KEPADA MALEKAT KECIL



Seperti mawar baru mekar pagi
Tanpa embun
Tanpa pelangi
Tanpa mega menghias langit
Bumi di Sedap Malam
Kelam suram
Di ranting beringin depan istana
Pipit-pipit kecil mendaraskan mazmur
Tentang deritamu

Seperti tunas patah
Dirajam tangan dari Sabana
Diremuk cakar singa lapar dari seberang lautan
Tumbuh kembangmu terpatahkan
Bulan malam muram durja
Bintang subuh merunduk
Matahari menangis
Angin membawa kabar duka
Sudah sampai dimana perjalananmu
Oh malekat kecilku?

Seperti pucuk jepun
Telah layu ditekuk
 
Sebelum mengerti makna hidup
Seperti kuncup jempiring
Telah gugur sebelum menebar wangi
Seperti kembang melati
Telah layu sebelum waktunya
Seperti bulir-bulir padi
Telah rontok sebelum panen tiba
Dan derap langkahmu dipatahkan
Oleh raga berhati singa garang

Burung pipit masih bertengger
Di ranting beringin depan istana penjaramu
Masih mengidungkan melodi lamentasi
Dengan wajah muram durja
Dengan sayap-sayap terkatup
Dengan cicit merindumu
Merindu jiwa putih tak bercela
Luka tanah Bali
Luka tanah negeri
Luka selaksa anak ufuk timur
Terkutuklah kau tangan setan negeri sabana.***
Denpasar, 11 Juni 2015

Merpati kecil

Terbang menembus langit
Telapak tangan bertulis namamu
Menyambut dengan petikan gambus
Mengelus rambutmu
Menyapu keningmu
Menghapus air matamu

Deritamu berbatas cakrawala
Tak ada lagi hentak bentak
Dan amarah murka durjana
Srigala lapar menyeringai
 
Melata di atas bumi manusia
Bening matamu memanahnya
Kau tersenyum dari singgasana tak tergapai
Dan si laknat keparat terpanggang
Di kobaran nyala dan bara neraka

Kau berselimut selendang sutra
Jiwamu sulaman para kudus
Berdiang di sinar mata Sang Pengasih
Tubuh mungilmu dalam timangan Bunda
 
Dan berjuta laskar surgawi
Memetik kecapi pengantar tidurmu
Kau telah merdeka dari dera dan siksa

Kutahu mata beningmu seperti dian
Yang terus memancarkan cahaya
Adakah engkau menghitung berapa banyak
Singa lapar daging dan harta
Yang telah meminum darahmu
Dan melumat ragamu?
Aku tidak tahu oh malekat kecilku
Apakah kau sedang mendoakan mereka
Agar kebejatan terhapuskan?

Deritamu telah berakhir
Sedap Malam menjadi catatan sejarah
Kau...lilin kecil tetap syahdu
Jadilah pendoa bagi sahabatmu
Yang mencintai
Dan menangisi kepergianmu
Selamat jalan Angelina.***
Tanjungbungkak, 13 Juni 2015

Firdaus itu Milikmu

Delapan tahun cuma sepotong ziarah
Tetapi menggoncang dunia
Kepergianmu diiringi tangisan
Dan untaian bunga warna-warni
Litania doa tercurahkan
Dari sejuta lembar hati
Yang diiris sembilu 

Doa-doa terbang bersamamu
Untukmu anak pelangi
Anak semua bangsa
Yang dilaknat
Telapak kecilmu menulis jejak
Di ruas jalan Sedap Malam
Melintas Jalan Hangtuah
Akan menjadi sejarah

Tubuh mungil terpanggang matahari
Sang surya menerpa wajahmu
Ketika kau mengayun langkah
Pada sepenggal waktu
Belajar membaca dan menulis
Tentang kehidupan
Hidup pada waktumu
Masa indah yang terenggut
Oleh kerakusan
 
Dan kelaliman

Engkau tidur di kesendirian
Pada rentang siang dan malam panjang
Pada tiga minggu yang sunyi
Tanpa alas tikar
Tanpa lentera
Entahkah kau mendegar
Suara hiruk pikuk mencarimu?

Entahkah engkau melihat
Air mata luruh dari wajah munafik?
Orang-orang yang mengaku mencintaimu
Temanmu sebuah boneka
Kau pun tak merasakan desir angin
Menyapu daun pisang kepok
Karena tidurmu bukan maumu

Dunia menangisimu
Negeri kita berkabung
Betapa singkatnya kisah yang kau rajut
Kekuatan murka mengakhiri ziarahmu
Kau malekat kecil di tengah negeri yang dahaga
Namamu akan menjadi monumen
Untuk mengajar para predator
Bagaimana mereka menghargai kehidupan

Kini kau telah tidur pulas
Di bumi Blambangan warisan leluhurmu
Tidurlah dalam pelukan bumi pertiwi
Karena di pusara itu ragamu dititipkan
Dan jiwamu kini dalam pelukan
Ditimang para malekat surgawi
Kau telah mendapatkan kelimpahan harta
Yang tak pernah akan diperebutkan

Tidurlah....tidurlah Angelina
Hingga tiba saatnya
Kebangitan akhir jaman datang
Dan kau ada di barisan para kudus
Karena firdaus itu milikmu***
Denpasar, 18 Juni 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU