KETIKA PESTA HAMPIR USAI


Oleh: Agust G Thuru

Pesta sudah hampir usai
Meski masih meninggalkan luka
Luka karena irisan kata setajam sembilu
Yang mengalir dari bibir yang sengaja lupa
Atas titah kehormatan martabat kemanusiaan
Lupa pada kehangatan cinta yang memanusiakan
Yang sengaja membiarkan bejana persaudaraan
Tak mesra lagi dalam kebersamaan
Menikmati jamuan pada meja makan yang sama
Meja makan INDONESIA

 

Pesta kali ini sungguh melelahkan
Menghentak-hentakkan denyut jantung
Mengalirkan sejuta kata sumpah serapah
Memacu denyut nadi kemarahan tanpa takaran
Melilit sekujur tubuh anak-anak bangsa
Menyulam wajah menjadi ganas
Hanya untuk mendapat kesempatan lebih besar
Atas porsi hidangan yang disediakan
Tak perduli siapa masih lapar bahkan terkapar
Sebab soal makan sampai kenyang
Sudah terlanjur menjadi tujuan segala perjuangan

 

Pesta kali ini menampilkan kisah buram
Diksi-diksi yang tercipta telah menjadi mata tombak
Untuk saling menikam ulu hati
Nyaris tanpa belas kasih
Narasi-narasi yang diramu telah menjadi air bah
Yang meluap dari kolam hati
Tanpa cita rasa persaudaraan
Meluluhlantakkan kasih sayang sejati
Menghancurkan nilai keberagaman
Hanya untuk satu tujuan: Aku harus menang!

 

Pesta kali ini menyuguhkan warna hitam putih
Ada teriakan-teriakan memanggil Tuhan
Agar Ia turun dari langit biru
Untuk turut serta menyantap hidangan lezat
Di panggung pementasan
Agar Tuhan memberi roti kemenangan
Supaya Ia tetap disembah
Pesta ini telah menjungkirbalikkan akal sehat
Banyak yang mabuk dan tak waras lagi
Sedangkan yang masih waras bertepuk dada
Sambil berdoa: Ya Tuhanku dan Allahku!

 

Pesta ini memang akhirnya memilih dan memilah
Ada yang menang dan ada yang kalah
Ada pecundang dan ada yang dicundangi
Ada pecurang dan ada yang dicurangi
Ada yang tidak waras dan ada yang masih waras
Ada yang legowo menerima kekalahan
Dan ada yang tidak sudi menerima kekalahan
Bahkan masih terus berpesta
Meski pesta sudah hampir tiba pada klimaksnya

 

Pesta memang sudah dipentaskan
Jalan menuju tahta masih sedang dirancang
Menunggu titah siapa menang dan siapa kalah
Tapi hari ini rasul awam sadar dan berserah
Pada pilihan jujur hati nuran rakyat
Bersyukur atas kemenangan di tengah tantangan
Dan menerima kekalahan dengan jiwa besar
Sambil merancang jalan sutra
Menuju pesta yang sama lima tahun mendatang
Berteriaklah rasul awam: Kami kalah suara!
Tapi kami telah menang melawan ketakutan
Dan sukses menghancurkan momok “minoritas”
Di negeri kami sendiri.***

Keuskupan Denpasar, 4 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU