PENUNGGU WAKTU



Engkau adalah penunggu waktu
Kapan saat-saat itu datang
Dan mereka pulang
Engkau dilahirkan untuk mengabdi
Pada sisa-sisa kehidupan mereka
Di saat matahari terus berlari
Menuju senja
Kadang-kadang engkau tertawa lepas
Ketika tengah bercanda dengan sesama
Sambil menginang sirih pinang
Dan pada sunyi yang datang
Engkau luruhkan air mata
Rindu anak gadismu yang pergi
Rindu suamimu yang tak lagi pulang
Pergi ke keabadian
Mungkin di hening malam
Engkau rindu sulung di timur
 
Yang kesepian dalam pisah abadi
Dan bungsu di barat
 
Yang berbatas pulau dan samudera
Atau menjelang subuh
Engkau rindu putri-putri
Yang lelap di rantauan
Itukah kehidupanmu?
Engkau penunggu waktu
Kapan kekasih-kekasihmu pulang
Bercanda di rumah adat Maghilewa
Berkisah kembali tentang masa silam
Ketika ibu berladang di lereng gunung
 
Memberi kita manna ubi dan talas
Dan bapa bersenandung di pucuk-pucuk lontar
Memberi kita sarapan pagi tuak manis
Engkau penunggu waktu
Sambil menyimpan kisah kehidupan
Pada mataraga sa'o Ne Ledo
Engkau tak bisa kemana-mana
Sebab rumah adat tak bisa dilepas
Tanpa tangan yang merawat
Engkau dilahirkan
Untuk menggenggam roh budaya
Warisan leluhur turun temurun
Karena sewaktu-waktu
 
Kekasih-kekasihmu datang berziarah
Di rahim leluhur.***
Denpasar, 6 Juni 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU