkan arak. Pekerjaan itu seperti menjadi wajib bagi setiap laki-laki.
“ Terus  kau Bart Delo, mau sekolah lagi?, tanyaku.
“ Sabho tua”, jawabnya singkat. Demikian juga sahabatku  Polus Raro bercita-cita setelah selesai sekolah dasar menjadi tukang iris moke. Sedang sahabatku  Niko Dhey bercita-cita  rau uma, kerja kebun.

Sahabatku Niko Dhey  menggamat lenganku. Ia pun bertanya kepadaku.
“ Tinus Ghedo, kau mau sekolah lagi?”
“ Ya, saya harus sekolah lagi.”
“ Tapi kau punya bapa bilang  tidak usah sekolah.”
“ Kalau bapa saya tidak mau sekolahkan saya maka saya akan protes.”
“ Mana mungkin kau berani lawan bapamu.” Ujar Niko Dhey disambut gelak tawa teman-teman lain.

Sebetulnya pertanyaan Niko Dhey membuatku sedih. Sebab  baru semalam  aku berdebat dengan  bapa. Aku sampaikan pada bapa bahwa  aku mau sekolah SMP di Bajawa. Tapi bapa mengatakan tidak perlu sekolah.
“ Bapa saya mau sekolah lagi di SMP.”
“ Tidak usah sekolah. Tinggal di kampung dan belajar  kerja kebun. Selain itu belajar sabho tua”.
“ Tidak  bisa bapa, saya harus sekolah.”
“ Siapa mau ongkos kau?”. Jawaban  bapa membuatku terdiam. Hatiku sedih. Pada hal siang harinya Roni Pea menceriterakan  bahwa kalau ia lulus  akan melanjutkan ke SMP Sanjaya Bajawa. Ose Madha pun  menceriterakan  akan melanjutkan ke SMP di Boawae.

Dua hari ujian akhir di SDK Ruto dan usai sudah. Setelah itu kami tak lagi ke sekolah. Tak ada pesta perpisahan. Tak ada acara pengumuman kelulusan  di sekolah. Satu bulan kemudian  kami baru mengetahui  siapa saja yang lulus. Dalam sejarah SDK Inerie tercatat nama-nama kami. Dari kampung Maghilewa tercatat nama-nama  Tinus Ghedo, Dami Jawa, Remi Righo, Toni De’e, Laus Pambut, Simon Rato, Sius Laja, Nina Fono, Mina Ega dan Sofi Bhoki. Dari kampung Jere tercatat nama-nama Roni Pea, Sia Uta dan Mia Lele. Dari kampung Watu  tercatat nama-nama Ose Madha, Markus Nabha, Frans Juji, Geradus Wada, Frans Wada, Dami Keo,Tinus Rato, Feli Foa, Sia Bhebhe, Mia Keo, Deta Uta dan Mia Moi. Dan dari kampung Leke tercatat nama-nama  Bart Delo, Ose Waso, Niko Dhei, Polus Raro, Markus Maku, Fina Deu dan Bene Fono.

Kami  adalah angkatan tahun 1969  SDK Inerie. Yang lulus ujian akhir adalah Roni Pea, Ose Madha, Tinus Ghedo, Toni De’e, Sius Laja, Dami Jawa, Laus Pambut, Tinus Rato, Bart Delo  dan Lusia Uta. Januari 1970  temanku Roni Pea meninggalkan kampung Jere untuk melanjutkan sekolah di Bajawa. Ia diantar oleh kakaknya Dami Sogo  jalan kaki menyusuri jalan setapak di lereng gunungInerie. Ia melewati  kebun kami di Wae Guru. Di kebun ini ia bertemu denganku.
“ Teman, saya  sekolah lagi di SMP Sanjaya”, ujarnya.
“ Baik teman, selamat jalan.”

Tapi hatiku hancur. Aku iri karena Roni Pea melanjutan sekolah ke SMP. Tapi sejak saat itu  aku mogok  tidak mengikuti seluruh perintah bapa dan ibu.Aku yakin kalau bulan depan kakakku datang dari Maumere, aku pasti bisa melanjutkan  sekolah. Aku harus sabar menunggu.***Bersambung



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU