POTONGAN-POTONGAN KENANGAN
Pagi ini aku menanti matahari
Untuk kita nikmati
Dan matahari datang
Bersama kabar duka
Engkau pergi ke rumah Bapa
Untuk selamanya
Untuk kita nikmati
Dan matahari datang
Bersama kabar duka
Engkau pergi ke rumah Bapa
Untuk selamanya
Terdiam aku di bilik kerja
Pada setumpuk buku
Dan serakan potongan koran bekas
Aku menangkap kembali
Potongan-potongan jalan hidup
Dan pada satu jilid kecil
Aku pernah bersamamu
Di sudut rumah TOR
Pada setumpuk buku
Dan serakan potongan koran bekas
Aku menangkap kembali
Potongan-potongan jalan hidup
Dan pada satu jilid kecil
Aku pernah bersamamu
Di sudut rumah TOR
Pagi ini aku seperti kembali ke
Ritapiret
Tempat titik awal ziarah
Menjawab panggilanNya
Menemukan nukilan-nukilan kecil
Yang terus membekas
Mengenang hari pertama 1987
Di ruang kelas kita berkenalan
Kita datang dari mana-mana
Bersama menyusuri jalanNya
Untuk menentukan terus melangkah
Atau berhenti pada waktunya
Tempat titik awal ziarah
Menjawab panggilanNya
Menemukan nukilan-nukilan kecil
Yang terus membekas
Mengenang hari pertama 1987
Di ruang kelas kita berkenalan
Kita datang dari mana-mana
Bersama menyusuri jalanNya
Untuk menentukan terus melangkah
Atau berhenti pada waktunya
Setahun kita merajut
kebersamaan
Menyusuri rumah besar Santo Petrus
Kadang harus menikmati silensium
Dan bercengkrama pada waktu yang tepat
Bercanda dengan monyet Ria
Dan merotaninya pada suatu saat
Ketika tangan mungilnya melumuri jubah putih
Dengan cat merah muda
Menyusuri rumah besar Santo Petrus
Kadang harus menikmati silensium
Dan bercengkrama pada waktu yang tepat
Bercanda dengan monyet Ria
Dan merotaninya pada suatu saat
Ketika tangan mungilnya melumuri jubah putih
Dengan cat merah muda
Teman, satu tahun kita lalui
Dalam tuntunan Romo Vinsen Sensi Potokota
Dan aku menempuh jalanku sendiri
Kembali ke duniaku
Hingga suatu saat kupetik berita gembira
Engkau ditahbiskan menjadi imam
Itu pilihanmu termahal
Yang tak bisa digadaikan dengan apapun
Dalam tuntunan Romo Vinsen Sensi Potokota
Dan aku menempuh jalanku sendiri
Kembali ke duniaku
Hingga suatu saat kupetik berita gembira
Engkau ditahbiskan menjadi imam
Itu pilihanmu termahal
Yang tak bisa digadaikan dengan apapun
Suatu hari tiga tahun silam
Kita berpelukan di rumah Keuskupan Denpasar
Kita bernostalgia tentang rumah TOR
Tentang saat-saat penuh canda
Menghitung kembali nama angkatan yang pulang
Dan menderetkan kembali sebaris nama
Yang berhasil menggapai impian
Kita berpelukan di rumah Keuskupan Denpasar
Kita bernostalgia tentang rumah TOR
Tentang saat-saat penuh canda
Menghitung kembali nama angkatan yang pulang
Dan menderetkan kembali sebaris nama
Yang berhasil menggapai impian
Pagi ini berita duka kupahatkan
di sini
Mendirikan monumen dari seribu kata
Agar jika aku menyusulmu
Masih ada yang tahu
Bahwa kita pernah punya mimpi yang sama
Engkau berhasil mendaki ke puncak
Dan aku berhenti di lerengnya
Kini giliranmu kembali kepada Bapa
Selamat jalan sahabatku.***
Mendirikan monumen dari seribu kata
Agar jika aku menyusulmu
Masih ada yang tahu
Bahwa kita pernah punya mimpi yang sama
Engkau berhasil mendaki ke puncak
Dan aku berhenti di lerengnya
Kini giliranmu kembali kepada Bapa
Selamat jalan sahabatku.***
Denpasar 23 Mei 2015
Didedikasikan untuk Romo Agus R Parera
Didedikasikan untuk Romo Agus R Parera
Komentar
Posting Komentar