TANAH LELUHUR YANG HILANG



Puluhan tahun lalu kita sama-sama berdecak kagum
Saat bola mata kita penuh birahi
Menikmati pucuk hijau mangrove
Dan paruh sepasang bangau gemeretak mematuk waktu
Yang bercinta di dahan rindang
Bercengkrama di kilau emas menjelang senja
Kau  bilang Pulau Serangan sakral
Indah mempesona
Dan tak  ada satu tanganpun
Akan berani merajamnya

Itu kisah masa lalu
Kini pesona itu makin pudar
Kecuali rumah Tuhan Pura Sakenan
Yang tak mungkin dikhianati
Kini gerbang masuk ke tanah tumpang
Telah ada yang mengempang lajumu
Langkah kakimu tak lagi bebas berayun
Karena jengkal-jengkal tanah leluhurmu itu
Sudah bukan punyamu lagi
Kau sudah gadaikan semuanya
Kepada yang punya kuasa
Dan yang menjerat jiwamu dengan keping-keping dolar

Kita pernah duduk bersenandung
Di pematang sawah  tengah kota
Mata  menjilat  hijau padi
Jiwa melahap hamparan sawah menguning
Menghitung berjuta burung pipit
Mengeja lagi nyanyian tekukur
Menyapa petani bertopi daun gebang
Yang tersenyum merekah
Menggantung harap pada padi bunting
Kini wajah sawahmu kian susut
Terkuras oleh beton-beton megah
Kau tak bisa bebas bicara
Tak bisa melarang
Karena kau telah menukarnya
Dengan lembar-lembar miliaran

Kampung-kampung leluhur tengah kota
Telah lenyap tersapu waktu
Keping-keping tanah telah berpindah tangan
Sudah bukan milikmu lagi
Mereka telah mengusirmu ke pinggir jurang
Memaksamu ke lereng gunung
Menyewa  rumah-rumah petak
Menggarap sawah milik konglomerat
Tanah sawah ladang yang pernah jadi milikmu
Melemparmu ke seberang lautan
Kau bukan lagi pewaris tanah leluhur
Kau adalah pecundang nenek moyangmu
Yang pernah membela tanahnya dengan taruhan nyawa

Teman, sekarang kau dimana?
Karena aku tahu kau sudah tak punya sepotong tanah
Bahkan tak punya setra untuk tempat singgahan terakhir
Kuharap kau merasakan belitan derita
Karena leluhurmu tak mau bertahta di  jiwamu
Anak cucu yang mengkhianatinya
Mari kita sebarkan pesan jaman
"Hentikan menjual tanah leluhurmu"
Karena tanah leluhur yang hilang
Adalah darah, keringat dan air mata
Para moyang yang harus dilestarikan***

Denpasar, 2 Juli 2015



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN