Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

DI PANTAI INI ADA SENJA KITA

Di Pantai Ini Ada Senja Kita Oleh: Agust G Thuru Di pantai ini ada senja kita Yang tetap setia meniduri batu hitam Mengabadikan kelumit kisah Yang pasti masih tersimpan Di pantai Waesugi Engkau pasti masih bisa bertutur Tentang angin laut yang sejuk lembut Merangkul seluruh helai rambutmu Sambil berdendang senandung cinta Bersama derai ombak senja hari Ah.... Musimnya telah berlalu Meski yang masih bisa ditangkap Adalah penggalan syair Yang pernah kudendangkan Untuk menekuk luka hatimu Waesugi, 5 Agustus 2019

PADA BIBIR PANTAI AIMERE

Pada Bibir Pantai Aimere Oleh: Agust G Thuru Pada bibir putih Pantai Aimere Sejuta helai rambut gadis remaja Berkibar pada hempas angin laut Menyapa sejuk lelaki Yang pernah mencintanya Kerling mata yang memesona Kembali menikam sukma Setelah waktu hampir punah Pada jarak waktu yang panjang Ia seolah masih tersipu malu Senyum yang masih terlalu putih Mendebarkan seperti bulan purnama Waktu itu kau terlalu sempurna untukku Meski Kita harus berdiri di antara tembok Untuk memainkan melodi rasa Sekarang aku melihat engkau Berlari memagut butir-butir pasir Mengorek kembali sisa jejak kiita Yang mungkin masih tertinggal Untuk sekedar mengenang saja Pantai Aimere, 5 Agustus 2019

SENJA MENYULAM BAJAWA

Senja menyulam Bajawa Oleh: Agust G Thuru Senja menyulam Bajawa Yang terbalut kabut Lampu-lampu kota yang muram Menyongsong malam Dalam gemetar napasnya Ini Kota seribu aksara Yang menyimpan jejak telapak Meski waktu terus berlalu Entah ada yang melupakan Karena sejarah tak bisa kembali Senja menyulam kota Pada kabut yang menguap Burung pipit merapat ke ranting bambu Lalu menikam dengan matanya Sambil senandung malam perih Yang masih tersisa Bajawa, 31 Juli 2019

BUNGLON IBU KOTA

Bunglon Ibu Kota Oleh: Agust G Thuru Bunglon-bunglon ibukota itu Kini santun sujud dalam doa cinta Seolah mau menebus dosa Dan menghapus tumpukan kebohongan Yang tercipta dari bibir penuh racun Ingin kembali jadi tulus Menguburkan bangkai busuk Yang pernah ia tebarkan Bunglon ibukota itu Berakrobat meliuk dan menikung Ia terbang dari arena pertarungan panas Ingin bertengger pada daun-daun hijau Yang pernah ia cabik penuh nafsu Dan melumatnya dengan fitnah keji Meneriakinya: kau komunis! Bunglon Ibu Kota itu Pernah meradang ketika kalah suara Meski tanpa malu pun sujud syukur Lalu menabuh genderang perang Mengerahkan manusia berakal pendek Turun memenuhi jalan aspal Sambil berteriak: Tuhan, Tuhan! Beri kami sepotong kemenangan Sebab kami sudah haus kekuasaan Bunglon ibukota itu Kini sudah tak punya rasa malu lagi Ia menjelma menjadi manusia sopan Berwajah tampan vertampang ksatria Ia menguburkan air ludah berbau busuk Lalu menebar pujian kepa...

PADA SENYAP

Pada Senyap Oleh: Agust G Thuru Pada senyap bulan diam Tak ada tarian di kertas putih Menari meliukkan tubuh Melahirkan bulir birahi berpantun Mewarna jagat imajinasi Mungkinkah napas sudah berhenti Berpacu di arena pertarungan? Jari-jari yang kaku Harus belajar lagi menghafal aksara Jiwa yang pulas dalam dekap waktu Harus dibangunkan dengan cermat Sejenak diam pada tepi permenungan Untuk menangkap lagi detak rasa Dan mengasahnya menjadi pena tajam Pada senyap jiwa Menimba butir-butir kata Yang terus berguguran dari langit Menyusunnya menjadi segumpal hati Agar bila tak ada yang bisa dibagikan Kata menjadi harta termahal Untuk diwariskan Denpasar, 26 Juli 2019

HATI YANG KERING

Hati Yang Kering Oleh: Agust G Thuru Pada hati kering saling meluka Seperti tanah berhumus Telah kita biarkan terlantar Hingga hilang yang kita banggakan Kesehajaan dan persaudaraan Kita menjadi ladang tandus Terbakar terik saling mendengki Alunan siulan alam yang memesona Terjebak di lubuk jiwa yang liar Angkuh bertarung merebut kebenaran Hati yang kering melahap garang Menghancurkan rasa kemanusiaan Saling menutup pintu jiwa Dan sengaja tak mau memahami Bahwa di tanah kita ada keragaman Kita mesti kembali bercucur keringat Menggembur tanah warisan Dan menabur benih keadaban Sambil bersekutu dalam doa cinta Agar jiwa bersiram roh persausaraan Denpasar, 23 Juli 2019

AKU INI MARTHA

Aku ini Martha Oleh: Agust G Thuru Tuhan, aku Martha Yang waktu itu sibuk Menyenangkan hati-Mu Ketika Engkau singgah Di kediamanku Aku menyiapkan hidangan Dengan menu yang istimewa Agar saat Engkau nikmati Terlontar pujian dari bibir-Mu Martha, masakanmu enak Dan aku pun dibuat tersipu Ah, ternyata Engkau punya cara lain Memandangku menurut ukuran-Mu Bukan menurut kehendakku Engkau ingin aku seperti Maria Bersimpuh di kaki-Mu Menyedengkan telinga Mendengar titah-Mu Tuhan, aku ini Martha Yang waktu itu sibuk di dapur Membiarkan Engkau berduaan Dengan saudaraku Maria Aku kini tetap sama saja Seperti tempo dulu itu Tetap sibuk dan selalu tak berwaktu Aku Martha di masa kini Sibuk mengurus rumah Dan menemani anak bimbel Sibuk dari hari Minggu ke Minggu Sampai tak ada waktu lagi Sejenak bersimpuh di kaki-Mu Mendengar denting suara-Mu Tuhan, aku ini Martha Yang waktu itu cemburu Melihat-Mu berdua-duaan Dengan saudaraku Maria Membiarkan d...

KEPADA MAS WENDO

Kepada Mas Wendo Oleh: Agust G Thuru Engkau telah memahat kata Pada berjuta jiwa Membangunkan yang pulas Agar saling menyapa Dengan kata Memahat kata bertuah Pada setiap lembar hati Untuk dijadikan amanah Melahirkan benih Dari ujung pena Yang engkau wariskan Engkau telah memahat daya pada setiap jiwa Yang mencari makna kehidupan Bahwa kata adalah akar Yang memberi sari kehidupan Pada mereka yang menekuninya Kemarin engkau tidur Dalam timangan Sang Tuhan Yang engkau jadikan pelita Pergi namun tak pernah mati Sebab kata telah engkau wariskan Untuk tetap menjadi kekal Denpasar, 20 Juli 2019

UNTUKMU

Untukmu Oleh: Agust G Thuru Untukmu sebatang pena kutitipkan Agar engkau menulis tentang cinta Yang pernah menyatu terekat erat Meski kemudian putus oleh waktu Atau mungkin karena takdir Yang Tak kuasa dihindarkan Dan yang dibiarkan sia-sia Untukmu masih ada selembar kertas Yang telah lusuh oleh waktu Ada mantra kekasih yang terus bercinta Yang belum sempat terucapkan Namun yang ia wariskan Mungkin sekedar tanda pengingat Bahwa engkau pernah mencintanya Pada suatu waktu yang pasti kau tahu Untukmu catatan diabadikan Pada seluruh nadi kehidupan Agar ketika waktu terus terbang Melintasi segala jamannya Engkau masih menangkap senyum Yang ia lesatkan dari keabadiannya Dan berharap engkau menitip doa Tanpa titik noda dan kepalsuan Denpasar, 19 Juli 2019

KEKASIH

Kekasih Oleh: Agust G Thuru Kekasih berdiri di kaki bukit Lalu memanah dengan cintanya Ia makin memesona Berbalut gaun dari gumpalan awan Dan pita salju melilit pada kepalanya Meniup seruling perpisahan kekal Kekasih terbang melampaui gunung Mengendarai angin yang terus bertiup Membawanya melingkar keabadian Membentang jalan perpisahan Tak ada jalan pulang ke kampung tua Meski masih ada lagu ratap Yang tak berhenti merindu Kekasih telah sampai waktunya Pergi ke kaki langit Ia membuka gerbang kekekalan Untuk menemukan kehidupan abadi Dan tak akan pulang kepada fana Meskipun ada rindu yang tak padam Dan potongan doa yang terus didaraskan Untuk istirahat kekal baginya Denpasar, 16 Juli 2019

KEMARAU

Kemarau Oleh: Agust G Thuru Perempuan penanak singkong Senandung di tungku berasap Telah datang kemarau Dan setetes air menjadi mahal Sedang air matanya Menjadi tak punya harga Tanah kering di bukit Tanpa tetesan embun Sungai dan waduk Tanpa nyanyian angsa Kembang teratai pun meranggas Dan air mata selaksa rakyat Menjadi pelepas dahaga Perempuan menjunjung periuk tanah Menuruni curam ke dasar lembah Telapak kakinya melukis jejak Dan menahtakan seutas keluhan Yang diwariskan pada setiap musim Tetes keringatnya tak mampu menjelma Menjadi mata air pemuas dahaga Musim kemarau kembali memecut Perempuan penanak umbi hutan Di tungku berasap ia mengatup tangan Mendaraskan litani yang belum terjawab O Dewa langit dan bumi Beri kami mata air yang melimpah Agar kemarau tetap penuh berkat Denpasar, 15 Juli 2019

ANTARA YERUSALEM DAN YERIKO

Antara Yerusalem dan Yerikho Oleh: Agust G Thuru   Di tepi jalan tubuhnya menggigil Dingin menusuk seperti mata tombak Terkapar ia dalam telanjang Bersimbah darah dan bilur duka Dalam diam membisu Dirajam angin dan terik mentari Imam berjubah putih bagai salju Penunggang keledai perkasa Menyusur tapak jalan Antara Yerusalem dan Yerikho Matanya terbuka jelajah kemewahan Membiarkan tubuh sekarat dibelit angin Sambil berteriak: Kau najis! Kemudian hening mendera Jerit derita berlalu sia-sia Tak ada mata hati yang terbuka Sekali pun sang Lewi berjubah kemilau Bersua namun tanpa sejuk sapa Berlalu dalam dekap angkuhnya Sebab jendela hati telah tertutup rapat Matahari pun senyum dalam senyap Angin cinta berhembus gemulai Tapak keledai sang Samaria Melantunkan nada-nada cinta Dan mengulurkan tangannya Pada tubuh hamba yang sekarat Bangunlah! Aku mencintaimu! Antara Yerusalem dan Yerikho Aku belajar bagaimana cara bercinta Cinta sel...

Pada Waktunya

Oleh: Agust G Thuru Pada waktunya Perjalanan akan sampai Pada rahim bumi Tanpa air ketuban Dan tiada air mata Sebab semua sudah berakhir Pada waktunya Tidur panjang dalam lelap Terayun timangan abadi Tak ada bulan malam Dan matahari pun hilang Sebab waktu telah sempurna Menyembunyikan siang dan malam Pada waktunya Seluruh kuasa dilenyapkan Kekayaan ditinggalkan Kemewahan tak bermakna Dan benang yang menutup tubuh Terberai oleh kekuatan kodrati Pulang dengan tubuh telanjang Tanpa perlu merasa malu Denpasar, 13 Juli 2019

CATATAN TENTANG IBU

Oleh: Agust G Thuru (Untuk sahabatku Kristin S)   Catatan tentang ibu Adalah catatan tentang gelora cinta Yang menyimpan banyak teka teki Tumbuh seperti mawar penuh misteri Penyerahan diri yang sukar dipahami Tetapi selalu melahirkan persona Ibu adalah ladang yang digembur Tempat menabur benih Untuk ditumbuhkan oleh waktu Membiarkan rongga jiwanya Menjadi tempat memulai kehidupan Dan menyerahkan rongga rahim Untuk sebuah ciptaan baru Ibu adalah air mata yang tercurah Di saat mesti menahan perih Melintasi jalan tepi jurang Dan ia mengulum senyum seluas dunia Di saat melangkah di tanah datar Sembari memandang buah rahim Dalam timangannya Ibu adalah air susu Yang dialirkan ke urat nadi kekasih Agar tulang menjadi kuat Dan jiwa menjadi matang Ibu adalah samudera luas Yang menyimpan segala perkara Dalam rongga rasa keibuannya Ibu adalah pengiring jalan Mengantar kekasih pada masanya Untuk menjadi diri sendiri Tanpa keluh da...

Di Kaki-Mu Tuhanku

Oleh; Agust G Thuru Di kaki-Mu luka meniriskan darah korban Tiada henti pada setiap jaman Sebab tangan yang memegang palu Menancapkan paku pada kaki-Mu Kini masih berkeliaran Bahkan berseru: Tuhan ya Tuhan! Lalu mereka pun membunuh Kejahatan adalah bau bangkai Yang meracun peradaban Sebab nyawa telah digadaikan Untuk memuaskan dahaga Bagi mereka yang terus berpesta Dengan minuman darah Sebagai pengganti anggur Di kaki-Mu luka meniris darah penyelamat Terus mengalir setiap rentang jaman Tiada berhenti meski bumi kemarau Sebab darah-Mu mengalir pasti Pada jiwa-jiwa yang setia Memeluk dunia yang penuh luka Dan tiada berhenti untuk menyembuhkan Karena Engkau tak berhenti bekerja Tuhan ya Tuhan! Kubasuh wajah dalam tirisan darah-Mu Membenam tubuh dalam liang luka-Mu Meletakkan jiwa pada luka lambung-Mu Sebab aku tahu hanya pada-Mu Kutimba air penghapusan dosa Dan pada luka-Mu darah keselamatan Tak pernah berhenti dibagikan Di kaki-Mu ak...

Catatan Sepanjang Jejak

Oleh: Agust G Thuru Di Batulumbung misteri itu tertulis Anak yang dibuang dan dipungut Tumbuh dalam timangan air baptisan Mekar dalam asuhan roh Tuhan Hidup dalam rotasi bulan dan matahari Memahat kisah dari waktu ke waktu Dan ayunan timangan sang ibunda Akhirnya harus ia tinggalkan   Ibu, bolehkah aku menjadi benih Untuk disemai di ladang garapan Agar tumbuh menjadi diri sendiri Yang tiba pada suatu ketika Dengan jiwa besar penuh keberanian Menjawab: Ya, ini aku utuslah aku!   Sang perempuan menarik nafas Ia diam meresap segala pinta ananda Menatap wajah putra tersayang Tanpa tetesan butir air mata Ada hentakan pedih perih ibunda Pada bayang-bayang perpisahan Sebab perjalanan yang ditawarkan Adalah mengarungi lautan yang ganas Pergi ke tanah seberang Jauh dari pelukan jiwa dan raga   Ibu memahat doa dalam meditasi Menemukan jawaban untuk ananda Pergilah, pergilah anakku! Sebab jika gema panggilan Telah menyus...

Tentang Berbagi

Oleh: Agust G Thuru Tentang bagaimana berbagi Aku mencatat seutas makna Dan sederet nama menyejarah Yang mewariskan cara saling mencinta Dengan cara pandang kemanusiaan Tanpa warna saling merendahkan   Bahwa berbagi itu Bukan memberi dan menerima Sebab hanya memberi saja Melahirkan benih keangkuhan Dan hanya menerima saja Melahirkan hati yang terluka   Berbagi itu bersama memberi yang ada Untuk saling menerima pada waktunya Tanpa saling menyombong harga diri Dan saling merendahkan harkat Berbagi itu mendirikan rumah bersama Agar kehidupan tetap bermartabat   Berbagi itu memberi tanpa kehilangan Menerima tanpa merasa direndahkan Saling memberi dan saling menerima Dengan ikatan batin yang kental Pada komunitas penuh persaudaraan Dalam wadah perjanjian saling setia Yang terbaptis bernama Credit Union Denpasar, 5 Juli 2019

Hatimu Pada Sunyimu

Oleh: Agust G Thuru Pada hidup bertudung sunyi Bumi ini bisu untukmu Lidahmu kemah yang tak kelu Bibirmu oase yang tetap bertuah Dan hatimu lentera yang bernyala Tak pernah padam sepanjang usiamu   Lidahmu jemari-jemari lentur Bibirmu sejuta bahasa isyarat Mata bening memancar berjuta aksara Mengalirkan pesan-pesan kemanusiaan Dalam Sunyimu Siang dan malam yang bisu Engkau hidup dalam pesona   Jika hari ini aku menatapmu Sesungguhnya sejuta kata Telah lahir dari kebisuanmu Tubuh yang berbalut rahmat Dan jiwa yang berjubah Iman Engkau sama saja dengan sesama Yang setia mendengar detak jiwamu Dan tetap mengagumimu Gianyar, 3 Juli 2019 Untuk Sahabatku Bisu Tuli  di Yayasan Kesayang Ikang Papa

Kita Itu Satu Kumpulan

Oleh: Agust G Thuru Kita Itu satu kumpulan pesiarah Bersama menumpang kapal jaman Berlayar megarungi samudera Menantang badai dan gelombang Sebab ada yang harus kita gapai Hidup dalam bingkai persatuan Dan kesatuan   Kekuatan kita adalah cita-cita Yang mesti kita raih bersama Kau tak bisa berjuang sendiri Sebab tanah warisan seluas jiwa Dan kita harus bersatu Menggarap sawah ladang dengan ramah Agar memberi rahmat yang berkeadilan   Kita harus mencungkil kemunafikan Membakar pada gundukan bara panas Agar musnah tak lagi tersisa Lalu di tanah kita tumbuh benih keadilan Dan kita dapat bercanda gurau Dalam keberagaman yang kita punyai   Kita ini satu kumpulan rasa kemanusiaan Mengalir bagai air dari liang yang sama Untuk saling melepaskan dahaga Engkau tak bisa berlari sendirian Pada lekak lekuk tanah warisan leluhur Sama seperti aku pun tak berdaya Tanpa engkau bersanding bersamaku Pada setiap lentur langkah persiara...

Doa Dalam Segenggam Harapan

Oleh: Agust G Thuru Pada segenggam harapan Aku balurkan helai-helai doa Pada-Mu kekasih hatiku Kuharap kedip mata-Mu Terus memanah jiwaku Agar tumbuh menjadi rahmat Yang pantas ditularkan   Matahari-Mu telah menyapa Selembut awan yang terus berarak Harum napas cinta-Mu Tertebar pada segala tempat Tangan-Mu yang perkasa Menuntun setiap ayunan langkah Aku rebah di kebesaran kuasa-Mu   Hari baru telah dibentangkan Seperti jembatan titian Tempat kehidupan dipertaruhkan Berpacu dalam detak waktu Yang terus mengalir dan mengalir Bersama desau roh-Mu Yang tak pernah berkesudahan   Tuhan Ini hari kusentuh umbai jubah-Mu Menuliskan litani dosa Dan oleh belas kasih-Mu Cinta-Mu bertahta pada hatiku Untuk menguasai kehendakku Agar hidup tetap dalam nama-Mu Denpasar, 29 Juni 2019

Dan Kita Bersatu

Oleh: Agust G Thuru   Kita menyatu di Prime Plaza Sanur Mendendang syair:Dan kita bersatu! Gema suara bertalu Semangat membara dalam gerakan Berteriak: Dan Kita bersatu!   Wajah-wajah dalam guratan ramah Bercanda dalam sepenggal waktu Di tanah rahmat para dewata Kita telah sama-sama melukis jejak Bahwa ada perjumpaan yang hangat Tanpa membangun tirai pembatas Sebab Kita bersatu   Gema suara mengalir dari ruang hotel Menyatu pada hati insan koperasi Yang menyambut penuh kehangatan Di saat kita bertandang Melipatgandakan senyum penuh harapan Bahwa gerakan kita akan melesat Dalam mengarung segala waktu   Dan pada akhirnya kita harus pulang Ke kanal-kanal tempat harapan ditaburkan Kembali ke ladang penuh harapan Untuk terus merawat semangat Sambil berdendang: Dan Kita bersatu!   Di Prime Plaza Sanur Sepenggal waktu kita menyatu Terus bernazar: Dan Kita bersatu! Juga ketika kita akan kembali Menghirup aroma cen...

TUBUH-MU DAN DARAH-MU

Oleh: Agust G Thuru PADA malam perjamuan terakhir itu Ah...seandainya aku ada di sana Menatap-Mu mengangkat roti Aku akan menulis getar-getar suara-Mu “Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku” Malam penyerahan total Pengorbanan tubuh yang suci mulia Adakah aku mampu menyatu raga Dengan kemuliaan-Mu? Pada malam perjamuan terakhir itu Ah...seandainya aku ada di antara para murid Menatap-Mu mengangkat cawan anggur Aku akan menulis getar-getar kemuliaan-Mu “Terimalah dan minumlah, inilah Darah-Ku” Malam membiarkan darah korban Membasuh luka-luka selaksa umat Adakah aku mampu menenggak Darah-Mu Yang tiada bernoda? Peristiwa itu telah berlalu beribu tahun Tetapi suara-Mu tak pernah akan lekang Terus merasuk jiwa dan ragaku Engkau bukan seolah-olah bertahta di hatiku Tetapi Engkau ada dalam seluruh ragaku Dan Tubuh-Mu bertahta dalam jiwaku Darah-Mu mengalir pada nadiku Meski Engkau tahu aku tak pantas Sebab berlumur dakil dosa Malam perj...

Di Tepi Danau Buyan

Oleh: Agust G Thuru Keajaiban adalah wajah-Mu Yang terlukis penuh kemegahan Pada segala lekak lekuk buana Yang Engkau jadikan Dengan hembusan napas-Mu   Bukit dan gunung Laut dan danau Tanah datar dan jurang Sungai yang meliuk ke muara Hutan dan belukar Margasatwa dan keunikannya Adalah kehadiran roh-Mu   Jika aku berdiri di sini Engkau sedang menunjukkan wajah-Mu Dalam keagungan tiada bandingan Dan tangan-Mu yang Kudus Sedang melukis segala warna Menjadikan bumi indah Untuk semua ciptaan-Mu Danau Biyan, 22 Juni 2019

Pada Ulang Tahun Presidenku

Oleh: Agust G Thuru Presiden itu pelayan Ia Joko Widodo Pekerja yang tak kenal lelah Curahkan tetes keringat untuk Pertiwi Biarkan jiwa raga menyatu rapat Dengan tanah tumpah darah   Ia telah mengubah wajah tanah air Membawa ke era penuh harga diri Jutaan rakyat telah membuka hati Membiarkan cinta mengalir Dan tersangkut pada sosok pekerja Yang tak pernah lelah   Ribuan orang pura-pura tutup pintu hati Mereka berteriak luapkan kebencian Caci maki dan sumpah serapah Fitnah dan tuduhan tanpa fakta Mereka sajikan untuk hancurkan Presiden Tetapi Jokowi tegap berdiri Karena Tuhan tahu kejujurannya   Ia membangun meski banyak orang sinis Ia bekerja meski banyak orang tak menghargai Ia mengabdi meski banyak orang bilang pencitraan Ia tak pernah goyah sedikitpun Karena memang ia Presiden pilihan rakyat Ia orang baik di jaman ini   Selamat ulang tahun bapak Jokowi Kutahu Tuhanku dan Tuhanmu Akan menambahkan kekuatanmu Ag...

Catatan Panggilan

Oleh: Agust G Thuru   Suara perutusan itu terus menggaung Pergilah kita diutus Kemana engkau mengayuh langkah? Ke tengah kemewahan ragawi Atau ke kaki bukit sunyi Tempat tapa dan doa menjadi kekuatan Dan rahmat berbuah melimpah   Berjuta mendengar gema perutusan Lalu mengayuh langkah Ke rumah-rumah mewah Tempat gelas-gelas kopi berisi kenikmatan Dan pesta ekstasi digelar Karena merasa hidup tanpa ikatan Memuja kebebasan dan kemerdekaan    Hanya sedikit mendengar panggilan Tuaian banyak tapi pekerja sedikit Memilih jalan menyepi di kaki salib Bukan karena tersesat di perjalanan Tapi yang berani menjawab Ya ini aku utuslah aku   SuaraNya sapa mengundang Mari...ikutlah Aku! Wajah-wajah jelita memilih makar Dari bulir-bulir kesenangan duniawi Menyepi di ladang anggur Agar bebas merawat dan menuai   Lebih banyak orang memberontak Menantang Tuhan: Engkau siapa? Menutup gerbang jiwa dan raga Memala...

Kepak Sayapmu

Oleh : Agust G Thuru Kepak sayapmu Kekuatan yang mengakar Dari jiwa yang membaja Dan terbanglah mengelilingi waktu Sampai saat engkau menggapai bintang Dan menggelar pesta syukuran Kepak Sayapmu kekuatan jiwa Mata air roh Yang terus mengalir Menembus tanah kering Menumbuhkan benih Menjadi pohon kebajikan Kepak sayapmu kekuatan ragawi Terbanglah mencumbu waktu Yang masih menjadi kesempatan Untuk engkau tebar benih kasih Agar tercatat pada setiap hati Yang mencintaimu Denpasar, 18 Juni 2018

BAPAK

Oleh: Agust G Thuru Bapak adalah jembatan titian Untuk jalan pada ziarah anak cucunya Menggapai langit Memetik bintang Dalam doa-doanya Bapak setia menyaksikan Saat ada peristiwa kejatuhan Ia mengulurkan tangannya Pada saat yang tepat Agar bangkit dan bersiarah lagi   Bapak senantiasa menyaksikan Anak cucu menangis putus asa Ia tidak banyak bicara Tetapi di kesendiriannya Ia berdoa untuk menumbuhkan kekuatan   Bapak juga pesiarah Yang suatu saat tepat Harus menyelesaikan tugasnya Pergi untuk mengasoh abadi Menanti sampai perjumpaan kembali   Bapa telah pergi selamanya Tapi roh masih ada dalam dada Namanya tak bisa mati Dan setiap ada kesempatan Disebutkan dalam doa dan litani Denpasar, 16 Juni 2019 Mengenang 16 Juni 2018 tahun lalu

PADA NAMA TRINITAS

Oleh: Agust G Thuru Pada nama Trinitas Aku sujud dalam sembah dan penyerahan Pada-Mu ya Bapa, Putera dan Roh Kudus Pada keesaan tiga pribadi Kemuliaan itu telah terpancar Seperti matahari memancarkan sinar Dan rembulan malam sajikan kilau langit semesta Aku kecil tak berarti dihadapan-Mu   Bapa, ya Abba Sang kehidupan kekal Engkau memegang tali pengikat jiwa kami Dan kapan saja Engkau mau Kehidupan terputuskan Tetapi kami percaya kuasa-Mu adalah jalan cinta Yang tak pernah berkesudahan Seperti cinta dan rahmat-Mu Yang terus mengalir tak pernah berkesudahan   Ya Putera Penebus yang wafat di salib hina Cinta-Mu mengalir dari seluruh liang luka-Mu Darah menebar wangian kekudusan-Mu Meresap pada setiap lembar hati Setiap umat yang percaya pada-Mu Juga mereka yang menghujat-Mu Salibkan Dia! Salibkan Dia! Dan Engkau berbalas: Kubangkitkan engkau!   Ya Roh Kudus penjiwa yang setia Hembusan nafas-Mu adalah nyala api cinta Yang me...

Kepada Penulis Puisi

Oleh: Agust G Thuru Rangkaikan sejuta kata mulai sekarang Menjadi bait-bait puisi Jika tak ada halaman buku untuk memajang Tulislah di langit mulai sekarang Untuk sebuah pewarisan Langit adalah lembaran kertas Yang tak pernah lusuh Biarpun hujan dan badai melanda bumi Sebab meskipun ada mendung Esok langit kembali cemerlang Kumpulkan sejuta kata bermakna Menjadi syair petuah untuk generasi mendatang Jika buku tak mampu menampung Tulislah di angkasa luas Sebab angkasa akan tetap pada setiap jaman Pajangkan kata-kata kearifan Pada setiap detak hasrat menulis sajak Jika tak ada halaman buku mewarta Tuangkan saja di seluruh jagat Untuk mereka tahu engkau hidup pada sebuah jaman Denpasar 16 Juni 2019 Selamat Hari Sastra NTT

MENDUNG

Oleh: Agust G Thuru Ada mendung menggelayut Pada langit berkabut Tetes hujan tempias Di kening perkabungan Dalam doa penyerahan   Pintu langit sudah terkuak Membiarkan jalan terbentang Pulang ke keabadian Untuk tak kembali lagi Sebab perpisahan sudah kekal   Mendung pada penggalan waktu Meremuk jiwa yang rindu Menggiring sukma ke liang lahat Tempat istirahatmu abadi Pada mendung aku merindumu Denpasar, 15 Juni 2019

JUNI

Oleh: Agust G Thuru Juni ini bulan musim dingin Sehelai daun yang gugur Tersangkut ia pada tempayan Yang menampung air mata Dalam luka kehilangan   Dia layu Lalu lepas dari tangkai Dan dikuburkan   Juni ini bulan sepi Daun sulung tak lagi berdesir Ia telah menua Lalu kering Dan kembali ke rahim bumi   Dia hilang Pada waktunya Pergi dan tak kembali lagi Denpasar, 14 Juni 2019

PEREMPUAN PENAKLUK

Oleh: Agust G Thuru Perempuan Penakluk itu Kakinya memijak pijar matahari Umbai jubah berjuntai selimut bara api Ia berdiri kokoh menjunjung langit Perempuan penakluk tangguh Tak tergoyahkan   Kakinya putih berkilau Menyinari seisi bumi Telapaknya menginjak ular beludak Rambutnya mengibas dengus setan Tatapan matanya lembut sejuk Menghalau lelembut pemusnah bumi   Perempuan itu mengusung bumi Pada jemarinya yang lentik Kekuatan setan dahsyat terkalahkan Tangan perempuan itu terentang Terbuka untuk merangkul isi bumi Bulir-bulir kasih sejati ibunda Terpancar menebar damai sejati   Bunda yang berbelas kasih Ibu semesta yang penuh cinta Namamu selalu disebut:Maryam! Pada setiap butir tasbih Engkau mengelus jiwa yang kesepian Mencinta dan menyembuhkan Engkau sungguh perempuan penakluk Denpasar, 13 Juni 2019

SETELAH SENJA

Oleh:Agust GT Setelah senja pasti ada jalan pulang Tak ada jalan kembali Pergi yang sudah kekal Pulang yang pasti abadi   Pulang pun sendiri Pergi pun tak berkawan Siraman air mata bukan penghangat Dan taburan bunga bukan pesona   Setelah senja malam pun berakhir Tak ada litani menyusur sepi Tak ada seteguk kopi pagi Semua larut pada senja yang berlalu Pantai Sanur, 12 Juni 2019

SYUKUR

Oleh: Agust G Thuru Masih ada detak jantung Mendekap matahari Setelah bulan usai berpuasa Dan pintu maaf terbuka Mengalirkan air surgawi Dengan pujian syukur   Sudah sampai waktunya Melangkah di jalan hijrah Setelah lelah bertualang Daun-daun kering telah gugur Saat keadaban bertunas Dalam satu bahasa cinta   Masih ada detak jantung Mendekap pahala surgawi Setelah lewati bulan bersujud Mestinya tak ada hati beku Dan semua jendela dibuka Agar hembusan roh surgawi Menjadi taruhan untuk perubahan Denpasar, 11 Juni 2019

ROH

Oleh: Agust G Thuru Ia yang melesat dari langit Menembus ubunku Menghapus duka Menyembuhkan luka   Ia cahaya cemerlang Melesat dari matahari Menembus dinding hitam Membakar segala dosaku   Ia tanpa wajah Dan tanpa suara Kekuatan-Nya menggoncang Dan aku rebah pada kuasa-Nya   Ia lidah api yang melayang dari surga Menyapa dengan bahasa cinta Berbisik dalam bahasa Roh Yang membebaskan Denpasar, 9 Juni 2019 Selamat Pentakosta

ANGIN

Oleh: Agust G Thuru Jika cumbumu meresap Pada daun di padang Sabana Hembuskan nafas cinta Agar terhapus debu yang melekat Dan kupu-kupu bebas bercinta Tanpa saling meluka   Angin musim kemarau Membasuh laknat Mencekam berang Tak saling mendekap Hilangkan suka Alirkan duka   Jika cumbumu terus mengalir Pada bunga cinta di bukit damai Hembuskan bahasa kasih Agar terhalau dendam Menghapus dengki Dan pipit di tanah perjanjian Pulang ke satu sarang Meninggalkan riak-riak liar Yang membunuh peradaban   Angin musim hujan Membasuh rindu Mencumbu jiwa-jiwa Meresap kehangatan Dalam rindu tanah air Diguyur hujan kebebasan Yang memerdekakan Angin bawa aku ke rahim ibu Mengabdi Pertiwi Renon, 7 Juni 2019

KATA DI IDUL FITRI

Oleh: Agust G Thuru Mari kita rayakan Idul Fitri Meski kita berbeda Antara engkau dan aku   Kita ada dalam bingkai keragaman Lalu kita nyanyikan lagu Di firdaus yang sama Antara aneka warna bunga Yang tiada henti bermekaran   Idul Fitri Bahagiamu Bahagiaku   Mari memungut sejuta kata Yang terberaikan waktu Untuk kita dirikan monumen Tempat kita gantungkan persaudaraan Agar mata dunia terbuka Melihat pelangi yang indah Di tanah air kita   Sejuta kata di Idul Fitri Telah tertulis di buku alam Dan aku titip satu kata Di setiap sanubari Kata DAMAI Selalu indah Dan penuh makna Denpasar, 5 Juni 2019 Selamat Idul Fitri

AYAH

(Kepada sahabatku Rm. Geradus Janga) Oleh: Agust G Thuru Ayah adalah kekuatan Nafas yang menghembuskan cinta Memberi makna pada rahim perempuan Untuk melahirkan anak-anak   Ayah memberi jalan bagi anak-anak Atas nama pilihan bebas Ia sering ada dalam tapa Dan melantun doa dengan caranya   Ayah adalah kesetiaan Yang menuntun anak-anak Dengan doa-doa yang sederhana Agar menjadi warisan paling berharga   Ayah menikmati hidup Pada sejuk lembut kampung leluhur Menyatu dengan gerit batang bambu Dan aroma kopi dari ladangnya sendiri   Ayah persembahkan buah cinta Untuk menyiang rumput di kebun anggur Dan setelah saatnya tiba Ia kembali ke pangkuan Sang Khalik   Itulah ayah Dengan kisah yang tak akan usai Meski sering dilafal atau ditulis Sebab meski mati tapi ia tetap hidup Denpasar, 2 Juni 2019 Hari Minggu Komsos Sedunia

AIR MATA CINTA

Oleh: Agust G Thuru Bening bola matamu Berbalut seribu tetes air mata Adalah sejuta kata dalam kebisuan Karena engkau mencinta   Kematian Kehilangan Abadi selalu   Jika engkau menghapus pedih Tanpa jerit perpisahan Dan meluruhkan butir-butir duka Itu pertanda merekat cinta Yang telah lama terjalin Dan kini saatnya mesti dipisahkan   Engkau telah tunjukkan jalan cinta Dari ayunan langkah pertama Hingga sampai pada batas terakhir Menulis petuah-petuah Bahwa cinta mesti sampai juga Pada batas yang tak bisa diramalkan   Kesetiaan pada bejana perkawinan Adalah suluh yang pantas digenggam Bagi generasi yang meretas jalan Membangun mahligai cinta Jika engkau meneteskan air mata Aku tahu engkau telah mengajar Tentang apa artinya kesetiaan itu Denpasar 1 Juni 2019 Kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

SELAMAT JALAN IBU ANY

Oleh: Agust G Thuru Jalan panjang telah engkau lewati Tapak demi tapak dalam rentang pengabdian Telah engkau catat satu persatu Menulis di kertas kehidupan Dengan cucuran keringat   Engkau melangkah di jalan terjal Juga melintas di tanah rata Menitipkan kata penuh cinta Dan kalimat-kalimat bertuah Untuk dikenang anak negeri Di tanah air yang engkau cintai   Separuh waktumu untuk memahat cinta Mendampingi sang pemimpin negeri kita Separuh hidupmu untuk mengabdi Bagi tanah warisan leluhur Engkau tulus memberi hidup Untuk keluhuran anak satu bangsa   Perjalananmu telah sampai di ujung lintasan Saat seluruh pengabdian diwariskan Dan telah tiba waktu yang tepat Ibu harus pulang ke pangkuanNya Namamu akan tetap tercatat pada sejarah Tentang rentang sepuluh tahun Saat aku melafal adamu Ibu negara yang setia   Kini saatnya ibu pulang Pulanglah! Sebab namamu telah tertulis Abadi di tanah air ini Berjuta rakyat yang me...

PANCASILA

Agust G Thuru Tuhan yang esa Tangan yang menenun nafas kemanusiaan Meniupkan roh keadilan Ke dalam jiwa-jiwa kehidupan Untuk cinta dan beradaban   Tuhan yang menanam pohon bangsa Menyatukan segala keragaman Memberi nama sakral: INDONESIA!   Tuhan bersemayam pada berjuta wajah Rakyat yang patuh pada perjanjian Mendirikan Mesbah tempat tumpu Berembuk dalam musyawarah kerakyatan Setia pada kepemimpinan Percaya pada penerus lidah rakyat   Tuhan itu adil Menanam keadilan pada negeri Semesta rakyat bermadah gembira Berseru: Terima kasih Tuhan Untuk sentuhan mistik kata Yang telah terangkai Dalam pigura Pancasila sakti   Denpasar, 1 Juni 2019 Selamat Hari Sakti Pancasila

2122 MEI

Oleh: Agust G Thuru Darah itu mengalir di 2122 Mei Di tanah ibu Pertiwi Darah rakyat Yang hilang sia-sia   Tubuh-tubuh yang terbujur kaku Adalah korban agitator Dari mulut ulat berbulu Yang tiada henti menebar dengki   Anak bangsa yang dikorbankan Sedang para penculas bersembunyi Mencuci tangan yang berlepot darah Sambil berteriak: Tuhan Maha Besar!   Nyawa sudah berjatuhan Para aktor satu persatu minggat Mencari nyaman di luar negeri Sambil berteriak: Aku tak bersalah!   Kamu bajingan! Pecundang! Pengkhianat! Pengecut!   Di negeri ini kami tiada henti Terus berteriak untuk persatuan Sebab Indonesia rumah kami Yang cinta damai Denpasar, 31 Mei 2019

DI ZIARAH INI

Oleh: Agust G Thuru Di Ziarah ini aku lelah Sujud pada kaki bukit tengkorak Tempat Engkau biarkan darah Seperti tetes hujan Luruh dari kayu salib   Akan kucucup bibirku Pada luka lambungMu Meneguk tetes demi tetes kasihMu Sebab telah terwariskan Penebusan dosa oleh darahMu Dan sujud imanku pada korbanMu   Aku ingin menimba Rahmat Dari luka-luka ternganga Di telapak tanganMu Agar segala noda dosa Terhapuskan dengan belas kasih Yang Engkau pancarkan Dari kayu palang penghinaan   Rebah aku pada simpul kakiMu Pada luka bekas paku karat Membiarkan bulir kasihMu Teraduk campur dengan darahMu Lalu aku membasuh wajah Agar kembali berdiam Pada bilik cintaMu   Tuhanku Di Ziarah ini aku lelah Tak berdaya Tetapi tanganMu tongkat kekuatan Menuntunku pulang PadaMu jua. Denpasar, 31 Mei 2019

CATATAN PERUTUSAN

Oleh: Agust G Thuru Suara perutusan itu terus menggaung Pergilah kita diutus Kemana mengayuh langkah?   Ke kaki bukit sunyi Tempat sesama terasingkan Oleh suhu waktu yang tak bersahabat   Atau ke rumah-rumah mewah Tempat gelas-gelas kopi berisi kenikmatan Dan pesta ekstasi digelar?   SuaraNya sapa mengundang Mari...ikutlah Aku!   Tubuh-tubuh kekar memilih makar Dari bulir-bulir Rahmat Yang telah dicurahkanNya   Banyak yang membetontak Sambil menyangsikan:Engkau siapa? Menutup gerbang jiwa dan raga   Memalak Tuhan Yang seharusnya merapat Di tahta hati nurani   Suara perutusan itu menerobos waktu Memanggil para pewarta Untuk mengayun langkahnya Ke ladang yang tak subur   Pergi ke rumah-rumah maksiat Yang menjual keringat dosa Merendahkan martabat kemanusiaan Dan Dia menantang: Beranikah kamu!   Di kolam-kolam sisi kehidupan Kegelapan melilit tanpa cinta Dan kemis...

METANOIA

Oleh: Agust G Thuru PadaMu kunci hidup atau mati Engkau masih mau menutup pintu Dan aku berdiang di unggun waktu Atau Engkau akan membuka lebar Seluas langit dan membiarkan aku terbang   Misteri ada pada cintaMu Yang sudah dialirkan Sepanjang aku menghitung waktu Membiarkan kehidupan fana Bersentuhan dengan nafas birahi Atau nyanyian Kudus di pintu surga   PadaMu aku berseru Pada kemarau yang tiba-tiba datang Mendera dan membiarkan jiwa terluka Lalu Engkau menghapus noda Dengan telapak tanganMu Mentahirkan kemanusiaanku   PadaMu sujud tobat menembus cintaMu Membiarkan air surgawi mengalir Membenam pada liang dosa Agar terhapus segala asa Dan aku kembali pada titahMu Belajar untuk bermetanoia Denpasar, 28 Mei 2019

DI PANTAI KUTA

Oleh: Agust G Thuru Di pantai Kuta napas mendesah Terbenam di butir pasir Bukit-bukit meta melambai sukma Mendaki ke puncak Sambil memejamkan mata   Ombak menjilat batu putih Yang lelah menjaring matahari Seusai meniduri pasir coklat Dan panah mata jalang Menyapu liar lekuk bidadari   Di pantai Kuta senja terpendam Merangkul angan pada pembaringan Melukai malam dahaga sepi Ah pantai Kuta di desah nafas Menggeram mengalahkan birahi Pantai Kuta, 26 Mei 2019

PUASA

Oleh: Agust G Thuru Ikatkan lidahmu Dengan temali firman Agar tidak melumur lumpur Pada sakral puasa   Kuncikan bibirmu Dengan gembok sabda Nabi Agar tidak menjadi liang terbuka Mengalirkan lahar amarah   Rekatkan jiwamu Dengan ayat-ayat suci Agar kemurkaan dilenyapkan Dan kebencian dihancurkan   Sebab puasa adalah kendali Meredam gelora nafsu Jalan pulang kepada sempurna Meski masih harus belajar hijrah Denpasar, 26 Mei 2019

DOA UNTUK TANAH AIR

Oleh: Agust G Thuru Tuhan yang penuh kasih Bangsa kami Indonesia Telah menunaikan kewajiban Memilih para wakil yang tangguh Untuk menyuarakan “suara kami” Menyuarakan suara politik kami Di tingkat kabupaten dan kota Di tingkat provinsi dan Indonesia   Kami mohon pada-Mu Jadikan mereka penebar semangat Yang menyatukan dan mendamaikan Yang adil dan penuh toleransi Menjadi penyejuk di mana ada konflik Penengah di tengah pertentangan Penghubung di kala ada jalan buntu Dan mampu berdiri di semua kelompok Menjadi sosok yang pantas diteladani   Kami mohon pada-Mu ya Tuhan Tiuplah api Roh Kudus-Mu Ke dalam hati dan jiwa raga mereka Agar hati dan pikiran mereka Menjadi tahta berdiamnya kebaikan Sehingga mereka mampu arif Menolak ajakan berbuat kejahatan Terutama kejahatan memperkaya diri Melalui tindakan koruspi   Tuhan Engkau tahu Bahwa kami telah berhasil Memilih presiden dan wakil presiden Untuk memimpin negeri kami ...

TUA

Oleh: Agust G Thuru Tua Terus meniup waktu Berlari ke ujung jalan Mendekat ke makam leluhur   Aku meresap embun cinta Yang masih terus meniris Dari mekar mawar kekasih Yang tetap setia   Tua Telah menghias perjalanan Mendekat ke batas senja Gerbang terbuka untuk jalan pulang   Aku menyerah padaMu Pada telapak cintaMu Jika hari ini ada mukjizat Aku sedang menikmati   Tua Setiap tahun selalu bertambah Aku sedang berlari ke batas waktu Suatu saat semua kata terkuburkan   Untuk hari ini Embun kasihMu terus meniris Menambahkan usia yang memanjang Di cintaMu aku bersujud Denpasar, 25 Mei 2019

JEJAK HITAMM

Oleh: Agust G Thuru Kau mengenakan jubah kebesaran Dengan banyak kantongnya Kau simpan potongan-potongan hatimu Yang tercabik-cabik taring nafsu Lalu kau muntahan lagi Di saat kau sudah mabuk   Kelelawar-kelelawar keluar pada senja Menyambutmu dengan cirit yang busuk Kelekatu-kelekatu menggiringmu Ke tengah bara api yang membakar Jubah kebesaranmu hangus terbakar Tapi kau tidak sadar karena sudah mabuk   Di ranting-ranting pohon kebenaran Berjuta Pipit menyerukan doa tobat Berharap engkau ikut merunduk kepala Dan kembali menjadi tuan yang sederhana Ternyata kau bukan saja sudah mabuk Tapi kau sudah benar-benar telah mati   Di bungkus jubah kebesaranmu Engkau tampak telanjang memalukan Di siang hari matahari menyemoohmu Dan berjuta bintang pada malam Khusuk melitania jejak-jejakmu Ternyata ada darah korban Di jejak hitammu Denpasar 20 Mei 2019 Pada Hari Kebangkitan Nasional

LIAR

Oleh: Agust G Thuru Engkau telah benar-benar liar Membantai pohon-pohon keadaban Mencabut akar-akar cinta Lalu kau tanam bibit-bibit murka Menebar benih-benih kezaliman Sambil teriak: Aku negarawan!   Kau makin liar saja Menjadi harimau menyeringai Mempertontonkan taring-taringnya Di taringmu itu Masih ada bekas darah Dari anak muda yang kau santap Mestinya kau belum lupa Atau kau sengaja lupa?   Di belantara Nusantara mana Kau sembunyikan tulang belulangnya Di kesunyian mana kau titip jasadnya Harap kau masih ingat Ketika kezaliman menyetubuhimu Dan kau menjadi setan yang buas   Sekarang engkau tetap liar Mengepal tangan dan siap perang Bukan dengan pecundang negara Tapi dengan kebuasan dirimu sendiri Di saat ambisimu kandas Dan kau menjadi kalap Masihkah kau negarawan? Denpasar, 17 Mei 2019

MATI RASA

Oleh: Agust G Thuru Di podium itu engkau berdiri Telanjang tanpa jiwa Berteriak antara taburan bunga Mengantarmu ke pemakaman Sebab engkau telah mati   Engkau meronta saat jasadmu Akan dikemas pada keranda Kau berteriak: Aku masih hidup! Dan burung-burung pemakan bangkai Mengerubungimu dalam nyanyian pesta   Engkau sudah mati rasa Meski napasmu bagai buih debur ombak Garang bagai muntahan lahar Dan matamu sedang melototi kebenaran Yang ingin engkau penggal Denpasar, 15 Mei 2019

TUHAN DI PANGGUNG POLITIK

Oleh: Agust G Thuru   Adakah Tuhan Berpolitik Oleh: Agust G Thuru Di kampung jauh di gunung Pesta demokrasi pemilu Kades digelar Calon-calon bermunculan Para pendukung berkotak-kotak Berjuang untuk menang Menyujud syukur pada Tuhan Meminta Tuhan ikut berpolitik Adakah Tuhan berpolitik?   Di Sebuah kota hiruk pikuk Pesta demokrasi Pemilu Walikota Calon-calon bermunculan Para pendukung juga berkotak-kotak Spanduk-spanduk bertebaran Slogan-slogan beraneka cita rasa Berjuang untuk menang Berteriak panggil Tuhan Ikut berkampanye di panggung demokrasi Adakah Tuhan berpolitik?   Di kabupaten beraneka ragam budaya Pesta demokrasi Pemilu Bupati Calon-calon bermunculan Para pendukung makin berkotak-kotak Kampanye memenuhi ruang publik Teriakan saling cemooh meluntur rasa Sentakan-sentakan nafas penuh amarah Berjuang untuk menang Berteriak panggil Tuhan Untuk ikut serta berkampanye Adakah Tuhan berpolitik?   Di provinsi ...

SARASWATI

Oleh: Agust G Thuru Akan aku hapus debu Pada halaman- halaman buku Yang lama melekat Ketika aku lebih suka bercinta Dengan buku-buku langit   Akan aku tulis puisi percintaan Pada helai-helai buku kehidupan Lalu kupersembahkan pada Sang Dewi Yang meniriskan ilmu pengetahuan Menjadi pahala kemanusiaan   Akan aku turut dalam syahdu Doa-doa penghormatan Padamu Dewi Saraswati Yang menenun ilmu kebajikan Pada setiap jalan hidup yang telah diretas Padangbay, 11 Mei 2019 Selamat Hari Saraswati

JALAN BERSAMA

Oleh: Agust G Thuru Jika yang kita ingin gapai Adalah keabadian Bukankah kita bisa jalan bersama Tanpa bicara perbedaan   Sebab di saat ada rasa berbeda Jalan bersama menjadi mati Kuntum cinta yang seharusnya mekar Mandul tak menghasilkan buah   Jika kita ingin damai Bentangkan rasa persaudaraan Bukan sekedar narasi semanis madu Tapi dengan nurani yang kokoh   Jalan bersama dalam keragaman Adalah mukjizat di setiap abad Berdamai dalam perbedaan Adalah kemenangan hari ini Denpasar, 10 Mei 2019

BERSULAM SAJA

Oleh: Agust G Thuru Bersulamlah sebelum pesta benar-benar usai Habiskan saja anggur di gelas Bersama-sama tanpa perlu berduka Tidak usah turun ke jalan Sebab bulan suci ini jangan dinajiskan Dengan teriakan-teriakan kedengkian    Bersulamlah sebelum panggung berpesta Dibongkar untuk dimuseumkan Habiskan saja bersama-sama Kue yang telah disediakan Sebab tanpa menjadi tuan Kamu pun bisa menanam kebajikan Di negeri yang katamu sangat dicintai   Berhentilah berdansa di atas kebohongan Sebab rakyat sudah paham Apa itu pengabdian tulus Dan apa pula perjuangan merebut kekuasaan Bersulam saja segala rasa Yang telah diseduh menjadi minuman penghangat Pada wadah yang sama: Indonesia! Denpasar, 9 Mei 2019

SUARA RASUL AWAM

Bersatulah para rasul awam Dari ujung timur dan ujung barat Dan dari ujung utara sampai ujung selatan Agar menjadi sekawanan domba Yang siap melawan ribuan harimau ganas Dan berani berteriak: Kami tidak takut   Bersatulah para rasul awam Menjadi suara yang terus bergema Di tengah Medan juang yang keras Di saat suara-suara yang menyobek nurani Akan seringkali menjadi sarapan Bahkan menjadi makan siang dan makan malam Yang tak punya nilai rasa Sebagai anak satu ciptaan   Di saat rasul awam membuka telinga Engkau akan mendengar celoteh memantik iman Sepadang kata berbau darah perang saudara Akan seringkali menjadi bara api Yang membakar nurani Mestikah kita mengasah parang Untuk berperang demi agama?   Suara rasul awam Adalah gema ribuan tahun Yang pernah membalur padang penuh belalang Dan teriakan mendebarkan: Bertobatlah! Meski taruhannya adalah nyawa Yang tak akan diperhitungkan Sebagai sesama Citra Allah   ...

CINTAMU TERUS BERNYALA

Oleh: Agust G Thuru Di tengah dunia yang penuh luka CintaMu terus mengalir Dari kerahiman ilahi Ya Tuhan pelita hidup kami Di tengah kegelapan Sinarilah kami dengan RohMu Agar hidup kami menjadi Rahmat Bagi sesama yang kami jumpai Pada hari baru ini Di tengah hidup kami di dunia Yang penuh pertentangan Hadirlah selalu ya Tuhan Untuk mengubah kebencian Menjadi cinta yang menyala-nyala Untuk memadamkan api permusuhan Menjadi  api cinta yang menghangatkan Tuhan Yesus kami tahu CintaMu terus bernyala di dunia Nyalakan api cinta dalam hati kami Agar semakin mampu Mencintai sesama kami. 07052019

WAE SUGI DI MALAPEDHO

Wae Sugi di Malapedho Buih ombak menulis rindu Pada batu hitam Di ranting kering pohon waru Masih adakah kain tenun Dan bekas tangan ibu Yang dulu kusangkutkan di dahannya?   Ombak itu tak berubah sejak dulu Tubuh yang meliuk-liuk itu Adalah tubuh anak kampung Yang tak malu telanjang Berdansa pada riak ombak Dengan pikiran yang tetap kudus   Wae Sugi selembar tasik Berkisah tentang kedamaian Setapak jalan cinta Menyimpan seribu kenangan Anak-anak pesisir Paupaga sampai Kelitei Seperti pelikan berhias bulu perindu Pernah sejenak singgah Dan menyandungkan lagu bercinta   Wae Sugi pada sepotong rindu Aku mengenang sejemput anak rambut Yang berkibar ditiup angin Dan di atas batu itu kita pernah berdiri Menghitung seluruh jejak yang tercipta Ah, semua itu sudah ada di masa lalu Tak mungkin kembali ke masa kini.*** Hotel Aston, 5 Mei 2019 Foto: Rm.Geradus Janga,Pr

KETIKA PESTA HAMPIR USAI

Oleh: Agust G Thuru Pesta sudah hampir usai Meski masih meninggalkan luka Luka karena irisan kata setajam sembilu Yang mengalir dari bibir yang sengaja lupa Atas titah kehormatan martabat kemanusiaan Lupa pada kehangatan cinta yang memanusiakan Yang sengaja membiarkan bejana persaudaraan Tak mesra lagi dalam kebersamaan Menikmati jamuan pada meja makan yang sama Meja makan INDONESIA   Pesta kali ini sungguh melelahkan Menghentak-hentakkan denyut jantung Mengalirkan sejuta kata sumpah serapah Memacu denyut nadi kemarahan tanpa takaran Melilit sekujur tubuh anak-anak bangsa Menyulam wajah menjadi ganas Hanya untuk mendapat kesempatan lebih besar Atas porsi hidangan yang disediakan Tak perduli siapa masih lapar bahkan terkapar Sebab soal makan sampai kenyang Sudah terlanjur menjadi tujuan segala perjuangan   Pesta kali ini menampilkan kisah buram Diksi-diksi yang tercipta telah menjadi mata tombak Untuk saling menikam ulu hati Nyaris ta...

DOA HARIAN 2

Oleh: Agust G Thuru Tuhan Yesus Dari kaki salibMu Doa-doa cinta kami panjatkan Karena kami mencintaiMu   Meski kami sering lemah Jatuh dalam dosa Namun kami percaya selalu Engkau penuh belas kasih   Tuhan Yesus kami mencintaiMu Ajarkan kami hari ini Mencintai sesama kami Bahkan kepada semua orang Yang bersalah kepada kami Tuhan Yesus dengar pinta kami 02052019

TAK AKAN ROBOH

Oleh: Agust G Thuru Seribu mulut menjadi sembilu Lalu saling mengiris dan melukai Luka ini terasa ngilu Meneteskan air mata Menitikkan keringat lelah   Ada yang tertawa sampai mabuk Menari meliuk di sangkar sempit Menepuk dada: Aku pahlawan! Dan mengaku negarawan Dalam ikatan temali kepalsuan   Doa-doa dan sumpah serapah Beralaskan kitab Kudus Mengundang Tuhan Untuk menenggak anggur kecurangan Agar ikut menjadi pemabuk   Sungguh aneh pesta ini Telah hilang jalan waras Sedang yang waras terus berdoa Agar fundasi nurani bangsa Tak akan roboh oleh kebodohan Denpasar, 29 April 2019

TIDURLAH DI LUKA LAMBUNG-NYA

Oleh: Agust G Thuru Liang lahat telah kami timbun Tempat kamu berbaring abadi Pusara telah menjadi bukit kecil Tempat kamu tidur kekal Menanti hari terakhir Untuk bangkit bersama-Nya   Ceceran darah kamu di Gereja itu Telah mengering dalam kebisuan Tapi sejarah sudah mencatat Detik-detik kamu meregang nyawa Ketika ledakan bom pemusnah Tak mungkin kamu tangkal Dengan daya kemanusiaanmu   Untaian doa di detik terakhir Adalah air pembaptisan yang membasuhmu Menghapus segala dosa dan kelemahanmu Dan Tuhan yang kamu sembah di Minggu Paskah Menjemput kamu semua Dan menjadikan luka lambung-Nya Tempat berdiammu yang penuh kedamaian   Tidurlah saudara-saudariku Tidurlah dalam Timangan Tuhanmu Biarkan kami menutup liang lahatmu Agar daging dan tulang belulangmu Kembali menyatu dengan bumi negerimu Tanah air Srilanka yang engkau cintai Dan pada gundukan pusaramu Kami tancapkan salib kemenangan   Tidurlah abadi Di luka lamb...

DARAH-MU DI MINGGU PASKAH

Oleh: Agust G Thuru Jika jumad agung darah-Mu tertumpah di Bukit Tengkorak Itu darah penebusan yang mengaliri hati yang gersang Seperti oase yang tak pernah kering di padang gurun Meskipun kebencian pada-Mu tak pernah berakhir   Jika Minggu pagi makam-Mu kosong Dan perempuan-perempuan menangis di liang kubur-Mu Para malaikat membaca puisi tentang kebangkitan-Mu Meredakan berita kebohongan jenasah-Mu digarong   Di Minggu pagi itu ya Tuhan Di saat dunia merayakan Engkau bangkit Di saat sama bau mesiu menyambut-Mu Ledakan bom merobek tubuh-Mu Darah-Mu dan darah hamba-hamba yang sujud berdoa Menyatu dalam duka duniawi Menjadi prahara kejahatan kemanusiaan   Minggu paskah Engkau ada di Gereja ratusan umat-Mu Di kota Colombo mengidungkan syair tentang kebangkitan-Mu Setelah itu Engkau dan tubuh para hamba-Mu remuk oleh kebengisan mereka yang hatinya telah mati   Tuhanku aku percaya Darah-Mu di Minggu paskah Menyatu d...