(Percakapan Imajiner Dengan Leluhurku)
Aku gerah bertahta di rumah adat
Yang engkau bangun dengan jiwa yang tidak tulus
Meski telah ditanda tabuhan adat gong gendang
Dengan korbankan ratusan hewan
Darah babi dan kerbau tak membuat leluhurmu dipuaskan
Sebab rumah adat yang engkau dirikan
Bukan istana tempat leluhurmu bersemayam
Apa salahku leluhur-leluhur?
Aku sudah membangun rumah adat kokoh dan megah
Tiang-tiang batu alam telah kuganti dengan tiang-tiang beton yang lebih kokoh
Dinding-dinding papan telah kuganti dengan batu bata
Atap alang-alang telah kuganti dengan bilah baja
Rumah tempat leluhur bersemayam lebih megah dan mewah
Dari turun temurun leluhurmu mewariskan petuah
Kamu harus tetap bergerak maju seturut waktu
Terus mengalir seturut perubahan jaman
Tetap hidup seturut tuntutan peradaban
Tetapi yang leluhurmu pinta
Biarkan istana para leluhurmu kokoh
Seperti saat jemari tangan para leluhurmu merajutnya
Apa yang salah dengan rumah adat yang telah aku dirikan?
Jawablah Leluhurku agar aku membenah lagi
Sebab aku telah menabur mahar sangat mahal
Menggelar rangkaian upacara penghormatan
Demi taat pada ajaran yang diwariskan
Lihat aku ini leluhurmu
Aku gerah bertahta di rumah adat yang engkau bangun
Di musim hujan aku kehilangan keheningan
Di saat butir hujan menghempas atap rumah adat
Dan di musim kemarau aku gerah panas membakar
Adakah engkau ikut merasakan?
Aku merunduk sedih
Tak mampu menatap wajah Leluhurku
Ketika suaranya menggemuruh seperti gunung runtuh
Bersabda: Susunlah kembali rohku
Yang telah engkau cerai beraikan
Kumpulkan roh leluhurmu
Pada satu kampung dalam balut kemanusiaan
Agar seluruh upacara menjadi layak dan bermartabat
Aku terjaga dari malam panjang Mengusap hasrat dan mendesah:
Aku hanya bermimpi!
Tetapi akan kujadikan permenungan
Mungkin aku telah berkhianat
Pada kehendak para leluhurku
Denpasar, 16 April 2019
Komentar
Posting Komentar