Oleh: Agust G Thuru
Suara perutusan itu terus menggaung
Pergilah kita diutus
Kemana engkau mengayuh langkah?
Ke tengah kemewahan ragawi
Atau ke kaki bukit sunyi
Tempat tapa dan doa menjadi kekuatan
Dan rahmat berbuah melimpah
Berjuta mendengar gema perutusan
Lalu mengayuh langkah
Ke rumah-rumah mewah
Tempat gelas-gelas kopi berisi kenikmatan
Dan pesta ekstasi digelar
Karena merasa hidup tanpa ikatan
Memuja kebebasan dan kemerdekaan
Hanya sedikit mendengar panggilan
Tuaian banyak tapi pekerja sedikit
Memilih jalan menyepi di kaki salib
Bukan karena tersesat di perjalanan
Tapi yang berani menjawab
Ya ini aku utuslah aku
SuaraNya sapa mengundang
Mari...ikutlah Aku!
Wajah-wajah jelita memilih makar
Dari bulir-bulir kesenangan duniawi
Menyepi di ladang anggur
Agar bebas merawat dan menuai
Lebih banyak orang memberontak
Menantang Tuhan: Engkau siapa?
Menutup gerbang jiwa dan raga
Memalak Tuhan
Yang seharusnya merapat
Di tahta hati nurani
Sebagian tak bertahan di kesepian
Meski di ladang anggur buah Rahmat melimpah
Kembali ke tengah hidup yang tak bersahaja
Dan berdoa: Tuhan minta maaf!
Sebab mati raga kandas di perjalanan
Suara perutusan itu menerobos waktu
Memanggil para jelita
Untuk mengayun langkah
Ke ladang anggur yang senyap
Membiarkan diri menjadi mempelai
Sambil belajar setia dari waktu ke waktu
Kalian telah menapak jalan salib
Menyusuri perhentian demi perhentian
Merasakan suka dan duka
Menerima jalan panggilan hidup
Jika waktu itu kalian mengikrar setia
Maka hari ini adalah catatan kesetiaan
Dua puluh lima tahun harga sebuah cinta
Pada Tuhanmu
Denpasar, 20 Juni 2019
Untuk anakku Sr. Elsy, CIJ dkk
Selamat Pesta Perak Untuk Sebuah Kesetiaan
Komentar
Posting Komentar