KEMARAU

Kemarau
Oleh: Agust G Thuru

Perempuan penanak singkong
Senandung di tungku berasap
Telah datang kemarau
Dan setetes air menjadi mahal
Sedang air matanya
Menjadi tak punya harga

Tanah kering di bukit
Tanpa tetesan embun
Sungai dan waduk
Tanpa nyanyian angsa
Kembang teratai pun meranggas
Dan air mata selaksa rakyat
Menjadi pelepas dahaga

Perempuan menjunjung periuk tanah
Menuruni curam ke dasar lembah
Telapak kakinya melukis jejak
Dan menahtakan seutas keluhan
Yang diwariskan pada setiap musim
Tetes keringatnya tak mampu menjelma
Menjadi mata air pemuas dahaga

Musim kemarau kembali memecut
Perempuan penanak umbi hutan
Di tungku berasap ia mengatup tangan
Mendaraskan litani yang belum terjawab
O Dewa langit dan bumi
Beri kami mata air yang melimpah
Agar kemarau tetap penuh berkat

Denpasar, 15 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU