MENEMUKAN YANG HILANG



Telah hilang di kelam sunyi
Madah jiwa yang disanjung-sanjung
Akhirnya kita sama-sama berkhianat Pada perjanjian suci Yang kita tulis bersama Pada wajah bulan percintaan 

 

Kita akhirnya cuma bisa mengenang
Bahasa damai yang kita pahatkan
Pada tiang-tiang batu di kampung leluhur
Walau mungkin akan tetap diwariskan
Tetapi generasinya akan membaca
Bercak darah perseteruan
Mereka akan berteriak:Bajingan!
Sebab yang kita wariskan
Adalah luka-luka kemanusiaan

 

Telah hilang roh keadaban
Pada musim pesta pengantin
Birahi fanatisme menggempur liar
Menenggelamkan perahu para penumpang
Yang sedang berlayar sambil berdoa
Minta hujan rahmat dari pintu langit
Agar luka-luka tersembuhkan

 

Telah hilang air mata cinta
Berganti tetes darah yang tumpah sia-sia
Kertak gigi bercampur ludah kebencian
Telah menjadi bendera hitam
Berkibar di langit biru
Pada musim kematian hasrat dan akal 

 

Kapan kita berbenah dan kembali
Ke pelukan ibu yang menyusu
Tanpa naluri kebencian?
Mari kita menemukan api cinta
Untuk kita hangatkan persaudaraan
Satu selamanya

Denpasar, 1 Maret 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU