KEPADA DUA PEREMPUAN



Kamu yang masih tertinggal
Ketika aku kembali menghitung
Generasi yang tak melahirkan
Dan yang melahirkan
Anak-anak penunggu Sa'o*)
Dan anak-anak pelanglang buana
Dua rahim telah pulang
Wula Moi dan Naru Pajo*)
Menyatu pada ibu tanah
Kembali ke rumah Bapa
Perempuan-perempuan dalam sejarah
Pemberi air susu kehidupan
Mereka yang tak sempat kutatap
Juga saudara-saudariku
Pada detik-detik terakhir
Tak sempat lantunkan doa di pusara
Tak sempat taburkan bunga saat perpisahan
Tak sempat mengantar ke pembaringan abadi
Kecuali setelah bunga-bunga layu
Dan kami bertandang di kebisuan makam
Kini dua nama masih tinggal
Ngodhi Mo'i dan Meda Pajo*)
Oh, usia kamu sudah panjang
Tubuh kalian sudah rapuh
Akankah bertahan hingga kami datang
Bertandang dan mencium pipi keriputmu?
Ine*), kami ini pejalan lintas batas
Kami tak bisa pulang ke rahim kalian
Tapi pada detik-detik yang terus bergemuruh
Kusebut dua nama kalian
Dalam bait-bait doaku
Tunggu aku
Tunggu saudara-saudariku
Jika saatnya kamu kembali
Tuhan, pertemukan kami
Pada nafas cinta mereka
Dalam untaian doa kami anak-anaknya.***
Denpasar, jelang dini hari 4 Juli 2015
Dalam rindu yang berkecamuk
Sa'o = Rumah adat
Wula Moi dan Naru Pajo = nama orang
 
Ngodhi Mo'i dan Meda Pajo = nama orang
Ine = ibu/mama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU