Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

SAAT AKU KEMBALI MERINDUMU

Aku ingin pulang Ke kebun di kaki gunung Mungkin masih ada jejak telapak Aku ingin menjadikannya kanvas Untuk melukis wajahmu Wajah keriput perempuan Yang bertudung rambut putih Agar pulas rinduku padamu Aku ingin pulang Ke pondok di puncak bukit Mungkin masih ada jejak jemarimu Saat engkau duduk bersimpuh Merajut anyaman daun lontar Sambil menginang sirih pinang Dan menanak ubi talas Untuk makan malam Aku ingin pulang Menyusuri semak belukar Menuruni lembah di belakang kampung Mendaki di lereng gunung Mencari bekas kakimu Mungkin di situ terlukis wajahmu Dan aku dapat mengasoh sejenak Memandangmu seutuhnya Aku ingin pulang Meretas kembali jalan setapak Agar terkuak kembali kenangan Masa kecil bersamamu Mungkin aku dapat menikmati Desah nafasmu Dan ciuman berlumur air sirih Aku ingin pulang Mencari sisa-sisa kenangan Di rumah adat Ketika engkau terbaring lemah Terkulai tak berdaya Menunggu tiba saatnya pergi Untuk tak pernah kembal...

KUCARI WAJAHMU

Aku ingin pulang Untuk menghitung lagi Seribu pohon lontar Yang semakin menua Aku ingin mencari wajahmu Yang masih tersangkut pada daun Dan bekas dudukmu Yang masih melekat di pelepah Kutahu pohon lontar di Malapedho Masih bernas melahirkan mayang Tempat mengalir bulir-bulir sari gula Memberi kehidupan anak cucu Menyimpan jejak kaki telanjang Di saat subuh dan senja Saat engkau meretas Bunga-bunga mayang Aku ingin pulang Untuk menghitung lagi Seribu lontar di atas gunung Tempat engkau pernah mengajarku Bagaimana menjadi penyadap nira Meski sejarah pun berputar arah Dan aku harus pergi ke kota Meninggalkan engkau sendiri Bersenandung dan bermain okulele Sambil memasak nira menjadi arak Aku ingin pulang Mencarimu di pondok tuak Duduk bersila di bale-bale Meneguk moke Mencicipi ubi bakar Menikmati sambal kepiting Merasakan kuah lawar siput laut Sambil meresapi petuahmu Tentang bagaimana bertarung Dalam kehidupan Aku ingin pulang Unt...

IBU AKU MERINDUMU SELALU

Aku telah memiliki kaki yang matang Berlari di padang kehidupan Meski tahu engkau di rumah Dalam kesepian Pada matahari menuju senja Aku tidak bisa pulang Untuk menghabiskan waktu Menenun pada masa tuamu Meski cintaku tetap membara Dan tak bisa terhapuskan Aku bukan buah rahimmu Tapi cintamu padaku Mengalir dari mata hatimu Menyiram masa mudaku Cinta mama pada anaknya Mama ini aku di kejauhan Berbatas pulau dan samudera luas Berbenteng bukit dan gunung menjulang Rinduku melesat pada langit biru Kuharap menyinggahi rumah di Ngedukelu Tempat engkau mengatupkan tangan Mendoakan anakmu dalam kesendirian Rinduku padamu adalah rindu anakmu Ketika mata tak bisa berkedip Hingga di ujung pagi Aku ingin memelukmu Meski hanya sepenggal doa Tunggu aku mama Aku pasti pulang.*** Denpasar, 13 Juli 2015