Suatu hari seorang calon pemilih
menyatakan rasa kecewanya karena pilihan politik CALEG yang didukungnya
tak sesuai dengan keinginannya. "Saya kecewa dengan pilihan politik
Caleg karena berseberangan dengan keinginan saya. Jadi dengan berat
hati saya tidak memilihnya", ujarnya.
Saya coba menggali apa
alasannya. Ia mengatakan pilihan kendaraan politik dari caleg tersebut
tidak sesuai keinginannya. Soalnya partai politik caleg itu
berseberangan dengan Capres dukungannya: Joko Widodo.
Saya pun berusaha menjelaskannya. Bahwa yang dia pilih adalah Caleg
bukan partai. Yang akan menjadi wakil adalah CALEG itu bukan PARPOL.
Sebab partai cuma kendaraan yang membawa caleg ke tempat tujuan.
Seandainya Pileg dan Pilpres diselenggarakan berbeda hari seperti yang
lalu-lalu, mungkin pertimbangan untuk tidak memilih CALEG yang diusung
parpol yang tak simpatik bisa dipahami. Sebab jumlah suara parpol
menentukan dukungan terhadap figur capres. Tetapi dengan PEMILU SERENTAK
ini. jumlah perolehan suara parpol tidak penting lagi selain hanya
supaya parpol memiliki legitimasi rakyat dan lolos ambang batas
persyaratan bisa ikut PEMILU lima tahun berikutnya.
Bagi saya,
jujur saja saya tidak punya pilihan terhadap satu pun partai politik.
Tetapi saya punya pilihan Caleg dan Capres. Pilihan caleg DPRD Kota
Denpasar, Provinsi Bali, DPR RI dan DPD RI. Saya memilih wakil saya,
yang saya suka, yang saya percaya, yang saya kenal, bukan partai
politik.
Jadi saya tidak perduli dia di parpol apa. Yang saya
perduli adalah DIA YANG SAYA PILIH ITU bersih, jujur, energik, merakyat,
tidak sombong. Dan itu ada dalam diri YYDIAZ. Sudah jelas pilihan
politik saya untuk DPRD BALI adalah YYDIAZ. Di Kota Denpasar, DPR RI
dan DPD ada di kantong baju saya. CAPRES CAWAPRES? Jelas JOKOWI.
MA'ARUF.
SALAM SINERGIS BERDAYA UBAH
AGUST G THURU
Komentar
Posting Komentar