Oleh: Agust G Thuru
Pengadilan sesat di istana Pilatus adalah maut yang harus Engkau tanggung
Palu pengadilan tidak adil telah diketuk dan tak bisa ditawar lagi
Teriakan salibkan Dia telah menjadi pemenang dan Engkau diam dalam pasrah
Serdadu-serdadu pun kerasukan
menyiksa-Mu
Dalam nafsu pembunuhan yang buas
Salib berat telah disediakan untuk-Mu
Engkau harus memanggul seturut ritual yang mereka kehendaki
Berjalan menyusuri lorong kota diiringi teriakan histeris kebencian yang
meluap-luap
Di bawah terik matahari yang
memanggang luka-luka sekujur tubuh-Mu
Engkaupun jatuh dan serdadu-serdadu menyeret-Mu sambil teriak: Bangun!
Di tepi jalan ibu-Mu menatap dalam duka nestapa yang mendalam
Beradu pandang dalam gelora kasih antara ibu dan anaknya
Memandang-Mu memanggul salib berat dan melangkah tanpa mendesah
putus asa
Membiarkan Simon dari Kirene mengambil bagian dari penderitaan-Mu
Dan memberi tanda kuasa-Mu saat Veronika mengusap wajah-Mu
Engkau bangkit dari jatuh-Mu untuk kedua kalinya memandang perempuan-perempuan yang menangisi-Mu
Dengan suara-Mu selembut salju Engkau menasihati: Janganlah menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu dan anak-anakmu
Lalu kembali melangkah dan jatuh ketiga kalinya
Serdadu-serdadu merajam sekujur tubuh-Mu tanpa belas kasih
Melucuti pakaian-Mu dan memaku-Mu pada kayu salib
Membiarkan kematian menjemput-Mu dengan cara yang mereka kehendaki
Di bukit Golgota mereka tegakkan
kayu salib
Bersama olokan: Inilah Raja
Orang Yahudi!
Engkau wafat dalam kemuliaan dan
mujizat kegelapan mencekam dunia
Jalan salib-Mu maha berat
Darah dari luka-Mu mengalir membasahi jalan dari istana tempat Engkau diadili sampai di Golgota
Mengering terpanggang sinar matahari
Terinjak-injak telapak kaki para serdadu
Mereka yang berbalik memandang-Mu dan berkata: Memang Dia anak Allah!
Sekarang ya Tuhan
Aku melihat darah-Mu menetes di
sepanjang jalan penuh luka-luka dunia
Luka-luka dosa karena kami saling membenci dan membiarkan belaskasih berlalu tanpa kami sadap untuk
puaskan jiwa yang penuh tobat
Sekarang ya Tuhan
Kami menatap luka-Mu di sekujur tubuh yang kudus tetapi kami enggan
menjamah-Mu
Bola mata-Mu memancarkan Roh
penghiburan:Jangan takut sebab Aku menyertai kamu sampai akhir jaman!
Tetapi kami tak mampu menangkap tanda keselamatan dari-Mu
Sekarang ya Tuhan
Kami sujud di bawah salib-Mu yang kudus untuk berserah diri
Sebab kami tahu darah dari luka-Mu menyelamatkan kami dari maut
Sebab pada-Mu ada jalan menuju
kekal abadi
Kelak kami peroleh kebahagiaan
bersama-Mu di Firdaus
Denpasar, 3 April 2019
Komentar
Posting Komentar