AIR MATA MEREKA


(Kepada eks Gafatar yang teraniaya)


Air mata mereka telah tumpah
Di negeri sendiri
Di Mempawah tanah airnya juga
Ketika hidup tak lagi nyaman
Dan kaki-kaki yang dicabut paksa
Dari ladang  garapan
Bumi ibu pertiwi

Air mata  ibu-ibu yang bingung
Ketika anak-anaknya menjerit
Saat bala pasukan dengan wajah garang
Menghunus  senjata tajam
Sambil berteriak: Bangsat!
Tak ada rasa peduli lagi
Bahwa yang mereka kejar
Anak-anak satu bangsa

Lelaki-lelaki  kehilangan  daya
Ketika  istrinya  digiring keluar dari rumah
Dan menyaksikan  tangan-tangan  setan
Membakar tanpa  rasa kemanusiaan
Sambil berteriak: Bangsat kamu semua!
Pergi kamu dari pulau kami
Dari tanah para leluhurku
Tanpa mengerti: Ini negeri satu Indonesia!

Asap api telah mengepul
Bara api telah menghanguskan
Semua tumpangan telah jadi padang arang
Dan selaksa anak sesama bangsa
Menjadi asing di negeri sendiri
Kapal-kapal perang disiagakan
Untuk memulangkan sesama rakyat
Ke tempat kelahirannya
Sedang para pelaku boleh merdeka
Tanpa perlu merasa telah berbuat nista

Di kampung kelahirannya
Sejuta butir air mata tetap saja luruh
Mereka pun telah menjadi orang asing
Diinapkan di gedung-gedung serba darurat
Tanpa  tahu sampai kapan
Prahara hidup ini harus dijalani
Oh, di tengah gempita sorak sorai
Negeri yang telah lama merdeka
Penjajahan meradang dari rahim negeri sendiri
Dilakonkan orang-orang tak punya jiwa
Dan  pohon harapan  seolah tumbang
Kalah pada perangai
Orang-orang  yang melaknat wibawa negara

Air mata mereka mungkin akan terus tumpah
Sebab negeri ini telah kehilangan  rasa senasib
Dan anak-anak satu bangsa tak bisa lagi merdeka
Menentukan pilihan  membangun masa depan
Di sepanjang  khatulistiwa
Dari Sabang sampai Merauke
Dari Tanah Talaud hingga pulau Rote
Sebab  nasionalisme  mulai pelan-pelan runtuh
Dan rasa kedaerahan  menjadi mantel baru
Yang dikenakan untuk saling menjegal
Tanpa rasa  persaudaraan satu bangsa: Indonesia.***

Denpasar, 26 Januari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU