TERMANGU
Kita masih menuju tepian
Tempat melabuhkan sauh
Biduk yang kukayuh bersamamu
Menyusuri laut lepas
Ada gelombang menerpa
Dan badai menghadang
Biduk yang oleng
Dan kita mengikat jiwa
Dengan doa pasrah
Tempat melabuhkan sauh
Biduk yang kukayuh bersamamu
Menyusuri laut lepas
Ada gelombang menerpa
Dan badai menghadang
Biduk yang oleng
Dan kita mengikat jiwa
Dengan doa pasrah
Kita mendendangkan nyanyi sunyi
Pada setiap ayunan langkah
Juga di saat gelombang mengganas
Dan angin tak bersahabat
Menghibur diri dengan merangkai kata
"Jangan menangis sayang"
Dan kau pulas dalam pelukan
Dalam pantulan pasrah
Pada setiap ayunan langkah
Juga di saat gelombang mengganas
Dan angin tak bersahabat
Menghibur diri dengan merangkai kata
"Jangan menangis sayang"
Dan kau pulas dalam pelukan
Dalam pantulan pasrah
Kita telah berziarah separuh
waktu
Berdua, bertiga dan berempat
Di kota ini kita mengasoh
Untuk selanjutnya tanpa tahu
Ke mana kubawa biduk cinta
Dan sentuhan matamu memagut
"Biarlah kisah disudahi saja"
Tambatkan perahumu di bibir jiwa
Kau, aku dan anak-anak
Telah terbiasa dalam ketakberadaan
Berdua, bertiga dan berempat
Di kota ini kita mengasoh
Untuk selanjutnya tanpa tahu
Ke mana kubawa biduk cinta
Dan sentuhan matamu memagut
"Biarlah kisah disudahi saja"
Tambatkan perahumu di bibir jiwa
Kau, aku dan anak-anak
Telah terbiasa dalam ketakberadaan
Oh, perempuanku
Jiwa putihmu
Hati murnimu
Cinta tulusmu
Membuatku termangu
Maafkan, aku belum memberimu
Tasik yang damai
Tempat kita berdoa lebih tenang
Dan bercinta lebih indah.***
Jiwa putihmu
Hati murnimu
Cinta tulusmu
Membuatku termangu
Maafkan, aku belum memberimu
Tasik yang damai
Tempat kita berdoa lebih tenang
Dan bercinta lebih indah.***
Denpasar, malam ini 3 Juni 2015
Untuk istriku yang tabah
Untuk istriku yang tabah
Hilang
Kau lihat burung-burung mungil
itu
Menjadi mahluk setengah gila
Mencari rumah yang hilang
Digusur taring-taring kekuasaan
Tak ada lagi dahan-dahan hijau
Dan ranting-ranting pun telah rontok
Mereka menggugatmu
Dimana kuletakkan sarangku?
Menjadi mahluk setengah gila
Mencari rumah yang hilang
Digusur taring-taring kekuasaan
Tak ada lagi dahan-dahan hijau
Dan ranting-ranting pun telah rontok
Mereka menggugatmu
Dimana kuletakkan sarangku?
Burung-burung setengah gila
Meratap perangai penguasa gila
Yang bicara keadilan
Sambil mengayun kapak
Menebang pohon kehidupan
Karena tergoda montoknya payudara
Para pelacur negeri yang menjual diri
Ke negeri seberang laut
Meratap perangai penguasa gila
Yang bicara keadilan
Sambil mengayun kapak
Menebang pohon kehidupan
Karena tergoda montoknya payudara
Para pelacur negeri yang menjual diri
Ke negeri seberang laut
Burung-burung negeri kesasar
Tanpa liang tempat membirahi
Meletakkan telur masa depan generasinya
Predator-predator bermata tajam
Siap memangsanya
Penguasa cuma mengusap air mata duka
Dan para wakil menyebutnya dalam pidato
Membiarkan mereka mati kelaparan
Tanpa liang tempat membirahi
Meletakkan telur masa depan generasinya
Predator-predator bermata tajam
Siap memangsanya
Penguasa cuma mengusap air mata duka
Dan para wakil menyebutnya dalam pidato
Membiarkan mereka mati kelaparan
Hutan makin langka
Pohon-pohon telah lenyap
Tiang-tiang beton pun angkuh
Tanpa liang untuk burung dara
Bermain cinta di kamar mewah
Bahkan singgah sejenak di bubungan
Disemprot dengan pestisida
Ditodong dengan bedil
Karena istanamu bukan istananya
Pohon-pohon telah lenyap
Tiang-tiang beton pun angkuh
Tanpa liang untuk burung dara
Bermain cinta di kamar mewah
Bahkan singgah sejenak di bubungan
Disemprot dengan pestisida
Ditodong dengan bedil
Karena istanamu bukan istananya
Oh, tanah leluhurku
Kau gadaikan untuk menggapai mimpi
Hilang ranting-ranting perdu
Kering daun-daun belukar
Kerontang pucuk-pucuk semak
Hanya istana megah angkuh mencibir
Berteriak: Aku ada di sini tapi bukan milikmu
Karena tanah ini sudah kau gadaikan
Untuk mengganjal perutmu yang lapar.***
Kau gadaikan untuk menggapai mimpi
Hilang ranting-ranting perdu
Kering daun-daun belukar
Kerontang pucuk-pucuk semak
Hanya istana megah angkuh mencibir
Berteriak: Aku ada di sini tapi bukan milikmu
Karena tanah ini sudah kau gadaikan
Untuk mengganjal perutmu yang lapar.***
Denpasar, 5 Juni 2015
Komentar
Posting Komentar