SUBUH DI BUNGUR ASIH
Perempuan penjaja kopi
Menombak subuhku
Kantuk yang terlumat
Tertikam bola matanya
Membedah sunyi
Dengan senyum
Kopi mas?
Menombak subuhku
Kantuk yang terlumat
Tertikam bola matanya
Membedah sunyi
Dengan senyum
Kopi mas?
Bus berdatangan
Bungur Asih riuh
Penjaja koran mengobral
Koran,koran,korannnn
Aneh, tak ada angin
Tapi rintik hujan Surabaya
Melabur aspal jadi coklat
Bungur Asih riuh
Penjaja koran mengobral
Koran,koran,korannnn
Aneh, tak ada angin
Tapi rintik hujan Surabaya
Melabur aspal jadi coklat
Di Bungur Asih
Kenanganku meluap
Seperti air sungai di kali porong
Atau luapan lumpur Lapindo Sidoarjo
Di bangku ini tak tertinggal bekas
Puluhan tahun lalu kita bercinta
Pada deru mesin waktu
Kenanganku meluap
Seperti air sungai di kali porong
Atau luapan lumpur Lapindo Sidoarjo
Di bangku ini tak tertinggal bekas
Puluhan tahun lalu kita bercinta
Pada deru mesin waktu
Dan sopir tua berambut uban
Melambai tangan
Ayo berangkat
Belum ada matahari
Surabaya telah geliat
Dan orang-orang mengejar waktu
Di jalanan kota
Menari pada ritmenya.***
Melambai tangan
Ayo berangkat
Belum ada matahari
Surabaya telah geliat
Dan orang-orang mengejar waktu
Di jalanan kota
Menari pada ritmenya.***
Terminal Bungur Asih Surabaya,
27 Mei 2015
Komentar
Posting Komentar