Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

DOA DI JALAN ZIARAH

Entah masih berapa lama Jalan ziarah mesti kami dijalani Mengalami  saat-saat duka Merasakan detik-detik duka Mengecap kisah-kisah manis Menelan pengalaman pahit getir Biarkan kami tiada gelisah Biarkan tubuh dan jiwa Masuk ke relung doa Berserah pada kemahakuasan-Mu Sebab tak sedetikpun Engkau menjauh Cinta-Mu mendekap kami Tak berkesudahan Jalan ziarah  masih terbentang Berujung di mana kami tak tahu Berakhir kapan juga misteri Tetapi iman penuh harapan Bahwa  pada akhirnya Mesti ada muara  yang dituju Tempat mengasoh abadi Kekal   selamanya bersama-Mu Ketika hari-hari terus berlari Waktu yang terus beranjak Menit dan detik  terus berganti Selalu ada  gong peringatan Bahwa  sejarah hidup Tak pernah kembali ke masa kecil Selalu mengalir ke masa depan Dan mendekat ke kemah-Mu Sebab  setelah kelahiran Ada sekian lama kesempatan didapat Untuk menimba sejuta pengalaman Membenah diri untuk arif Membentuk jiwa untuk bijaksana Mengakarkan iman...

CATATAN SENJA

Aku tahu senja pasti berakhir Malam mendekap kesendirian Menyusuri jalan ziarah Entah takdir Atau nasib Yang sudah pasti Adalah penyerahan   Maka aku memahatkan kata Pada tiang batu leluhur Tempat menunai upacara Agar setiap generasi Dapat tetap menemukan jawaban Meski nama terkuburkan Dan air mata sudan lama mengering   Catatan senja memutih Di debur ombak pantai Sanur Menyapa malam Dengan doa penyerahan Kutulis kata di pasir putih Antara beribu tapak kaki Tentang apa arti harapan   Aku tahu senja pasti kembali Memeluk kefanaan Sesudah itu berakhir lagi Melewati jalan yang sama Entah rahmat Atau karunia Yang sudah pasti Tak ada jalan pulang Pantai Sanur, 18 Pebruari 2019

ZIARAH

Pada kubur tua Ziarah menabur rindu Di lereng gunung Bau tembakau dan moke*) Bercinta tanpa birahi Di dekap sunyi Senja di Maghilewa*)   Arwahmu duduk bersila Di ujung Inerie*) Menyapa akrab Tanpa kata Terasa dalam senyap Antara harum bunga cengkeh Di gerbang peristirahatan   Pada nisan hitam Nama adalah warisan Mendesak jiwa Berpulang ke sana Bermain cinta Berpagut rindu Menabur bunga kasih   Pada kubur di lereng gunung Catatan kenangan tetap abadi Arwah putih meta Melambai tangannya Dari poco Mandasawu*) Pada debur ombak Waesugi*) Aku rindu berziarah Denpasar, 16 Pebruari 2019 _________________ Moke = Tuak, arak Maghilewa= Nama kampung tradisional Inerie = Nama sebuah gunung Poco Mandasawu= Gunung di Manggarai Timur Waesugi= Nama pantai di Malapedho

SUATU HARI BERSAMA DAMYAN GODHO

Gambar
Suatu hari di tahun 1996 saya bertemu dengan om Damyan Godho di rumah Bupati Ngada. Bupati waktu itu bapak Yohanes S Aoh. Saya saat itu bekerja di SKM DIAN sebagai wartawan.Bukan hanya dengan om Damyan kami para wartawan bertemu tetapi juga dengan om Valens Doy (Valdo). Saat itu ia perpesan, jadilah wartawan yang berani berbasis data dan kebenaran. Jangan asal menulis.  Beberapa bulan kemudian saya mengajukan lamaran ke harian Pos Kupang dan saya diterima. Saya pun ke Kupang, dan bertemu dengan Om Damyan. Kemudian saya disuruh bertemu wartawan pak Hila Japi. Saya pun mendapat tugas peliputan di Kantor Gubernur. Tapi hasil liputan saya tidak menulis karena baru kali itu saya melihat komputer.Dan saya tidak bisa mengoperasikan komputer. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Bajawa, karena lebih paham menulis berita dengan mesin ketik. Beberapa bulan kemudian Om Damyan Godho mengikuti kunker Gubernur NTT bapak Herman Musakabe ke Bajawa. Ia menyapa saya, apa kabar? ...

IN MEMORIAM GURU PIUS BATE

Gambar
Mengawali catatan ini saya berterima kasih kepada ka'e Domi Mere Wea yang menayangkan status tentang kepergian pak Pius Bate untuk selamanya. Memori saya pun kembali ke era 1977- 1979. Saya menyelesaikan pendidikan di SPGK ST. DON BOSCO Maumere Juni 1977. Setelah itu saya pulang ke kampung Maghilewa Desa Inerie Kecamatan Aimere waktu itu sebelum mekar. Tidak ada tujuan jelas mau kerja apa di kampung. Yang penting pulang ke Maghilewa.  Namun setelah sampai di Maghilewa niat menjadi guru kembali membara. Pada suatu hari Jumad saya ke Aimere dengan tujuan ke pasar. Namun langkah saya dituntun ke rumah paman Antonius Madha seorang PNS di Kantor Camat Aimere. Dalam pertemuan itu om Anton Madha bertanya kepada saya. " Tinus engkau sudah tamat SPG?" " Sudah om" " Mau kerja di mana?" Tidak tahu lagi om" " Engkau mengajar saja. Di SMP Jaramasi perlu guru." Saya pun disuruh om Anton Madha untuk bertemu ...

KEKAL

Kekal abadi Engkau pulang Ke tanah leluhur Batu mesbah Menulis namamu Kekal dan abadi adanya   Tak akan kembali Pada rumah yang fana Sebab kekal sudah Perjalananmu Meski kutangkap senyum Pada separuh mimpi yang tersisa   Kekal sudah Tak perlu tangis Agar luka tersembuhkan Sebab pada akhirnya Semua pun kekal Saat giliran tiba Denpasar, 15 Pebruari 2019

TENTANG CINTA KITA ITU

Tentang cinta kita itu Aku sudah membawamu Mengitari jalan berliku Menulis jiwa ragamu   Pada dunia berwarna   Engkau ada di seribu peristiwa Yang pernah dilahirkan Dan diabadikan    Pada siang Pada malam Pada detak jantung Kehidupan dan menuju kematian Cinta tak pernah mati Melawat sepanjang detak napas Sekalipun ada pengkhianatan   Jika cinta itu kembali menusuk nuranimu Katakan kita telah melewati jaman Tak mungkin kembali ke masa silam Kecuali ketulusan merangkai doa Lalu membiarkan pengampunan Seperti mengaliri tanah yang gersang Agar tumbuh cinta baru Yang tak bisa saling mengkhianati   Pada hidup Cinta menjadi bunga pesiarah Menuju telaga yang tenang Di sana cinta bertemu Menyatu tanpa ada waktu Untuk saling berkhianat Denpasar, 13 Pebruari 2019

PADA CINTA KITA TERMANGU

Cinta itu manusiawi Menggiurkan Menggoda Mencekam Mendebarkan Menggelisahkan Membangkitkan rindu Di setiap detak waktu   Jika cinta cuma sebatang galah Akan membawa pertentangan Membangkitkan pertengkaran Menebarkan kebencian Menghancurkan kemanusiaan Melukai jiwa dan raga Membawa perang Yang tak terselesaikan   Cinta itu malapetaka Jika tak bisa kendalikan rasa Membunuh kesakralan Kalau penuh emosi Masuk penjara Kalau cinta penuh nafsu Saling merendahkan kemanusiaan Kalau salah mengerti maknanya   Jika cinta itu buah rahmat Akan selalu ranum abadi Berakar tak tercerabut Tulus dan lurus Menjadi jalan terbentang Tanpa lekak lekuk Tanpa kelokan Penuh kedamaian Selalu saling setia Tanpa pengkhianatan   Cinta itu anugerah Menetes dari ujung jari Tuhan Di setiap saat kita menyadap Untuk menyuburkan kehidupan Agar setiap waktu Cinta dibarui Membuat aku dan kau termangu Sampai maut memi...