TENTANG PURNAMA YANG MENANGIS


Aku melihat bulan purnama bertengger di langit senja
Bersimbah air mata dalam ratapan menjelang malam
Menyaksikan berjuta tangan saling mendera
Saling menusuk dengan mata tombak tumpul
Tanpa melukai tapi saling menyakiti

 

Aku memanggil bulan purnama
Dari datar bumi yang berbalutkan duka meski tanpa darah
Mengapa menangis purnama berwajah keadilan?
Ia bisu saja tetapi aku dapat menangkap isi hatinya
Ia merintih: Bumimu telah ditabur racun saling berkhianat
Telah hilang sopan santun dan keadaban

 

Aku memandang wajah bulan purnama
Memancar cahaya damai dan teduh pada seisi jagat raya
Tapi air matanya bagai hujan luruh tiada henti
Ia seolah sedang menyemooh kebodohan dan kedegilan anak manusia
Yang membiarkan diri terperangkap pada jerat-jerat menggapai kekuasaan
Dengan saling melukai meski tidak saling mematikan

Denpasar, 25 Maret 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU