HILANG



Kau lihat burung-burung mungil itu
Menjadi mahluk setengah gila
Mencari rumah yang hilang
Digusur taring-taring kekuasaan
Tak ada lagi dahan-dahan hijau
Dan ranting-ranting pun telah rontok
Mereka menggugatmu
Dimana kuletakkan sarangku?

Burung-burung setengah gila
Meratap perangai penguasa gila
Yang bicara keadilan
Sambil mengayun kapak
Menebang pohon kehidupan
Karena tergoda montoknya payudara
Para pelacur negeri yang menjual diri
Ke negeri seberang laut

Burung-burung negeri kesasar
Tanpa liang tempat membirahi
Meletakkan telur masa depan generasinya
Predator-predator bermata tajam
Siap memangsanya
Penguasa cuma mengusap air mata duka
Dan para wakil menyebutnya dalam pidato
Membiarkan mereka mati kelaparan

Hutan makin langka
Pohon-pohon telah lenyap
Tiang-tiang beton pun angkuh
Tanpa liang untuk burung dara
Bermain cinta di kamar mewah
Bahkan singgah sejenak di bubungan
Disemprot dengan pestisida
Ditodong dengan bedil
Karena istanamu bukan istananya

Oh, tanah leluhurku
Kau gadaikan untuk menggapai mimpi
Hilang ranting-ranting perdu
Kering daun-daun belukar
Kerontang pucuk-pucuk semak
Hanya istana megah angkuh mencibir
Berteriak: Aku ada di sini tapi bukan milikmu
Karena tanah ini sudah kau gadaikan
Untuk mengganjal perutmu yang lapar.***
Denpasar, 5 Juni 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU