AIR MATA ANAK BANGSA



Negeri kami ini
Hamparan beribu gugusan pulau
Mata rantai terbentang dari Sabang sampai Merauke
Berbujur dari Sangihe Talaud hingga Sabu Raijua
Anak-anak tanah berdiang di tungku kehidupan
Bicara dengan bahasa turunan leluhur
Berpijak dengan budaya warisan moyang


Negeri ini dibangun
Dengan darah dan air mata
Tulang-tulang tak bernama berserakan
Gugur berjuang untuk bangsa
Tanpa makam
Tanpa batu nisan
Karena tulang dan daging
Terkubur di tanah pusaka
Bumi nusantara


Kita telah mencatat sejarah
Dari waktu ke waktu
Periode ke periode
Orde ke orde
Tongkat kepemimpinan diestafetkan
Dari satu bapa bangsa
Kepada bapa bangsa lain
Dari Soekarno ke Soeharto
Dari Habibie ke Abdurahman Wahid
Dari Megawati ke Soesilo Bambang Yudhoyono
Dan kini Joko Widodo
Menahkodai kapal besar Indonesia
Milik kita semua


Kita telah melangkah bersama
Dalam suka dan duka
Dengan senyum dan tawa
Dengan deraian air mata duka
Peristiwa gembira dan duka
Silih berganti
Datang dan pergi
Tiada ujung dimana berakhir


Sederet peristiwa merobek sukma
Kudeta 30 September 1965
Perisiwa Malari
Kerusuhan Mei 1998
Penculikan mahasiswa
Adalah duka negeri
Duka anak bangsa


Bencana alam menggempur negeri kita
Bencana gunung meletus
Banjir bandang meradang
Gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan kehidupan
Tanah longsor menelan korban jiwa
Gunung sampah meradang
Dosa siapakah?


Duka di laut dan udara
Warna kelabu membalut kalbu
Kapal tenggelam
Pesawat jatuh
Tabrakan di jalan lintas
Tabrakan kereta api
Ribuan anak bangsa
Telah menjadi tumbal


Pembunuhan marak di mana-mana
Penculikan seperti tak bisa dilawan
Perkosaan kian mengganas
Entah berakhir sampai kapan


Korupsi meraja lela
Dari pejabat tinggi sampai kelas rendah
Penjara-penjara penuh dengan koruptor
Yang tak lagi miliki rasa malu
Merasa diri seperti bintang
Tak tahu bahwa ia telanjang
Meski berbalut sarung munafik


Para wakil rakyat minta jatah
Uang miliaran untuk reses
Mata mereka buta hingga tak melihat
Rakyat yang memilihnya terlilit hutang
Bicara berkoar-koar
Mencaci maki pemimpin negara
Tak sadar telah memberi teladan buruk
Bagi anak-anak bangsa


Ini serentang temali cinta
Pada negeri ini
Mari kita tata bersama
Agar kapal besar Indonesia
Tak berlayar ke bibir jurang
Menenggelamkan anak-anak cinta
Revolusi mental
Kuatkan nasionalisme
Katakan: Sekali merdeka tetap merdeka
Sekali Indonesia tetap Indonesia
Dan air mata duka
Menyuburkanmu Indonesiaku.***


Denpasar, 1 Juli 2015
Di HUT Hari Bhayangkara


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU