NYONYA PENJAGAL
Aku tak perduli pada
suaramu
Kupikir kau seperti
peri malang
Yang terus mengoceh
tak karuan
Sekarang kau sedang
menggiring dirimu sendiri
Sebentar lagi akan
terkubur
Dalam liang lahat
kekalahan
Dalam pertarungan
membela kebohongan
Kau ada di barisan
yang terlumat
Oleh kebenaran dan
keadilan hukum
Dan darah tak berdosa
Hari ini kulihat
bibirmu
Adalah mata silet yang
mengiris jelata
Setiap kata yang kau
tularkan
Adalah mata pisau
belati
Yang mengiris para
jiwa
Mereka yang hanya
punya hati
Untuk menampung air
mata kepedihan
Tapi suatu saat nanti
Akan mengiris hatimu
sendiri
Kau ada di barisan
pendekar
Yang mau mengangkat
pendosa ke firdaus surgawi
Teruslah berjuang
hingga tetes darah terakhir
Tapi jangan lukai jiwa
sejuta ibunda
Yang telah merasakan
sakit melahirkan
Juga seperti di saat
ibumu sendiri
Di detik-detik
melahirkan engkau
Kami ini bukan laskar
para dungu
Yang mudah kau kibuli
dengan alibimu
Kami para jelata memang
tak belajar hukum
Tetapi tahu membaca
kisah petualangan
Sang nyonya yang kau
bela itu
Dia serigala berbulu
domba
Sejuta jiwa melihat
dengan mata hati
Kebohongannya yang kau
bela mati-matian
Sampai kapan kau terus
melototkan matamu
Membungkus jiwamu dengan
kafan hitam
Dan suatu saat kau
akan menanggung rasa malu
Atau mungkin kau telah
terbiasa
Mencari secangkir
anggur
Dari kebebalan sang
nyonya pembual
Jika itu maumu
teruskan pembelaanmu
Indonesia sedang
mencibirmu.***
Denpasar, 30 Juni 2015
Komentar
Posting Komentar